Ekspor Solar Rusia Bisa Tembus 3,5 Juta Ton per Bulan, Lampaui Kesepakatan Trump
Rusia menyatakan mampu meningkatkan ekspor bahan bakar diesel atau solar hingga melampaui volume yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam kesepakatan pasokan energi kedua negara. Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak memperkirakan ekspor solar dapat mencapai 3 juta hingga 3,5 juta ton per bulan pada akhir 2026, setelah sebelumnya tertekan akibat serangan terhadap kilang minyak dan pembatasan ekspor.
"Kita akan melihat bagaimana situasinya berkembang lebih lanjut, tetapi Rusia memiliki kapasitas untuk meningkatkan ekspor bahan bakar diesel," kata Novak, yang menangani urusan perminyakan bagi Presiden Vladimir Putin, melalui saluran televisi pemerintah Rossiya-24, dikutip dari Reuters, Selasa (13/10/2026).
Baca Juga:Trump Umumkan Kesepakatan Pasokan Solar dengan Putin Usai Percakapan Telepon
Novak mengatakan volume ekspor tersebut berpotensi kembali ke tingkat sebelum krisis. Sebelum serangkaian serangan pesawat nirawak Ukraina terhadap kilang minyak Rusia pada 2024–2025, ekspor solar Rusia telah melampaui 3 juta ton per bulan. Meski memberlakukan pembatasan ekspor, Moskow masih memasok solar ke sejumlah negara, terutama di Asia Tengah, melalui kesepakatan antarpemerintah. Menurut sumber industri, ekspor ke kawasan tersebut mencapai 427.000 ton pada bulan lalu.
Trump pada Jumat mengumumkan bahwa Rusia telah menyetujui pasokan solar ke pasar global. Pemerintah AS juga untuk sementara melonggarkan sanksi terhadap bahan bakar Rusia yang sebelumnya ditujukan untuk membatasi pendapatan Moskow dalam membiayai perang di Ukraina. Trump menyebut Rusia akan segera memasok lebih dari 300.000 ton solar, disusul 500.000 ton pada November dan 1 juta ton setelahnya.Menurut Novak, tambahan pasokan Rusia akan membantu menyeimbangkan permintaan dan penawaran di pasar global. Ia juga menyatakan harga solar dunia telah turun sekitar 5–6. Kesepakatan tersebut berlangsung ketika kenaikan harga solar di AS membebani perusahaan angkutan truk dan petani, serta menjadi perhatian menjelang pemilihan paruh waktu AS pada 3 November.
Namun, kesepakatan itu menuai kritik dari Ukraina dan sejumlah anggota parlemen AS yang menilai pelonggaran sanksi dapat menambah pendapatan Rusia untuk melanjutkan perang tanpa mengharuskan Presiden Putin membuat konsesi. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengecam kesepakatan tersebut karena dinilai berlawanan dengan kebijakan Barat selama bertahun-tahun untuk mengisolasi ekonomi Rusia.
Menurut tiga sumber yang mengetahui pertemuan tersebut, utusan Trump mengatakan kepada pejabat Ukraina pada Jumat bahwa kesepakatan pasokan solar merupakan bagian dari upaya mendorong Rusia kembali ke meja perundingan setelah sejumlah upaya sebelumnya untuk memulai pembicaraan damai berkelanjutan gagal. Pada Senin, Zelenskyy menyatakan serangan Rusia terhadap sedikitnya enam sasaran energi dalam gelombang serangan udara terbaru menunjukkan Moskow tidak berminat menyepakati gencatan senjata di sektor energi.
Baca Juga:AS dan Rusia Sepakati Impor Solar, Mampukah Redam Gejolak Harga Minyak Dunia?
Harga BBM Pertamina, Shell, Vivo dan BP Resmi Naik! Cek Daftar Terbaru Hari Ini 14 September
Novak juga menyebut nilai pasokan sumber daya energi Rusia ke negara-negara Uni Eropa sejak 2022 hingga saat ini mencapai 320,7 miliar dolar AS, lebih tinggi daripada angka 250 miliar dolar AS yang disebut pemerintah AS. Sementara itu, data Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan sektor transportasi AS menggunakan sekitar 2,94 juta barel solar per hari, sehingga pasokan awal Rusia sebesar 300.000 ton atau sekitar 2,25 juta barel setara dengan kurang dari satu hari kebutuhan sektor transportasi negara tersebut.









