Viral! Cerita Pelari Perempuan Alami Pelecehan saat Lakukan Sport Massage

Viral! Cerita Pelari Perempuan Alami Pelecehan saat Lakukan Sport Massage

Gaya Hidup | okezone | Jum'at, 6 November 2026 - 13:05
share

KASUS dugaan pelecehan seksual dalam layanan sport massage di kalangan komunitas lari menjadi perbincangan hangat di media sosial. Sejumlah perempuan yang mengaku pernah menggunakan jasa seorang terapis olahraga mulai angkat bicara melalui platform Threads.

Mereka membagikan pengalaman tidak menyenangkan yang disebut terjadi saat menjalani pemijatan untuk mengatasi keluhan otot maupun cedera. Pengakuan tersebut menjadi perhatian setelah salah seorang pelari perempuan menceritakan dugaan pelecehan yang dialaminya menjelang event lari populer pada tahun ini.

Cerita itu kemudian memicu perempuan lain untuk turut menyampaikan pengalaman serupa. Mereka berharap pengungkapan tersebut dapat menjadi peringatan bagi komunitas lari, terutama perempuan, agar lebih berhati-hati dalam memilih pelatih maupun tenaga profesional olahraga.

1. Pelari Mengaku Alami Tindakan Tidak Pantas saat Sport Massage

Melalui akun Threads @litaambrsr, seorang pelari perempuan menceritakan pengalaman yang diklaim dialaminya pada 18 Oktober 2026. Ia mengaku membuat janji sport massage karena mengalami keluhan pada bagian kaki dan punggung. Pertemuan dengan terapis tersebut berlangsung sekitar pukul 12.00 WIB di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta.

Namun, ia mulai merasa janggal ketika diminta membuka kaitan bra, terlebih proses pemijatan berlangsung di area terbuka atau outdoor. Menurut pengakuannya, ketika terapis sedang memijat bagian punggung dan pundak, tangan terapis kemudian berlanjut ke bagian dada hingga meraba sisi payudaranya dari atas ke bawah secara berulang.

Ia mengaku merasa tidak nyaman, tetapi tetap mengikuti arahan karena menganggap terapis tersebut lebih memahami prosedur perawatan profesional. Korban juga menyebut tidak mendapatkan penjelasan mengenai alasan bagian dada perlu dipijat, padahal keluhan awalnya berada di area punggung dan kaki.

Setelah sesi selesai, terapis tersebut disebut sempat meminta maaf. Bahkan, permintaan maaf kembali disampaikan melalui pesan pribadi. Dalam unggahannya, korban mengaku terapis tersebut menyampaikan bahwa tindakannya telah kelewatan dan mengakui dirinya terbawa suasana.

Pengalaman tersebut membuat korban mengalami perasaan campur aduk, mulai dari sedih, marah, hingga takut untuk kembali beraktivitas. Ia bahkan sempat mempertimbangkan untuk membatalkan keikutsertaannya dalam Jakarta Running Festival 2026.

2. Pelari Perempuan Lain Ikut Mengaku Alami Hal Serupa

Pengakuan tersebut kemudian mendapat respons dari perempuan lain yang mengaku pernah menggunakan jasa terapis yang sama. Akun Threads @fitriaisla turut menyampaikan bahwa dirinya juga pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan ketika menggunakan jasa terapis tersebut untuk menangani cedera saat JRF.

Ia mengaku awalnya mempercayai terapis karena menganggapnya sebagai tenaga profesional yang dapat membantu mengatasi keluhan fisiknya. Namun, setelah membaca sejumlah pengakuan perempuan lain, ia kembali teringat pada pengalaman yang pernah dialaminya.

Ia juga menyebut kejadian tersebut terasa mengguncang. Hal ini membuatnya kembali mengingat pengalaman yang sebelumnya berusaha disimpan sendiri.

Pengakuan lain datang dari akun @iamsarahra yang menceritakan pengalamannya ketika menjalani pemijatan untuk mengatasi keluhan shin splint saat bertugas sebagai pacer. Dalam unggahannya, ia mengaku tangan terapis bergerak terlalu jauh ketika memijat bagian kaki hingga menyentuh area selangkangan.

Ia mengaku terkejut dengan tindakan tersebut. Namun, karena baru mengenal terapis yang bersangkutan, dirinya tidak berani langsung menyampaikan keberatan. Pengakuan dari sejumlah perempuan ini semakin memperluas perhatian publik terhadap dugaan pelecehan dalam layanan sport massage di lingkungan komunitas lari.

 

3. Pelari Perempuan Berhak Merasa Aman

Melalui pengakuan yang dibagikan di Threads, para perempuan tersebut berharap komunitas olahraga dapat menjadi ruang yang aman bagi semua orang. Mereka mengingatkan para pelari, khususnya perempuan, agar lebih berhati-hati dalam memilih coach, fisioterapis, maupun terapis sport massage.

Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa profesionalisme dalam dunia olahraga bukan hanya berkaitan dengan kemampuan menangani cedera dan memulihkan otot, tetapi juga menyangkut penghormatan terhadap privasi, persetujuan, dan batasan tubuh setiap klien.

Sebab, setiap orang berhak mendapatkan layanan profesional tanpa harus merasa takut atau khawatir mengalami tindakan yang tidak diinginkan.

Topik Menarik