8 Fakta Menarik 6 Bulan Perang Iran dan AS dalam Angka

8 Fakta Menarik 6 Bulan Perang Iran dan AS dalam Angka

Global | sindonews | Sabtu, 29 Agustus 2026 - 20:20
share

Tepat enam bulan yang lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan pertama mereka terhadapIran, menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei di Teheran serta menghantam situs-situs nuklir dan militer di seluruh negeri.

Serangan-serangan tersebut memicu Iran untuk mulai menyerang aset militer dan infrastruktur AS di negara-negara Teluk—dan mendorong kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah, untuk menembakkan roket ke wilayah utara Israel. Hal ini memicu respons Israel yang terjadi hampir setiap hari sejak saat itu dan, pada satu titik, menyebabkan Israel menguasai seperlima wilayah Lebanon.

Sejak saat itu, tidak ada pihak yang berhasil mengungguli lawannya secara signifikan. Iran memanfaatkan kendalinya atas Selat Hormuz untuk menekan Washington dan pasar energi global, sementara konflik ini terjebak dalam kebuntuan yang belum terpecahkan meski telah dilakukan perundingan selama berbulan-bulan.

8 Fakta Menarik 6 Bulan Perang Iran dan AS dalam Angka

1. Setidaknya 7.900 Orang Tewas

Menurut angka resmi terbaru, setidaknya 4.350 orang dipastikan tewas di Lebanon, 3.527 di Iran, dan 28 di negara-negara Teluk sejak perang dimulai pada 28 Februari.

Selain itu, 60 warga Israel dan 18 anggota militer AS tewas dalam serangan Iran. Pentagon menyatakan bahwa 757 personel AS terluka.Angka-angka ini dihimpun dari kementerian kesehatan nasional dan badan-badan resmi, serta dapat berubah seiring perkembangan situasi dan ketersediaan informasi lebih lanjut.

2. Lebih dari 5.500 serangan

Menurut Armed Conflict Location and Event Data Project (ACLED), sebuah kelompok pemantau konflik yang berbasis di AS, AS dan Israel telah melancarkan setidaknya 3.580 serangan terhadap Iran sejak 28 Februari. Dalam periode yang sama, Iran melancarkan setidaknya 2.053 serangan di wilayah Teluk dan kawasan Timur Tengah yang lebih luas.

3. Hormuz: Dari 100 kapal Per Hari Menjadi Tujuh

Sebelum perang, setidaknya 100 kapal melintasi Selat Hormuz setiap harinya—lebih dari separuhnya adalah kapal tanker—yang mengangkut puluhan juta barel minyak, serta liquefied petroleum gas (LPG) dan produk petrokimia lainnya.

Kondisi tersebut runtuh hanya dalam beberapa hari setelah perang dimulai. Setelah IRGC mengumumkan penutupan selat pada 2 Maret, lalu lintas kapal turun menjadi rata-rata lima kapal per hari dan tetap di angka tersebut selama masa gencatan senjata bulan April serta blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Kesepakatan sementara tanggal 17 Juni sempat meningkatkan rata-rata harian menjadi 20 kapal—meskipun jumlah ini masih hanya seperlima dari lalu lintas normal—sebelum AS kembali memberlakukan blokade pada 14 Juli dan lalu lintas kapal merosot kembali ke angka lima per hari.

4. 70 Serangan Terkonfirmasi terhadap Kapal

Serangan terhadap puluhan kapal juga menjadi penyebab penurunan aktivitas pelayaran.

Menurut Organisasi Maritim Internasional (IMO), terdapat 70 insiden terkonfirmasi yang melibatkan kapal di Selat Hormuz, yang mengakibatkan tewasnya 19 pelaut hingga tanggal 26 Agustus.

5. Perang Menelan Biaya USD37,5 Miliar bagi AS

Bulan lalu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan dalam sidang Senat bahwa perang tersebut sejauh ini telah menelan biaya US$37,5 miliar; angka ini naik dari sekitar USD25 miliar pada akhir April dan sekitar US$30 miliar pada bulan Juli. Ia mengatakan total biaya tersebut mencakup gaji, operasi, pemeliharaan, dan perkiraan biaya hingga akhir tahun anggaran pada 30 September.

Angka sebenarnya kemungkinan lebih tinggi. Media AS melaporkan perkiraan internal Pentagon berkisar antara USD80 miliar hingga USD100 miliar, termasuk biaya perbaikan pangkalan AS yang rusak, penggantian pesawat yang hancur, dan pengisian kembali stok senjata.Pemerintah belum memublikasikan rincian biaya secara terperinci.

6. Harga Minyak 22 Persen Lebih Tinggi

Sejak dimulainya perang, harga minyak mentah Brent telah naik sekitar 22 persen, dari USUSD72,48 per barel menjadi USD88,58 pada 28 Agustus. Harga sempat mencapai puncaknya di angka US$120,88 pada 30 April, atau 67 persen lebih tinggi dari tingkat sebelum perang, setelah enam bulan perdagangan yang fluktuatif.

7. Cadangan Minyak AS Turun Drastis hingga 14 Persen

Cadangan Minyak Strategis AS—stok darurat minyak mentah milik pemerintah—telah turun menjadi 290 juta barel; jumlah ini mencakup sekitar 41 persen dari kapasitas total 714 juta barel dan merupakan tingkat terendah sejak November 1982.

Negara-negara lain juga telah melepas cadangan mereka. Komitmen AS merupakan bagian terbesar dari pelepasan terkoordinasi sebanyak 400 juta barel yang disepakati pada 11 Maret oleh 32 negara anggota Badan Energi Internasional (IEA)—pelepasan stok darurat terbesar dalam sejarah badan tersebut.

8. Popularitas Trump Turun 33 Persen

Tingkat dukungan publik terhadap Trump telah turun ke titik terendah selama masa kepresidenannya. Sebuah jajak pendapat Reuters/Ipsos, yang berakhir pada 24 Agustus, mendapati bahwa 33 persen warga Amerika menyetujui kinerjanya di Gedung Putih dan 65 persen tidak menyetujuinya; angka ini menyamai tingkat terendah yang pernah tercatat pada Desember 2017 di masa jabatan pertamanya.

Jajak pendapat tersebut menemukan bahwa 80 persen warga Amerika—termasuk 87 persen dari Partai Demokrat dan 71 persen dari Partai Republik—berpendapat bahwa keterlibatan AS di Iran "akan berlangsung dalam jangka waktu yang lama". Hanya 16 persen yang memperkirakan hal itu akan berakhir dalam hitungan minggu.

Topik Menarik