Cegah Krisis Listrik, Batu Bara Kalori Tinggi Perlu Diprioritaskan untuk PLTU PLN

Cegah Krisis Listrik, Batu Bara Kalori Tinggi Perlu Diprioritaskan untuk PLTU PLN

Ekonomi | sindonews | Selasa, 13 Oktober 2026 - 20:40
share

Indonesia Resources Studies (IRESS) meminta pemerintah memprioritaskan pasokan batu bara kalori menengah dan tinggi untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) PT PLN (Persero) sebelum komoditas tersebut diekspor. Kebijakan itu dinilai penting untuk menjaga keandalan pasokan listrik nasional di tengah terbatasnya cadangan batu bara berkualitas dan perbedaan harga yang mendorong pemasok memilih pasar luar negeri.

"Kebijakan tersebut dibutuhkan karena cadangan stok batu bara kalori menengah dan tinggi (medium rank coal/MRC dan high rank coal/HRC) dalam negeri terbatas, sementara banyak PLTU masih membutuhkan spesifikasi tersebut," kata Direktur Eksekutif IRESS Marwan Batubara seperti dikutip pada Selasa (13/10/2026).

Baca Juga:Pasokan ke Smelter Swasta Diusulkan Tak Lagi Masuk Hitungan DMO

Mengutip data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Marwan menyebut batu bara dengan nilai kalor sekitar 6.000 kilokalori per kilogram Gross As Received (GAR) hanya mencakup sekitar 5 cadangan nasional, sedangkan batu bara 5.000 GAR sekitar 8. Sebaliknya, batu bara dengan nilai kalor 4.200 GAR mendominasi sekitar 73 cadangan nasional. GAR merupakan ukuran nilai kalor batu bara berdasarkan kondisi saat diterima, termasuk kandungan airnya.

Menurut IRESS, persoalan kualitas batu bara turut menjadi perhatian setelah pemadaman bergilir terjadi di Jawa pada Juni 2026. Pemerintah kemudian memberikan penugasan tambahan sebanyak 16,8 juta ton batu bara dengan nilai kalor di atas 4.500 GAR kepada PLN hingga Desember 2026 untuk membantu memenuhi kebutuhan bahan bakar pembangkit dan mencegah gangguan listrik berulang.

"Persoalan PLN bukan hanya berapa ton, tetapi juga berapa kalori. Batu bara jenis MRC dan HRC adalah barang langka. Kalau tidak diprioritaskan untuk PLTU, batu bara ini akan mengalir ke ekspor karena harganya jauh lebih menarik," ujar Marwan.

Baca Juga:Hilirisasi Batu Bara Jadi Metanol dan DME, Pemerintah Siapkan Diskon Pajak 7

IRESS mencatat harga batu bara untuk kebutuhan pembangkit listrik melalui skema kewajiban pasok domestik (domestic market obligation/DMO) ditetapkan sebesar 70 dolar AS per ton. Sementara itu, Harga Batu Bara Acuan (HBA) periode pertama Juni 2026 untuk batu bara berkalori 5.300 GAR mencapai 84,53 dolar AS per ton dan batu bara 6.322 GAR sebesar 121,83 dolar AS per ton. Selisih harga tersebut dinilai berpotensi mendorong pemasok mengutamakan pasar ekspor.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, IRESS merekomendasikan agar penugasan DMO mencantumkan spesifikasi nilai kalor sesuai kebutuhan setiap PLTU dan ekspor batu bara MRC serta HRC dilakukan setelah kebutuhan PLN dipastikan terpenuhi. IRESS juga mengusulkan skema harga yang mendukung kelayakan pasokan domestik serta percepatan modifikasi (retrofit) pembangkit agar mampu menggunakan batu bara berkalori lebih rendah, seperti yang telah diterapkan pada PLTU Suralaya unit 6 dan 7.

Marwan menegaskan, prioritas pasokan batu bara berkualitas untuk PLN tidak harus berlaku permanen. Pembatasan dapat disesuaikan seiring kesiapan pembangkit menggunakan batu bara berkalori lebih rendah, sehingga kebutuhan listrik domestik tetap terjamin tanpa menutup peluang ekspor pada masa mendatang.

Topik Menarik