Profil Pete Hegseth, Menteri Perang AS yang Dikenal Rasis, Radikal, dan Pemabuk
Pete Hegseth menjadi salah satu tokoh Amerika Serikat (AS) yang jadi sorotan dunia internasional terkait perang AS-Israel melawan Iran. Sebagai Menteri Perang atau Menteri Pertahanan, Hegseth menjadi salah satu arsitek perang yang kini meluas di Timur Tengah tersebut.
Nama Pete Hegseth melesat ke pusat kekuasaan global ketika dia ditunjuk oleh Presiden Donald Trump sebagai Menteri Pertahanan Amerika Serikat pada 2025. Tak lama kemudian, Trump mengubah nama Departemen Pertahanan menjadi Departemen Perang, yang praktis mengubah nama jabatan Hegseth.
Baca Juga: Heboh, Menhan AS Pete Hegseth Pamer Tato Bertuliskan Kafir
Profil Pete Hegseth
•Nama: Peter Brian Hegseth (Pete Hegseth)•Lahir: 6 Juni 1980 di Amerika Serikat•Karier:–Perwira US Army National Guard (pernah bertugas di Perang Irak dan Perang Afghanistan)–Aktivis veteran (memimpin organisasi seperti Concerned Veterans for America)–Pembawa acara di Fox News•Jabatan: Menteri Perang AS (2025-sekarang)Kenaikan kariernya terbilang tidak konvensional—dari veteran Garda Nasional, aktivis, hingga komentator di Fox News—langsung dibayangi oleh serangkaian laporan serius yang mempertanyakan karakter dan integritasnya.
Sejak proses konfirmasi menjadi Menteri Perang di Senat, Hegseth tidak hanya dinilai dari kapasitasnya sebagai mantan prajurit, tetapi juga dari tuduhan-tuduhan yang beredar luas di media: mulai dari dugaan rasisme, radikalisme ideologis, hingga kebiasaan mengonsumsi alkohol secara berlebihan. Kombinasi ini menjadikannya salah satu figur paling kontroversial yang pernah memimpin Pentagon dalam beberapa dekade terakhir.
Dikenal Mengumbar Rasisme
Salah satu isu paling sensitif dalam profil Hegseth, seperti dilaporkan media-media AS, adalah mengumbar rasisme. Sejumlah laporan media Amerika menyebut adanya pernyataan dan sikap yang dinilai merendahkan kelompok tertentu, serta penolakannya terhadap kebijakan diversity, equity, and inclusion (DEI) di militer. Kritik kerasnya terhadap program keberagaman dianggap oleh sebagian pihak sebagai bentuk perlawanan terhadap inklusivitas dalam tubuh angkatan bersenjata Amerika.Dalam beberapa laporan, seperti The Washington Post, muncul kesaksian dari mantan kolega yang menggambarkan pandangan Hegseth sebagai eksklusif dan berpotensi diskriminatif. Bahkan, terdapat klaim kontroversial dari whistleblower terkait pernyataan ekstrem, meski klaim tersebut tidak pernah diuji di pengadilan.
Namun, penting untuk dicatat bahwa tidak ada putusan hukum yang menyatakan Hegseth bersalah dalam isu rasisme. Pihak pendukungnya menegaskan bahwa yang dia tolak bukanlah kelompok tertentu, melainkan apa yang dia anggap sebagai politisasi identitas dalam militer. Di sinilah perdebatan menjadi tajam: apakah dia sekadar kritikus kebijakan, atau benar-benar membawa bias ideologis yang berbahaya?
