Perkuat Pendidikan Tinggi Pesantren, Kemenag Gagas Program 1.000 Doktor Mahad Aly

Perkuat Pendidikan Tinggi Pesantren, Kemenag Gagas Program 1.000 Doktor Mahad Aly

Gaya Hidup | sindonews | Jum'at, 6 November 2026 - 15:06
share

Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama (Kemenag) Basnang Said, menggagas program pengembangan 1.000 doktor Ma’had Aly sebagai bagian dari upaya memperkuat kualitas pendidikan tinggi pesantren.

Program yang diwacanakan berlangsung pada 2027–2031 tersebut akan diawali dengan pemetaan kebutuhan dosen dan potensi lulusan di 95 Ma’had Aly yang tersebar di Indonesia.

Baca juga: Prabowo Panggil Mendiktisaintek dan Gubernur URI, Bahas Kurikulum Pendidikan Tinggi

Menurut Basnang, pengembangan sumber daya manusia Ma’had Aly membutuhkan perencanaan jangka menengah yang terukur. Pemetaan tidak cukup hanya mencatat jumlah dosen, tetapi juga harus mengidentifikasi kebutuhan tenaga pengajar berdasarkan bidang keilmuan, jumlah mahasantri, kualifikasi akademik, dan potensi alumni yang dapat dipersiapkan menjadi dosen.

“Kita harus ada peta kebutuhan dosen kita selama lima tahun dan kita perjuangkan,” ujar Basnang, melalui siaran pers, Jumat (6/11/2026).Gagasan tersebut disampaikan Basnang saat memberikan arahan sekaligus membuka Forum Konsultasi Akademik Nasional dan Pemetaan Kebutuhan Kurikulum Ma’had Aly di Tangerang, Kamis (5/11/2026).

Ia menjelaskan, hasil pemetaan tersebut dapat menjadi dasar untuk menjajaki kerja sama pembiayaan pendidikan lanjutan dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Melalui pendekatan ini, kesempatan melanjutkan studi ke jenjang magister maupun doktor diharapkan lebih sesuai dengan kebutuhan pengembangan akademik setiap Ma’had Aly.

Baca juga: Universitas Brawijaya Buka Rekrutmen Calon Dosen 2026, Simak Persyaratannya

Basnang mencontohkan kebutuhan tenaga pengajar pada bidang sejarah peradaban Islam, hadis, fikih, dan tafsir yang memiliki karakteristik berbeda antarlembaga. Karena itu, alokasi kesempatan studi perlu mempertimbangkan kebutuhan riil masing-masing program studi.

Ia juga mengusulkan agar lulusan potensial Ma’had Aly, khususnya dari angkatan beberapa tahun terakhir, mulai diidentifikasi dan dipersiapkan untuk mengikuti program pendidikan lanjutan. Mekanisme tersebut perlu disertai kesepakatan dengan lembaga asal agar peningkatan kualifikasi akademik memberikan manfaat langsung bagi pengembangan Ma’had Aly.“Sekarang kita petakan 95 Ma’had Aly itu. Kita pasang program 1.000 doktor Ma’had Aly,” katanya.

Selain penguatan dosen, Basnang menyoroti kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan tinggi pesantren. Menurutnya, Ma’had Aly perlu memiliki fasilitas akademik yang lebih representatif untuk mendukung kegiatan perkuliahan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Ia mengungkapkan bahwa sebagian Ma’had Aly masih menggunakan ruang pembelajaran secara bergantian dengan satuan pendidikan lain di lingkungan pesantren. Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian agar penyelenggaraan pendidikan tinggi memiliki fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan akademiknya.

Dalam kesempatan yang sama, Basnang meminta agar integrasi data akademik Ma’had Aly menjadi salah satu prioritas yang ditindaklanjuti. Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat pengakuan terhadap lulusan pendidikan tinggi pesantren, terutama ketika mereka memasuki dunia kerja atau melanjutkan pendidikan.

Ia menyinggung komunikasi yang telah dilakukan dengan pihak Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan serta perlunya tindak lanjut integrasi data dengan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti).Menurutnya, persoalan verifikasi data akademik tidak boleh terus menjadi hambatan bagi lulusan Ma’had Aly dalam mengakses kesempatan yang tersedia bagi lulusan perguruan tinggi lainnya.

Basnang berharap pembahasan teknis dan koordinasi antarkementerian dapat menghasilkan langkah konkret sebelum memasuki tahun anggaran 2027.

Penguatan karier akademik dosen juga menjadi perhatian Basnang. Ia menilai perlu adanya kajian mengenai mekanisme rekognisi pembelajaran lampau (RPL), pengakuan kualifikasi dosen, serta pengembangan jenjang jabatan akademik di lingkungan Ma’had Aly.

Basnang berharap para pengajar yang memiliki kedalaman keilmuan dan pengabdian panjang dalam tradisi pendidikan pesantren memperoleh kesempatan pengakuan akademik melalui mekanisme yang sah dan terukur.

Ia juga menyinggung peningkatan dukungan kesejahteraan dosen Ma’had Aly pada 2026. Bantuan insentif yang sebelumnya sebesar Rp250 ribu meningkat menjadi Rp1 juta per bulan bagi dosen penerima yang memenuhi persyaratan, dengan masa pemberian selama delapan bulan.

Basnang berharap dukungan tersebut dapat terus diperkuat seiring dengan pembenahan data dosen dan kemampuan anggaran pemerintah pada tahun-tahun mendatang.

Topik Menarik