Limbah Bisa Jadi Rupiah, Ini Cara Mengubah Minyak Goreng Bekas Menjadi Cuan

Limbah Bisa Jadi Rupiah, Ini Cara Mengubah Minyak Goreng Bekas Menjadi Cuan

Ekonomi | okezone | Sabtu, 31 Oktober 2026 - 20:03
share

JAKARTA – Minyak jelantah yang selama ini dianggap limbah dapur ternyata memiliki nilai ekonomi dan bisa menjadi sumber penghasilan tambahan bagi rumah tangga. Alih-alih dibuang sembarangan, sisa minyak goreng dapat dikumpulkan dan dijual untuk diolah kembali menjadi bahan bakar ramah lingkungan.

Selain menghasilkan uang, pengumpulan minyak jelantah juga membantu mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan limbah rumah tangga yang tidak tepat. Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa limbah dapur tersebut masih memiliki manfaat jika dikelola dengan benar.

Salah satu contoh pemanfaatan minyak jelantah terlihat di Desa Dawuhan, Kecamatan Banyumas, Jawa Tengah. Warga setempat mulai mengumpulkan sisa minyak goreng untuk ditukarkan dengan uang tunai melalui tempat pengumpulan minyak jelantah di koperasi desa.

Samini, warga Desa Dawuhan RT 01/RW 01, mengaku senang karena minyak jelantah yang sebelumnya hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan terbatas kini dapat menghasilkan tambahan uang belanja.

"Setiap selesai menggoreng di rumah, sisa minyaknya saya kumpulkan sedikit demi sedikit. Dulu cuma dipakai sendiri untuk bikin lilin kalau mati lampu. Sekarang senang sekali karena bisa ditukarkan jadi uang tunai di koperasi. Tentu jadi makin semangat mengumpulkan jelantah dari dapur karena bisa menambah uang belanja kebutuhan sehari-hari," ujar Samini, Sabtu (31/10/2026). 

Hal serupa disampaikan Yati, warga Desa Dawuhan lainnya. Menurutnya, pengumpulan minyak jelantah memberikan manfaat ekonomi sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak menggunakan minyak goreng secara berulang kali.

"Bagi ibu-ibu yang rutin memasak, program ini sangat bermanfaat. Minyak yang tadinya dibuang atau berbahaya kalau dipakai berulang kali, sekarang dikumpulkan dan disetorkan ke koperasi. Minyak jelantah yang dulu tidak bermanfaat kini jadi rupiah dan membawa berkah," tutur Yati.

Nilai ekonomi minyak jelantah juga terlihat dari aktivitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kuliner. Ketua Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) Desa Dawuhan, Suparjo, mengatakan pelaku usaha kuliner di wilayahnya mampu mengumpulkan minyak jelantah dalam jumlah lebih besar dibandingkan rumah tangga.

"Respons masyarakat sangat baik. Untuk tingkat rumah tangga, warga mampu mengumpulkan lebih dari setengah liter per minggu. Sementara dari pelaku UMKM kuliner dan gorengan di sekitar desa, ada yang mampu menyetorkan 10, 20, hingga 25 liter minyak jelantah dalam seminggu," jelas Suparjo.

Minyak jelantah yang terkumpul selanjutnya dapat diolah menjadi produk bernilai tambah, seperti bahan bakar ramah lingkungan, termasuk bioavtur dan bensin hijau (green gasoline).

Pemanfaatan tersebut menjadi salah satu bentuk ekonomi sirkular, yakni mengolah limbah menjadi bahan baku atau produk baru yang memiliki nilai ekonomi. Dengan demikian, minyak jelantah tidak hanya berpotensi menambah pendapatan masyarakat, tetapi juga dapat mengurangi limbah yang mencemari lingkungan.

Meski demikian, masyarakat perlu memastikan minyak jelantah dikumpulkan dan disalurkan melalui pengelola yang tepat. Minyak bekas memasak sebaiknya tidak dibuang ke saluran air, tanah, maupun lingkungan sekitar karena dapat menimbulkan pencemaran.

Wakil Direktur Utama I Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman, menjelaskan bahwa melalui Project Pertamina SAF, minyak jelantah dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk menghasilkan bahan bakar penerbangan ramah lingkungan di fasilitas Green Refinery Cilacap. Produksi Pertamina SAF memanfaatkan fasilitas Thermal Distillate Hydro Treating (TDHT) melalui skema co-processing, yakni mengolah minyak jelantah bersama komponen bahan baku lainnya dalam proses produksi.

“Dalam implementasi produksi SAF di Green Refinery Cilacap, kami sudah pada tahap komersialisasi produksi, dimana pada bulan Oktober ini diproduksi sekitar 11 juta liter co-processed SAF. Dalam proses tersebut, minyak jelantah digunakan dengan rasio sekitar maksimal 5 persen dari total kapasitas produksi unit TDHT. Capaian ini menjadi bagian dari upaya kami mengoptimalkan infrastruktur kilang yang ada untuk menghasilkan produk energi yang berkelanjutan,” ujar Taufik.

Lebih lanjut, Pertamina Patra Niaga melalui program Community, Involvement and Development (CID) juga membangun ekosistem pengumpulan minyak jelantah dengan melibatkan masyarakat dan kelompok pengelola sampah di sekitar wilayah operasional Kilang Cilacap. Taufik menjelaskan bahwa pengumpulan minyak jelantah dilakukan dengan memberdayakan bank sampah binaan serta menyediakan sarana pengumpulan yang mudah diakses masyarakat.

“Kami membangun ekosistem pengumpulan minyak jelantah dengan melibatkan masyarakat melalui tiga bank sampah binaan Kilang Cilacap, yaitu Bank Sampah Beo Asri, Bank Sampah Abhipraya, dan Bank Sampah Cahaya Asri. Kami juga menyediakan Collection Box Jelantah di Pasar Amarta Kutawaru agar masyarakat memiliki alternatif untuk menyalurkan minyak jelantah yang sudah tidak digunakan menjadi bernilai ekonomi,” jelas Taufik.

Topik Menarik