Di Tengah Rumor Hubungan Retak, Presiden Iran Sampaikan Pernyataan Mengejutkan soal Mojtaba Khamenei

Di Tengah Rumor Hubungan Retak, Presiden Iran Sampaikan Pernyataan Mengejutkan soal Mojtaba Khamenei

Global | sindonews | Kamis, 6 Agustus 2026 - 12:41
share

Di tengah rumor mengenai keretakan di jajaran kepempinan Iran, Presiden Masoud Pezeshkian menyampaikan pernyataan mengejutkan terkait Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei. Pezeshkian mengaku komunikasi dengan Mojtaba sangat sulit saat ini.

Mojtaba (56)—yang terluka dalam serangan hari pertama Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran 28 Februari—belum muncul di hadapan publik sejak menggantikan ayahnya, mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang meninggal dalam serangan yang sama.

Baca Juga: Presiden Iran: Komunikasi dengan Mojtaba Khamenei Sangat Sulit

Pezeshkian menegaskan bahwa meskipun tidak tampil di depan publik, Mojtaba Khamenei tetap memainkan peran penting dalam langkah balasan Iran.

Apa Kata Pezeshkian?

"Sangat sulit untuk berkomunikasi dengannya saat ini, namun bagaimanapun juga, kehadirannya merupakan sumber kekuatan yang sangat besar bagi kami untuk terus melangkah," ujar Pezeshkian, sebagaimana dikutip kantor berita AFP, Kamis (6/8/2026).

Mojtaba berkomunikasi melalui pernyataan tertulis, namun sikapnya yang tidak menonjol di tengah konflik Iran dengan Amerika Serikat telah memicu spekulasi mengenai hubungannya dengan para pejabat tinggi lainnya. Yang patut dicatat, dia tidak hadir dalam upacara pemakaman ayahnya bulan lalu.Namun, Pezeshkian membela pemimpinnya tersebut, dengan menegaskan bahwa dia telah mengadakan pertemuan yang produktif dengannya dan disambut dengan "kebaikan serta logika yang sangat masuk akal".

"Sayangnya, situasi saat ini memungkinkan pihak-pihak yang berniat buruk untuk menggambarkan dirinya secara berbeda dan menampilkan citra yang keliru tentang dirinya," ujarnya.

Rumor Keretakan Hubungan

Pernyataan Pezeshkian muncul di tengah rumor yang menyebutkan bahwa Mojtaba telah mengeluarkan "ultimatum terakhir" kepadanya dan memberikan dukungannya kepada Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Ahmad Vahidi, dalam keputusan-keputusan penting terkait negosiasi dan konflik tersebut.

Saluran penyiaran Israel, Channel 14, yang mengutip sumber-sumber yang mengetahui perkembangan di Teheran, melaporkan bahwa Mojtaba secara efektif telah melucuti daya tawar politik utama Presiden Pezeshkian.

Menurut laporan tersebut, Pezeshkian diduga berulang kali menggunakan ancaman pengunduran diri saat terjadi perbedaan pendapat mengenai kebijakan dengan pimpinan Iran, dan secara resmi berupaya untuk mundur pada bulan Mei dengan alasan bahwa pemerintahannya telah "disingkirkan sepenuhnya" dari pengambilan keputusan terkait keamanan nasional dan kebijakan luar negeri.Channel 14 mengeklaim bahwa sikap terbaru Mojtaba menandakan keberpihakan penuh terhadap institusi militer Iran, sehingga menyisakan ruang yang terbatas bagi presiden untuk memengaruhi perumusan kebijakan strategis.

Bantahan Presiden Pezeshkian

Namun, Presiden Pezeshkian menepis rumor adanya perpecahan internal. Dia juga membantah klaim bahwa dia berulang kali mengancam akan mundur di tengah upayanya menghadapi faksi garis keras yang menentang tercapainya kesepakatan dengan AS terkait Selat Hormuz.

AS dan Eropa berharap kesepakatan untuk membuka kembali selat tersebut akan segera tercapai, di mana mereka mendesak Oman agar menerima perjanjian sementara—langkah yang dikhawatirkan oleh para pejabat di Muscat justru akan membuat Iran mempertahankan dominasi yang hampir permanen atas jalur pelayaran minyak yang vital itu. Kapal-kapal akan memasuki selat melalui rute yang dekat dengan wilayah Iran, namun keluar melalui rute yang melintasi perairan Iran dan Oman.

Namun, alih-alih disambut meriah atas kemenangan diplomatik yang sudah di depan mata, Pezeshkian justru harus membantah kabar bahwa dia telah berulang kali menawarkan pengunduran diri—baik secara lisan maupun tertulis—saat diwawancarai di televisi dalam rangka peringatan dua tahun masa jabatannya.

Pezeshkian menuding adanya pihak-pihak yang ingin menciptakan perpecahan di dalam Iran dan menyatakan: "Jika saya ingin mundur, saya akan mengumumkannya secara resmi. Saya tidak akan mundur; saya akan tetap bertahan."Klaim mengenai pengunduran diri tersebut—yang telah menjadi berita utama di Iran—dilontarkan oleh Mohammad Bagher Kharazi, sosok yang memiliki hubungan kekerabatan melalui pernikahan dengan Mojtaba Khamenei.

Dia mengatakan bahwa Pezeshkian merasa frustrasi karena disingkirkan dari proses pengambilan keputusan. Situasi ini diperparah oleh keengganan Mojtaba untuk mengungkapkan keberadaannya karena kekhawatiran terhadap pelacakan badan intelijen asing.

Kharazi mengeklaim bahwa Pezeshkian telah berkali-kali mengancam akan mundur hingga Mojtaba memperingatkan bahwa dia akan menerima ancaman pengunduran diri berikutnya; sebuah klaim yang akhirnya dibantah oleh kantor Mojtaba sebagai hal yang "sama sekali keliru dan tidak benar".

Kharazi adalah ipar dari Massoud Khamenei, saudara laki-laki Mojtaba Khamenei. Para kritikus menyebutnya memiliki rekam jejak melontarkan tuduhan tanpa dasar, dan meskipun memiliki hubungan keluarga dengan Pemimpin Tertinggi. Belum jelas apakah dia pernah bertemu dengan Mojtaba sejak penunjukannya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran pada Maret lalu.

Mehdi Tabatabaei, seorang pejabat senior di kantor presiden Iran, menyebut laporan-laporan keretakan hubungan tersebut sebagai "omong kosong dan kebohongan belaka".Dalam sebuah unggahan di media sosial, dia mengecam "koalisi jahat dari kelompok ekstremis yang gemar berbohong, penuh tipu daya, dan gegabah", yang anggotanya tidak dapat menerima hasil proses demokrasi.

"Dua tahun telah berlalu sejak kegagalan mereka dalam pemilihan umum nasional, namun mereka masih berusaha membalas dendam terhadap kehendak bangsa. Mereka telah menjadi boneka bagi musuh-musuh Iran," katanya.

Ahmad Zeidabadi, seorang wartawan reformis Iran, mengatakan bahwa klaim-klaim tersebut bersifat provokatif dan hanya akan memperparah ketegangan.

Topik Menarik