Menteri Zionis Ini Setuju Israel Mengebom Nuklir Iran
Seorang jurnalis Zionis secara terbuka menyerukan penggunaan bom nuklir terhadap Iran, dan Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir tampak mengangguk setuju.
Interaksi yang mengejutkan itu ditayangkan di saluran televisi Israel, memicu kekhawatiran internasional atas ancaman senjata nuklir di tengah perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran sekarang ini.
Baca Juga: Diplomat Ini Mundur usai Ungkap PBB Siapkan Skenario Iran Dibom Nuklir
Mengutip laporan Yeni Safak, Selasa (7/4/2026), ketika berbicara di sebuah saluran televisi Israel, jurnalis Shimon Riklin menoleh ke Ben-Gvir—sosok menteri Zionis Israel telah dikenai sanksi internasional karena ekstremisme—dan menyatakan: “Waktunya telah tiba bagi Israel untuk menggunakan bom atom di Iran.”
Ketika pembawa acara televisi meminta reaksi Ben-Gvir, menteri itu tersenyum, mengangguk, dan menjawab: “Biarkan dia berbicara,” yang secara efektif mendukung seruan tersebut.Riklin, yang memperkirakan Israel memiliki antara 50hingga 60 hulu ledak nuklir, mencoba membenarkan seruannya dengan mengeklaim bahwa serangan senjata nuklir hanya akan menyebabkan sejumlah kecil kematian langsung sementara menyelamatkan lebih banyak nyawa dalam jangka panjang. Pernyataan tersebut telah dikecam secara luas sebagai tindakan sembrono dan genosida, menggemakan retorika ekstremis serupa yang sebelumnya diarahkan ke Gaza. Ben-Gvir terlihat tertawa menanggapi komentar jurnalis tersebut.
Interaksi tersebut telah menimbulkan pertanyaan mendesak tentang peran Israel yang bersenjata nuklir dalam konflik saat ini, karena perang AS-Israel di Iran terus meningkat.
Sejak serangan gabungan dimulai pada 28 Februari, lebih dari 1.340 orang telah tewas di Iran, termasuk mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Bagi Turki, yang secara konsisten mengutuk penggunaan kekuatan yang tidak proporsional dan menyerukan penghormatan terhadap hukum internasional, setiap ancaman penggunaan senjata nuklir—bahkan dari aktor non-negara atau tokoh media—sangat mengkhawatirkan.
Ankara telah lama mengadvokasi Timur Tengah yang bebas nuklir dan mendesak komunitas internasional untuk menanggapi ancaman tersebut dengan serius sebelum menormalisasi eskalasi lebih lanjut.










