Tak Ada Pemenang Pemilu Israel, Akankah Oposisi Gandeng Partai Arab Gulingkan Netanyahu?
TEL AVIV, iNews.id - Komisi Pemilihan Umum Pusat Israel merilis hasil akhir pemilu parlemen, Jumat (30/10/2026). Hasilnya kubu Benjamin Netanyahu unggul dalam perolehan suara yakni merebut 53 kursi parlemen Knesset, disusul kubu oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot, dan partai-partai Arab dengan 19 kursi.
Bagi kubu Netanyahu, raihan kali ini merupakan kemunduran signifikan karena dalam pemilu sebelumnya pada 2022, bloknya merebut 64 kursi sehingga bisa membentuk pemerintahan sendiri. Sementara itu bagi partai Arab, perolehan kali ini merupakan rekor terbesar. Pada pemilu 2022, gabungan partai Arab yakni Joint List dan Ra'am hanya meraih 10 kursi.
Setiap blok harus bisa meraih setidaknya 61 kursi parlemen dari total 120 yang diperebutkan.
Penghitungan suara akhir menunjukkan, koalisi sayap kanan garis keras pimpinan Netanyahu maupun aliansi oposisi utama Eisenkot tidak memperoleh cukup suara untuk membentuk pemerintahan.
Hasil ini membuka jalan bagi negosiasi alot dan ketidakpastian politik yang bisa berlangsung beberapa pekan ke depan.
Komisi menyatakan, hasil perolehan suara masih mungkin mengalami koreksi dalam beberapa hari ke depan sebelum diserahkan kepada Presiden Israel Isaac Herzog pada 4 November mendatang, namun perubahannya dinilai tak akan signifikan.
Herzog nantinya akan menentukan siapa yang dianggap memiliki peluang terbaik untuk menggalang dukungan mayoritas, lalu meminta tokoh tersebut untuk membentuk pemerintahan.
Herzog akan berkonsultasi dengan para pemimpin partai setelah secara resmi menerima hasil penghitungan suara pekan depan.
Jumlah perolehan kursi akhir akan ditetapkan secara resmi pada 4 November. Setelah itu partai-partai politik diberi kesempatan untuk mengajukan keberatan atau gugatan hukum hingga 18 November.
Assaf Shapira, pengamat dari Israel Democracy Institute di Yerusalem, kelompok riset nonpartisan, mengatakan Herzog kemungkinan besar akan memberi kesempatan pertama kepada Eisenkot untuk membentuk pemerintahan.
Menurut Shapira, berdasarkan hukum Israel serta preseden pemilu sebelumnya, pemimpin partai yang mendapat rekomendasi terbanyak dari para pemimpin partai saat berkonsultasi dengan Presiden biasanya akan diberi prioritas.
Sementara itu tingkat partisipasi pemilih mencapai angka tertinggi sejak 1999.
Netanyahu tampil lebih baik dari perkiraan, memanfaatkan kekhawatiran para pemilih terhadap kekuatan politik Arab dan potensi ancaman keamanan untuk meraup suara terbanyak.
Sepanjang masa kampanye, Eisenkot memposisikan dirinya sebagai antitesis bagi Netanyahu. Dia menegaskan Netanyahu telah mendorong Israel ke jurang otoritarianisme dan merusak reputasi Israel di kancah internasional.
Keunggulan Netanyahu di parlemen menghadirkan pilihan sulit bagi Eisenkot dan bloknya yang memiliki keragaman ideologi: apakah akan menjalin aliansi dengan partai-partai Arab atau justru bergabung dengan Netanyahu dalam pemerintahan persatuan nasional.
Proses pembentukan pemerintahan bisa menjadi alot dan panjang, memakan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.
Setelah Herzog menunjuk seorang kandidat, figur tersebut memiliki waktu 28 hari untuk bernegosiasi dengan faksi-faksi lain guna membentuk mayoritas pemerintahan. Batas waktu tersebut juga dapat diperpanjang selama 14 hari.
Jelang Pelantikan Kapolri dan Reshuffle Kabinet, Jajaran Menteri Hingga Listyo Sigit Tiba di Istana
Jika kandidat pertama gagal, Presiden dapat menugaskan hingga dua kandidat lainnya untuk mencoba membentuk pemerintahan.
Jika mereka gagal, maka pemilu akan diulang.
Namun, Herzog menegaskan segala upaya harus dilakukan untuk menghindari pemilu lanjutan.
Menurut Israel Democracy Institute, berdasarkan pengalaman sejarah, pembentukan pemerintahan Israel biasanya memakan waktu 20 hingga 100 hari.









