Bursa Asia Merosot, Imbas Lonjakan Yield Obligasi dan Harga Minyak
IDXChannel - Bursa Asia bergerak melemah pada perdagangan Selasa (29/9/2026), melanjutkan tekanan dari sesi sebelumnya.
Kenaikan imbal hasil obligasi global dan harga minyak kembali membebani sentimen investor karena memicu kekhawatiran inflasi serta ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi.
Di Jepang, Nikkei 225 turun 1,07 persen, sedangkan indeks Topix melemah 1,64 persen.
Pelemahan tersebut memperpanjang penurunan pada sesi sebelumnya, seiring kenaikan yield obligasi global yang meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi yang didorong oleh energi dapat membuat bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Mengutip Reuters, sentimen negatif juga mengikuti penurunan Wall Street pada perdagangan Senin (28/9). Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun kembali menembus 5,2 persen, sementara yield tenor 30 tahun berada di sekitar 5,55 persen.
Kenaikan yield membuat aset berpendapatan tetap semakin menarik sekaligus meningkatkan tekanan terhadap saham.
Harga minyak kembali naik setelah pejabat Iran dilaporkan meragukan tercapainya kesepakatan dengan Amerika Serikat sebelum pemilu sela AS pada November. Sebelumnya, Presiden Donald Trump menolak proposal terbaru Teheran yang berkaitan dengan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Ketidakpastian tersebut kembali mengangkat risiko gangguan pasokan energi dan tekanan inflasi global.
Di Korea Selatan, KOSPI turun 0,41 persen, melanjutkan pelemahan sesi sebelumnya. Kenaikan harga minyak dan yield US Treasury menekan minat terhadap aset berisiko.
Sentimen domestik juga memburuk setelah indeks sentimen bisnis Bank of Korea turun untuk pertama kalinya dalam tiga bulan pada September.
Sementara sentimen sektor manufaktur mencatat penurunan lebih tajam di tengah kekhawatiran terhadap berkurangnya hari kerja, biaya bahan baku, dan ketidakpastian eksternal.
Pergerakan serupa terlihat di sejumlah bursa utama Asia.
Shanghai Composite turun 0,31 persen, Hang Seng Hong Kong melemah 0,51 persen, STI Singapura turun 0,13 persen, sedangkan ASX 200 Australia naik tipis 0,02 persen.
Tekanan di Asia mengikuti pelemahan Wall Street pada perdagangan Senin.
Dow Jones Industrial Average turun 0,67 persen, S&P 500 melemah 0,77 persen, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 0,92 persen. Kenaikan harga minyak dan yield Treasury menjadi faktor utama yang membebani pasar saham.
Harga minyak sempat melonjak lebih dari USD4 per barel pada awal perdagangan setelah Trump menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, kenaikan kemudian mereda setelah mediator dari Qatar dijadwalkan menggelar pembicaraan dengan Amerika Serikat dan Iran untuk mencari jalan menuju kesepakatan damai.
Pada penutupan Senin, minyak mentah AS naik USD0,19 menjadi USD92,60 per barel, sedangkan Brent naik USD0,96 menjadi USD105,28 per barel.
Di Wall Street, Nasdaq menjadi indeks dengan penurunan terbesar.
Saham Nvidia justru naik 1,7 persen setelah perusahaan meningkatkan otorisasi program pembelian kembali saham hingga USD150 miliar, tambahan terbesar dalam sejarah perusahaan.
Langkah tersebut membawa total kapasitas buyback Nvidia menjadi lebih besar dibandingkan program buyback Apple senilai USD110 miliar yang diumumkan pada 2024. (Aldo Fernando)









