Anak hingga Remaja Bisa Alami Hipertensi, Kenali Apa Saja Jenisnya
HIPERTENSI atau tekanan darah tinggi kerap dianggap sebagai penyakit yang hanya menyerang kelompok lanjut usia. Namun, anggapan tersebut keliru, ternyata anak-anak dan remaja rupanya juga tak luput dari risiko hipertensi.
Dokter Spesialis Anak, dr. Reza Fahlevi, dalam unggahan di akun Instagramnya @dr_rezafahlevi pada 5 November 2026 mengungkapkan bahwa klasifikasi hipertensi pada kelompok anak dan remaja terbagi menjadi dua jenis utama, yakni hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Distribusi kedua jenis ini pun terbukti berbeda berdasarkan kelompok usia.
“Ada 2 jenis hipertensi pada anak: hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Pada anak usia <6 tahun, proporsi hipertensi sekunder lebih banyak. Pada anak usia >6 tahun, proporsi hipertensi primer lebih banyak,” tulis dr. Reza, dikutip Jumat (6/11/2026).
1. Faktor Gaya Hidup Harian dan Genetik
Lebih lanjut, dr. Reza menjelaskan bahwa hipertensi primer pada anak dan remaja umumnya berkaitan erat dengan faktor gaya hidup harian serta faktor genetik.
“Yang pertama adalah hipertensi primer. Hipertensi primer ini lebih disebabkan oleh pola hidup. Misalnya makanan tinggi natrium, kondisi obesitas, kurang tidur, stres ya, atau adanya faktor keturunan hipertensi dalam keluarga,” jelasnya.
Sementara itu, hipertensi sekunder terjadi akibat adanya masalah medis mendasar pada organ tubuh tertentu. Hal ini memicu timbulnya tekanan darah tinggi.
“Dan penyebab kedua adalah hipertensi sekunder. Hipertensi sekunder ini artinya ada penyebab di organ lain yang memicu terjadinya hipertensi pada anak,” terang dr. Reza.
2. Pemicu
Menurut dr. Reza, gangguan pada ginjal menjadi pemicu paling umum pada jenis ini. Meskipun, ada pula faktor medis lainnya seperti faktor hormonal atau adanya permasalahan pada jantung.
“Penyebab yang paling sering adalah adanya masalah pada organ ginjal. Bisa juga hormonal, misalnya pada kondisi hormon tiroid yang berlebihan, itu juga bisa memicu hipertensi pada anak. Atau masalah pada jantung, ini juga bisa menyebabkan hipertensi pada anak,” tambahnya.
Mengingat perbedaan akar masalah dari kedua jenis tersebut, dr. Reza mengimbau para orangtua untuk tidak mengabaikan gejala hipertensi pada buah hati. Orangtua diminta segera membawa mereka ke fasilitas kesehatan agar tertangani dengan tepat.
“Jadi, kalau anak mengalami hipertensi, harus dikonsultasikan ke dokter anak untuk dicari dulu penyebabnya apakah dia hipertensi primer atau hipertensi sekunder. Sehingga nanti tata laksananya juga lebih terarah dan tepat sasaran,” pungkas dr. Reza.









