Produktivitas Padi di Lahan Tadah Hujan Naik Jadi 8,21 Ton per Hektare
JAKARTA — Produktivitas padi di lahan tadah hujan di Indramayu, Jawa Barat, meningkat dari rata-rata 5,6 ton menjadi 8,21 ton per hektare saat panen raya. Peningkatan tersebut tercatat di tengah tantangan budidaya yang bergantung pada ketersediaan air hujan dan rentan terhadap kekeringan saat fenomena El Niño.
Ketua Kelompok Tani Gentong Jaya, Sarpi, mengatakan panen tersebut berlangsung di lahan seluas 110 hektare. Ia menyebut penggunaan pupuk hayati cair menjadi salah satu bagian dari praktik budidaya yang diterapkan petani.
“Penggunaan PHC ExtraGen ini berhasil mengurangi pupuk kimia 20 persen, namun hasilnya meningkat. Tanah jadi subur, tanaman hijau sehat jauh dari hama,” kata Sarpi.
Meski demikian, kontribusi pupuk terhadap kenaikan produktivitas tersebut masih perlu ditelaah melalui data pembanding yang terukur. Hasil panen juga dapat dipengaruhi berbagai faktor, seperti ketersediaan air, kondisi tanah, cuaca, dan teknik budidaya.
Pengukuran hasil panen dilakukan menggunakan metode ubinan dan disaksikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Indramayu, unsur unit pelaksana teknis daerah, serta penyuluh pertanian setempat. Metode tersebut digunakan untuk memperkirakan produktivitas berdasarkan sampel petak lahan.
Di luar capaian panen, ketersediaan air masih menjadi persoalan bagi petani di wilayah tersebut. Sarpi menyebut sekitar 40 persen lahan pertanian di kawasan itu merupakan lahan tadah hujan yang bergantung pada curah hujan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman.
Ketergantungan tersebut membuat kegiatan budidaya rentan ketika curah hujan tidak mencukupi. Keterbatasan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan meningkatkan risiko penurunan hasil panen.
Karena itu, petani meminta penguatan infrastruktur pengairan, termasuk perbaikan jaringan irigasi sekunder dan pembangunan bendung atau dam, untuk membantu menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian.
Menurut Sarpi, persoalan pengairan perlu mendapat perhatian agar petani dapat mempertahankan produktivitas, terutama ketika pasokan air hujan terbatas.
Peningkatan hasil panen di lahan tadah hujan menjadi salah satu catatan penting dalam upaya menjaga produksi pangan di tengah risiko kekeringan. Namun, keberlanjutan produktivitas tidak hanya bergantung pada praktik budidaya, tetapi juga pada ketersediaan air dan pengelolaan lahan.
Data hasil panen yang terukur serta evaluasi terhadap berbagai faktor produksi diperlukan untuk mengetahui penyebab kenaikan produktivitas dan menilai apakah capaian tersebut dapat dipertahankan pada musim tanam berikutnya.










