BELI Catat Pendapatan Rp22,23 Triliun hingga Kuartal III-2026

BELI Catat Pendapatan Rp22,23 Triliun hingga Kuartal III-2026

Ekonomi | okezone | Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:35
share

JAKARTA - PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) mencatat pertumbuhan pendapatan neto sebesar 46 secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp22,24 triliun hingga kuartal III-2026. Pertumbuhan tersebut diikuti perbaikan efisiensi operasional dan peningkatan kinerja EBITDA, seiring kontribusi positif dari seluruh segmen usaha.

Berdasarkan laporan kinerja keuangan perseroan, pendapatan neto Global Digital Niaga mencapai Rp22,24 triliun pada sembilan bulan pertama 2026 (9M26), meningkat dari Rp15,24 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara kuartalan, pendapatan neto perseroan pada kuartal III-2026 (3Q26) tumbuh 31 yoy menjadi Rp7,41 triliun, dibandingkan Rp5,64 triliun pada kuartal III-2025.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan kontribusi dari seluruh segmen bisnis, terutama ritel pihak pertama (first-party/1P), yang didorong oleh penjualan produk smartphone dan olahraga. Kontribusi dari bisnis online travel agent (OTA) dan segmen institusi juga meningkat, seiring ekspansi jaringan toko fisik yang memperkuat strategi omnichannel perseroan.

Dari sisi profitabilitas, BELI mencatatkan peningkatan take rate menjadi 9,1 pada 9M26, dibandingkan 8,4 pada periode yang sama tahun lalu. Pada kuartal III-2026, take rate perseroan bahkan mencapai 9,3.

Peningkatan tersebut sejalan dengan pertumbuhan laba bruto sebelum diskon (gross profit before discount/GPBD) sebesar 20 yoy selama sembilan bulan pertama 2026. Khusus pada kuartal III-2026, GPBD tumbuh 26 yoy.

Meski demikian, perubahan komposisi produk menyebabkan margin bruto konsolidasian mengalami normalisasi menjadi 15,6 pada 9M26.

Di sisi operasional, perseroan berhasil menekan beban operasional konsolidasian terhadap total nilai transaksi (total processing value/TPV) menjadi 6,4 pada 9M26, dari sebelumnya 7,2 pada 9M25.

Efisiensi tersebut terutama berasal dari penurunan rasio beban iklan dan pemasaran serta beban umum dan administrasi terhadap TPV.

Perbaikan struktur biaya turut mendorong peningkatan kinerja EBITDA konsolidasian terhadap TPV sebesar 160 basis poin (bps) secara tahunan. Rasio tersebut membaik dari minus 2,4 pada 9M25 menjadi minus 0,8 pada 9M26.

Dari sisi arus kas, Blibli mencatatkan arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi sebesar Rp721 miliar pada 9M26. Penggunaan kas tersebut terutama berkaitan dengan investasi modal kerja untuk mendukung pertumbuhan pendapatan.

Sementara itu, arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi mencapai Rp277 miliar, terutama untuk mendukung ekspansi toko fisik. Adapun aktivitas pendanaan menghasilkan arus kas bersih sebesar Rp821 miliar.

Dengan demikian, posisi kas dan setara kas perseroan tercatat sebesar Rp1,37 triliun per 30 September 2026, turun dari Rp1,54 triliun pada 31 Desember 2025.

CEO sekaligus Co-Founder Blibli Kusumo Martanto mengatakan, pertumbuhan pendapatan yang dicapai perseroan berjalan beriringan dengan peningkatan efisiensi dan profitabilitas.

Menurut dia, perseroan tetap mencatatkan pertumbuhan di tengah perilaku belanja konsumen yang lebih selektif dan persaingan pasar yang ketat.

"Kemajuan ini mencerminkan fokus kami pada pertumbuhan berkualitas tinggi, investasi yang disiplin, serta perbaikan berkelanjutan, alih-alih sekadar mengejar pertumbuhan dengan cara apa pun," ujar Kusumo, Sabtu (31/10/2026). 

Dia menambahkan, perseroan terus memperkuat infrastruktur pemenuhan pesanan, teknologi, dan integrasi ekosistem untuk meningkatkan keandalan layanan serta produktivitas operasional.

Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan layanan Fulfillment at Speed (FAS) untuk meningkatkan integrasi rantai pasok dan efisiensi pemenuhan pesanan bagi penjual maupun mitra.

Memasuki kuartal IV-2026, manajemen akan berfokus pada peningkatan kualitas pertumbuhan pendapatan, efisiensi operasional, dan optimalisasi ekosistem bisnis terintegrasi.

Sementara itu, CFO Blibli Ronald Winardi menyatakan, pertumbuhan pendapatan dan peningkatan take rate menjadi salah satu faktor yang mencerminkan perbaikan kualitas bisnis perseroan.

"Kami tetap fokus pada upaya memperluas margin, meningkatkan leverage operasional, dan menjaga kedisiplinan dalam alokasi modal guna mempercepat langkah menuju profitabilitas," kata Ronald.

Topik Menarik