Netanyahu Sesumbar Tak Takut Ditangkap oleh Banyak Negara karena Dilindungi Pasukan Khusus Israel
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu sesumbar bahwa dia tidak gentar ditangkap oleh banyak negara berdasarkan surat perintah penangkapan yang dikeluarkan Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Alasannya, pasukan khusus Israel akan melindunginya jika ada negara yang mencoba menangkapnya.
"Itu memang membuat saya memikirkannya. Misalnya, saat Anda bepergian ke luar negeri, semoga saja tidak terjadi, tetapi jika Anda mengalami keadaan darurat medis dan harus mendarat di negara yang mengakui ICC, hal itu bisa menimbulkan masalah. Apakah Anda khawatir soal itu?" tanya pembawa acara Fox News sekaligus sahabat pribadi Netanyahu selama puluhan tahun, Sean Hannity, dalam sebuah wawancara yang dilansir Rabu (29/7/2026).
Baca Juga: Takut dengan Ancaman Iran, Netanyahu Diam-diam Terbang ke AS Temui Trump
"Ya, saya memikirkannya," jawab Netanyahu. "Tapi kami punya pasukan khusus. Saya sendiri pernah bertugas selama lima tahun," lanjut dia.
"Pasukan Pertahanan Israel (IDF) cukup tangguh," sambung Hannity, merujuk pada militer Israel.
"Ya. Berikan saja mereka tugas baru," balas Netanyahu.
Pekan ini, Netanyahu melintasi wilayah udara sejumlah negara anggota ICC dalam perjalanan menuju Washington. Hal itu memicu kritik dari berbagai pihak yang menuduh pemerintah negara-negara ICC tersebut membantu seorang pemimpin yang berstatus buronan internasional.Netanyahu berangkat dari Israel menggunakan pesawat resmi pemerintah yang dikenal sebagai Wing of Zion pada Senin, menjelang pembicaraan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih pada Selasa.Data pelacakan penerbangan menunjukkan pesawat tersebut melintasi wilayah udara Yunani, Italia, dan Prancis sebelum menyeberangi Samudra Atlantik. Peta perjalanan yang banyak dibagikan di media sosial juga menunjukkan pesawat memasuki wilayah udara Kanada saat mendekati Amerika Serikat.
Yunani, Italia, Prancis, dan Kanada semuanya merupakan negara pihak dalam Statuta Roma, perjanjian yang menjadi dasar pembentukan ICC.
Pengadilan yang berkedudukan di Den Haag itu mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu pada 21 November 2024. ICC menyatakan terdapat alasan yang masuk akal untuk meyakini bahwa Netanyahu memikul tanggung jawab pidana atas dugaan kejahatan perang berupa penggunaan kelaparan sebagai metode perang, serta kejahatan terhadap kemanusiaan berupa pembunuhan, penganiayaan, dan tindakan tidak manusiawi lainnya di Gaza.
"Ini adalah bentuk korupsi dalam sistem internasional. Sebuah birokrasi yang tidak dipilih rakyat, yang berkantor di Den Haag, bisa saja menangkap tentara Amerika. Padahal, Amerika sendiri tidak mengakui lembaga yang korup ini, sama seperti kami," kata Netanyahu kepada Hannity.
"Mereka bahkan bisa mengatakan bahwa Presiden Amerika Serikat adalah penjahat perang. Mereka juga bisa menyebut tentara Amerika yang bertempur dengan gagah berani bersama kami, bahu-membahu melawan tirani di Teheran, sebagai penjahat perang. Mereka bisa menangkap mereka," lanjut Netanyahu.
PM Israel itu juga mengatakan tetap akan menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada September mendatang, apa pun langkah hukum yang mungkin diambil Wali Kota New York City Zohran Mamdani.
