Minyak Iran Bakal Habis dalam 2 Minggu, Menkeu AS: Mereka Tak Punya Apa-apa Lagi

Minyak Iran Bakal Habis dalam 2 Minggu, Menkeu AS: Mereka Tak Punya Apa-apa Lagi

Ekonomi | sindonews | Selasa, 29 September 2026 - 07:33
share

Ekonomi Iran disebut sedang berada di titik nadir dan terancam lumpuh total dalam waktu dekat. Menteri Keuangan Amerika Serikat (Menkeu AS), Scott Bessent menegaskan, bahwa blokade laut serta sanksi ekonomi berlapis yang diterapkan AS akan membuat Teheran kehilangan seluruh sumber pendapatan utamanya hanya dalam kurun dua minggu ke depan.

Gertakan keras ini muncul di tengah runtuhnya perdagangan ekspor minyak mentah Iran yang menjadi urat nadi perekonomian negara tersebut. Di bawah komando Presiden Donald Trump, AS mengintensifkan strategi perang ekonomi melalui kebijakan bertajuk Operation Economic Outcast.

Operasi ini bertujuan memutus total seluruh akses finansial dan perdagangan Iran dengan dunia luar. Menkeu Scott Bessent mengungkapkan, bahwa sisa pasokan minyak Iran yang terapung di lautan kini berada pada level yang sangat kritis. Baca Juga: Pasokan Minyak Iran Kembali Banjiri Pasar Asia, Harga Minyak Dunia Anjlok 4

"Saya sangat yakin, mengingat hanya ada 15 juta barel minyak Iran yang tersisa di perairan, Iran tidak akan memiliki apa-apa lagi untuk diperdagangkan. Kemungkinan dalam dua minggu ke depan, mereka akan menyelesaikan pengiriman minyak terakhirnya ke Tiongkok, dan setelah itu mereka tidak punya apa-apa lagi," tegas Bessent.

Kondisi ekonomi di ambang krisis tersebut dinilai menjadi alasan utama mengapa Teheran mendesak dilakukannya negosiasi dan penghentian permusuhan. Guna melepaskan diri dari himpitan ekonomi, Iran mengajukan proposal gencatan senjata selama tujuh hari.

Dalam usulan tersebut, Iran berjanji membuka kembali Selat Hormuz secara penuh dengan syarat, AS mencairkan aset Iran yang dibekukan senilai USD12 miliar. Lalu syarat lainnya, AS menghentikan blokade angkatan laut di perairan Teluk.

Baca Juga: Trump Isyaratkan AS Akan Kuasai Minyak Iran seperti VenezuelaDitambah menghapus sanksi atas penjualan minyak mentah Iran. Namun, Presiden Donald Trump menolak mentah-mentah tawaran tersebut dan menganggap syarat yang diajukan Iran sama sekali tidak dapat diterima.

Meski Iran masih melancarkan serangan sesekali terhadap kapal tanker, Bessent mengonfirmasi bahwa lalu lintas perdagangan minyak di Selat Hormuz kini telah kembali pulih mendekati level normal berkat pengawalan ketat dari militer AS.

Pengiriman minyak di jalur yang mengangkut seperlima pasokan energi dunia tersebut kini rata-rata mencapai 15 hingga 22 juta barel per hari. Angka tersebut mendekati volume pra-konflik sebesar 20 juta barel per hari.

Topik Menarik