Pembersihan Militer Tiongkok, Jenderal Senior Sekutu Dekat Xi Jinping Ikut Dicopot
JAKARTA – Pembersihan besar-besaran terhadap para petinggi militer Tiongkok mendapat sorotan dari para pengamat. Langkah ini dinilai berpotensi mengganggu kesiapan tempur Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), tetapi di sisi lain memperkuat kendali Presiden Xi Jinping atas militer.
Perombakan terbaru, yang mencakup pengusiran dua tokoh militer paling senior di Tiongkok, Zhang Youxia dan Liu Zhenli, dari Partai Komunis maupun militer, telah memicu pengawasan yang lebih ketat di ranah militer dan politik. Perkembangan ini terjadi di tengah langkah Beijing yang meningkatkan pengerahan militer di sekitar Taiwan serta di wilayah-wilayah sengketa di Laut Tiongkok Selatan dan Laut Tiongkok Timur sembari mempercepat modernisasi PLA.
Dilansir Nilepost, Minggu (25/10/2026), pencopotan Zhang Youxia tergolong sangat signifikan. Sebagai putra dari seorang rekan dekat ayah Xi Jinping, ia dianggap sebagai sekutu militer Xi yang paling berpengaruh dan menjabat sebagai wakil Xi di Komisi Militer Pusat (CMC), badan komando militer tertinggi di negara tersebut. Ia juga merupakan perwira PLA paling senior yang memiliki pengalaman tempur nyata, setelah sempat bertugas dalam perang Tiongkok melawan Vietnam pada tahun 1979.
Pembersihan ini telah menciptakan kekosongan kepemimpinan. Puluhan perwira yang relatif junior telah ditempatkan di posisi-posisi senior, baik di dalam CMC, komando wilayah (teater), maupun berbagai matra militer. Sementara itu, lima posisi dalam panel kepemimpinan CMC yang beranggotakan tujuh orang hingga kini masih kosong.
Memperkuat Kendali Xi
Penyingkiran anak didik Zhang, beserta pihak-pihak yang berafiliasi dengan mantan komisaris politik militer Miao Hua, telah semakin memperkuat kendali Xi atas PLA.
Kampanye antikorupsi Xi, yang diluncurkan setelah ia berkuasa pada tahun 2012, telah menjangkau partai, pemerintahan, dan militer. Menurut para analis, apa yang awalnya lebih banyak berfokus pada pemberantasan korupsi dan penyimpangan dalam pengadaan barang/jasa, kini semakin kental dengan dimensi politik.
Pasukan Roket PLA, yang bertanggung jawab atas kekuatan rudal konvensional maupun nuklir Tiongkok, termasuk di antara satuan yang terdampak oleh penyelidikan sebelumnya.
Namun, para pejabat Tiongkok berpendapat bahwa langkah pembersihan ini justru ditujukan untuk memperkuat, bukan melemahkan, efektivitas militer.
Kemampuan Tempur dalam Sorotan
Pertanyaan yang lebih sulit adalah apakah pergolakan kepemimpinan yang berulang dapat memengaruhi kemampuan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dalam melaksanakan operasi militer yang kompleks.
Di tengah gejolak tersebut, Tiongkok tetap mempertahankan postur pertahanannya, terus melakukan uji coba persenjataan, serta melaksanakan latihan yang semakin canggih. Namun, situasi darurat berskala besar, seperti yang mungkin terjadi terkait Taiwan, akan menuntut koordinasi komando, operasi gabungan, dan pengambilan keputusan yang jauh lebih berat.
Sejauh ini, PLA berhasil menjaga agar operasi militer rutin tidak terpengaruh oleh gejolak kepemimpinan. Akan tetapi, Xi tampaknya bersedia menerima gangguan jangka pendek demi mencapai disiplin yang lebih ketat dan kesiapan tempur jangka panjang.
Ketidakpastian ini diperparah oleh minimnya perwira senior yang memiliki pengalaman operasional seperti Zhang. Tiongkok belum pernah terlibat dalam perang besar sejak 1979, sehingga sosok pemimpin senior yang benar-benar teruji dalam pertempuran menjadi sangat langka.
Loyalitas Politik Tetap Utama
Pembersihan ini juga menegaskan peran mendasar PLA sebagai sayap bersenjata Partai Komunis, alih-alih sebagai institusi militer nasional yang beroperasi secara independen dari partai tersebut.
Surat kabar PLA Daily menyatakan bahwa Zhang dan Liu telah berkontribusi terhadap masalah politik dan korupsi yang melemahkan “kepemimpinan mutlak” Partai atas militer, serta merusak ekosistem politik dan efektivitas tempur militer.
Oleh karena itu, bagi Xi, mempertahankan kendali politik mungkin lebih diutamakan daripada gangguan jangka pendek yang timbul akibat penggantian para komandan yang berpengalaman.
Struktur kepemimpinan CMC diperkirakan akan tetap belum pasti hingga kongres penuh Partai Komunis berikutnya, yang dijadwalkan pada tahun 2027. Ketidakpastian tersebut juga dapat mempersulit hubungan militer dengan negara lain di tengah meningkatnya ketegangan regional.
Dampak langsung dari pembersihan ini mungkin masih dapat dikelola. Namun, pertanyaan jangka panjangnya adalah apakah militer—yang semakin dibentuk berdasarkan loyalitas politik—dapat sekaligus menghadirkan fleksibilitas operasional dan kepemimpinan berpengalaman yang diperlukan untuk menghadapi perang besar.