Dianggap Radikal, dari Isu Agama, Ideologi, dan Militer
Kontroversi berikutnya menyangkut pandangan ideologis Hegseth yang dianggap terlalu ekstrem untuk posisi strategis seperti Menteri Pertahanan atau Menteri Perang. Dalam berbagai pernyataan publik dan aktivitasnya, dia diketahui membawa perspektif religius yang kuat ke dalam wacana militer, termasuk gagasan bahwa perang tertentu memiliki justifikasi moral berbasis agama.Baru-baru ini, dia menyatakan bahwa perang melawan Iran di Timur Tengah adalah perang untuk Yesus. Ini merupakan narasi yang menyeret agama ke dalam konflik. Pemimpin Vatikan Paus Leo XIV menolak penyataan Hegseth tersebut, dan menegaskan bahwa "Tuhan menolak doa orang yang berperang."Sejumlah laporan, termasuk yang dirangkum dalam profil dan investigasi media, mencatat bahwa Hegseth pernah mendorong pendekatan yang mengaitkan nilai-nilai Kristen dengan kebijakan militer. Praktik seperti kegiatan keagamaan di lingkungan Pentagon memicu kekhawatiran tentang netralitas institusi militer yang seharusnya melayani masyarakat yang sangat beragam.
Kritikus melihat ini sebagai bentuk radikalisme ideologis yang dapat mengaburkan batas antara negara dan agama. Sementara itu, pendukungnya berargumen bahwa nilai moral justru penting dalam membentuk etika perang dan kepemimpinan militer. Sekali lagi, garis antara keyakinan pribadi dan kebijakan publik menjadi perdebatan yang belum menemukan titik temu.
Dicap sebagai Pemabuk
Selain isu ideologi, tuduhan terkait konsumsi alkohol menjadi salah satu aspek paling merusak citra Hegseth. Dalam proses konfirmasi Senat, sejumlah laporan mengungkap adanya dugaan kebiasaan minum alkohol berlebihan, termasuk kesaksian dari individu yang pernah bekerja atau berinteraksi dengannya.Media AS seperti The New Yorker dan The Washington Post melaporkan adanya cerita tentang perilaku mabuk Hegseth dalam berbagai kesempatan, bahkan disebut sebagai pola yang berulang. Isu ini tidak berhenti di masa lalu—pada 2026, rumor serupa masih beredar di lingkungan Pentagon, meski telah dibantah oleh Pentagon secara resmi.
Inilah Rudal Generasi Baru Iran Mampu Tembus Sistem Pertahanan Israel dan Negara-negara Arab
Hegseth sendiri secara tegas menolak tuduhan tersebut. Dia menyatakan tidak memiliki masalah alkohol dan bahkan berjanji untuk tidak mengonsumsi alkohol selama menjabat sebagai Menteri Pertahanan. Namun, seperti halnya tuduhan lain, tidak ada proses hukum yang secara definitif membuktikan atau membantah klaim tersebut. Yang tersisa adalah pertarungan persepsi di ruang publik.Di luar kontroversi personal, kepemimpinan Hegseth di Pentagon juga memicu perdebatan. Dia mengambil langkah-langkah yang dianggap tidak lazim, seperti pergantian pejabat tinggi secara cepat dan intervensi dalam sejumlah keputusan internal militer. Kebijakan ini dinilai oleh kritikus sebagai bentuk politisasi institusi pertahanan.
Namun bagi pendukungnya, langkah tersebut adalah bagian dari reformasi yang diperlukan untuk mengembalikan fokus militer pada kesiapan tempur. Hegseth secara konsisten menyuarakan bahwa militer Amerika harus bebas dari agenda sosial dan kembali pada misi utamanya: memenangkan perang.
Pete Hegseth adalah cerminan dari era politik Amerika yang semakin terpolarisasi. Dia bukan sekadar pejabat publik, tetapi simbol dari benturan antara dua visi besar tentang arah militer dan identitas nasional Amerika Serikat.
Tuduhan bahwa dia rasis, radikal, dan pemabuk memang didukung oleh berbagai laporan media dan kesaksian. Namun, sebagian besar klaim tersebut belum pernah dibuktikan secara hukum. Di sisi lain, gaya komunikasi dan sikap ideologisnya yang keras membuat tuduhan-tuduhan itu terus menemukan resonansi di ruang publik.
Dalam konteks global yang semakin tegang, sosok seperti Hegseth menghadirkan pertanyaan yang lebih besar: apakah kekuatan militer seharusnya dipimpin oleh teknokrat netral, atau oleh figur ideologis yang membawa visi tertentu? Jawaban atas pertanyaan ini tidak hanya menentukan masa depan Pentagon, tetapi juga arah peran Amerika Serikat di panggung dunia.