"Pejabat terpilih yang hanya menyebarkan kebencian ini sedang mengadu domba warga New York satu sama lain. Dia membangkitkan permusuhan terhadap warga Yahudi di New York. Apa kita sedang kembali ke era 1930-an? Apa sebenarnya ini?" ujar Netanyahu.Mamdani berulang kali menyatakan akan melindungi hak seluruh warga Yahudi di New York. Namun, Israel menuduhnya bersikap anti-Semit setelah dia menyerukan agar pemerintah federal menangkap Netanyahu berdasarkan surat perintah ICC.
"Tembok Granit"
Netanyahu menghabiskan waktu hampir 90 menit bersama Trump di Gedung Putih pada Selasa. Setelah itu, kedua pemimpin menuju Washington National Cathedral untuk menghadiri pemakaman Senator Partai Republik asal South Carolina, Lindsey Graham, pendukung kuat Israel yang juga dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di pemerintahan Trump.Netanyahu mengatakan kepada Hannity, "Pertemuan dengan Trump merupakan salah satu pertemuan terbaik yang pernah kami lakukan".
Namun, kepada media Israel dia mengungkapkan bahwa pertemuan tersebut berlangsung bersama sejumlah pejabat senior, sehingga dia tidak mendapatkan sesi pertemuan pribadi empat mata dengan Presiden AS.
Keputusan tersebut dinilai mengindikasikan bahwa para penasihat Trump tidak ingin Netanyahu memengaruhi presiden ke arah tertentu.
"Saya selalu senang mengecewakan para pengkritik yang berharap menemukan keretakan dalam aliansi kami. Yang mereka temukan, seperti hari ini, justru adalah tembok granit," kata Netanyahu kepada Hannity.Belakangan, Trump sendiri terdengar kurang puas dengan sikap Netanyahu. Dalam wawancara dengan Fox News pada Selasa, Trump mengatakan Netanyahu ingin Amerika terus menyerang Iran, sementara dirinya mungkin tidak lagi menginginkan hal itu.
"Kami memiliki komitmen yang sama. Kami tidak ingin rezim fanatik di Teheran memiliki senjata nuklir untuk mengancam rakyat Amerika, mengancam perdamaian dunia, dan mengancam keberadaan Israel," kata Netanyahu.
"Jadi kami memiliki tujuan yang sama, dan tujuan itu akan dicapai, baik melalui jalur diplomasi maupun cara lain. Kami sama-sama berkomitmen untuk mewujudkannya," imbuh dia.
Namun, Netanyahu juga menegaskan bahwa dirinya bukan pendukung pendekatan diplomatik tersebut.
Tidak lama setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman pada Juni, Israel justru meningkatkan serangannya ke Lebanon selatan hingga mencapai ibu kota Beirut.
Salah satu poin penting dalam kesepakatan itu adalah penghentian permusuhan Israel di Lebanon, tempat Israel mengeklaim sedang memburu sekutu Iran, Hizbullah.Trump kemudian mengatakan kepada wartawan bahwa serangan Israel dinilainya tidak proporsional dan menyebabkan terlalu banyak korban sipil.
"Apakah Anda yakin ada kelompok moderat di Iran yang menginginkan kesepakatan dan Iran yang lebih baik?" tanya Hannity.
"Saya skeptis terhadap kesepakatan itu, dan saya mengatakannya secara terbuka," jawab Netanyahu.
"Tetapi satu-satunya cara agar itu berhasil adalah jika Iran memahami bahwa berbagai faksi di sana bukan semata-mata berbeda secara ideologis, melainkan berbeda dalam menilai seberapa kuat tekad kita," katanya.
"Pada akhirnya, yang menentukan adalah keteguhan sikap kita—keteguhan bersama untuk memastikan Iran tidak memperoleh bom nuklir yang dapat mengancam setiap warga Amerika."
Komunitas intelijen Amerika Serikat di bawah pemerintahan Trump sebelumnya menilai tidak ada ancaman yang bersifat segera dari Iran sebelum Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang gabungan pada 28 Februari. Penilaian itu sedemikian kuat sehingga Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional (NCTC), Joe Kent, memilih mengundurkan diri hanya beberapa jam setelah rudal pertama diluncurkan.






