Menteri Ekraf Bidik Produk Kreatif RI Tembus Pasar Global
JAKARTA - Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya membidik produk-produk ekonomi kreatif lokal agar mampu bersaing di pasar global. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan desain, kemasan produk, dan strategi pemasaran untuk meningkatkan daya saing pelaku usaha, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Kami ingin pelaku usaha di daerah tidak hanya mampu menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga menjadi local hero, lalu national champion, dan go global,” ujar Teuku Riefky dalam keterangan tertulis, Selasa (20/10/2026).
Melalui kegiatan tersebut, Kementerian Ekraf mendampingi 55 pelaku usaha ekonomi kreatif di Batam untuk mengembangkan identitas visual, meningkatkan kualitas kemasan, serta memperkuat strategi pemasaran digital.
Pendampingan ini diarahkan agar pelaku usaha mampu menciptakan produk yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga memiliki nilai tambah dan daya tarik bagi konsumen.
Direktur Arsitektur dan Desain Kementerian Ekraf Megawati Panjaitan mengatakan, peningkatan kualitas produk membutuhkan pendampingan dan praktik nyata agar pelaku usaha dapat mengembangkan bisnisnya.
“Produk kreatif tidak cukup hanya menarik, tetapi harus memiliki nilai tambah agar mampu bersaing. Hari ini kami hadir bersama pembicara yang sudah sangat berpengalaman di bidang arsitektur dan desain, untuk berbagi pengetahuan, wawasan, serta praktik nyata yang dapat diterapkan langsung oleh para pelaku ekonomi kreatif di Batam, agar pelaku ekonomi kreatif kita benar-benar bisa naik kelas,” kata Megawati.
Dalam sesi desain, peserta mempelajari pentingnya kemasan dalam memengaruhi keputusan konsumen. Desain produk perlu menarik perhatian, sedangkan informasi yang tercantum pada kemasan harus mampu membangun kepercayaan calon pembeli.
Desainer komunikasi visual Edo Tirtadarma juga menyoroti potensi keunikan lokal sebagai identitas produk. Salah satunya melalui pemanfaatan limbah gonggong khas Batam untuk membangun cerita dan karakter produk yang membedakannya dari kompetitor.
Selain desain dan kemasan, workshop tersebut membahas strategi pemasaran digital yang mengintegrasikan branding, pemasaran (marketing), dan penjualan (selling) agar promosi dapat menghasilkan transaksi.
Pemateri Ardyansyah menjelaskan, pelaku usaha dapat memanfaatkan Instagram dan TikTok untuk memperkenalkan produk, WhatsApp Business untuk berkomunikasi dengan pelanggan, serta marketplace sebagai sarana penjualan.
Peserta juga memperoleh kesempatan berkonsultasi secara privat (one-on-one) dengan narasumber untuk mengevaluasi desain, kemasan, dan strategi pemasaran sesuai kebutuhan masing-masing usaha.
Salah satu peserta, Rika, pelaku usaha parfum merek Youidn, menilai kegiatan tersebut memberikan wawasan baru mengenai pengembangan produk dan kemasan.
Menurutnya, Creative Hub menjadi ruang bagi pelaku usaha kreatif di Batam untuk bertukar pengalaman, membangun relasi, serta membuka peluang kolaborasi.
“Menurut saya, kegiatan Creative Hub merupakan kegiatan yang sangat positif karena menjadi wadah bagi para pelaku kreatif di Batam untuk saling berkomunikasi, bertukar pengalaman, serta membangun relasi dan kolaborasi,” ucap Rika.
Ia berharap program pendampingan serupa terus berlanjut karena bermanfaat untuk menambah pengetahuan pelaku UMKM dalam mengembangkan usaha.
Wakil Direktur II Batam Tourism Polytechnic Syafruddin Rais turut mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia menilai kolaborasi pemerintah, akademisi, desainer profesional, dan pelaku usaha berperan penting dalam memperkuat identitas produk lokal sekaligus membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan di Batam.









