Kurang Gerak Bisa Picu Cedera, Jalan Kaki 7.000 Langkah Jadi Solusi Sederhana

Kurang Gerak Bisa Picu Cedera, Jalan Kaki 7.000 Langkah Jadi Solusi Sederhana

Gaya Hidup | sindonews | Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:15
share

Kurang bergerak ternyata bisa menjadi salah satu penyebab cedera dan keluhan tubuh yang paling sering dialami masyarakat. Kebiasaan duduk terlalu lama, jarang berolahraga, hingga terlalu banyak rebahan dapat membuat tubuh lebih rentan mengalami masalah dan akhirnya membutuhkan fisioterapi.

Chief Physiotherapist Physiorehab, Simon Tri Prasetyo, mengatakan cedera umumnya disebabkan oleh dua faktor, yakni kurang bergerak dan kecelakaan atau accident. Namun, berdasarkan pengalamannya menangani pasien, keluhan akibat gaya hidup minim aktivitas justru lebih banyak ditemukan.

“Jadi kita tuh cedera ada dua: kurang gerak dan juga accident paling sering. Nah, yang kurang gerak ini yang bikin klinik fisio penuh, daripada yang accident,” ujar Simon saat ditemui di Physiorehab Clinic Meruya, Selasa (6/10/2026).

Baca Juga : 5 Cara Lakukan Sit-up yang Benar agar Tak Cedera

Menurut Simon, kebiasaan duduk berjam-jam tanpa diimbangi aktivitas fisik menjadi salah satu masalah yang banyak dialami masyarakat, terutama mereka yang bekerja di depan komputer.Ia pun menyarankan masyarakat untuk tetap aktif bergerak di tengah kesibukan. Aktivitas fisik tidak harus selalu dilakukan dengan olahraga berat atau menghabiskan waktu berjam-jam di pusat kebugaran.

Salah satu cara paling sederhana yang bisa dilakukan adalah memperbanyak jalan kaki. Simon menyarankan orang dewasa menargetkan sekitar 7.000 hingga 8.000 langkah setiap hari.

“Kalau olahraga enggak sempat gimana? Step harian. Jadi, ukur pakai jam digitalnya, sehari berapa step. Idealnya dewasa, 7.000 sampai 8.000 step,” katanya.

Baca Juga : 3 Dampak Buruk Kurang Olahraga Bagi Kesehatan Tulang, Nomor Terakhir Wajib DiketahuiKaum Rebahan Jadi Penyumbang Pasien Fisioterapi

Simon mengatakan kurangnya aktivitas fisik dapat membuat tubuh kehilangan kebiasaan untuk bergerak secara optimal. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memicu berbagai keluhan, terutama ketika seseorang terlalu lama berada dalam posisi duduk.“Kurang gerak, banyak duduk, tidak olahraga, kaum rebahan tuh paling banyak penyumbang pasien kita. Sport injury tuh malah sedikit,” ujarnya.

Meski begitu, bukan berarti orang yang selama ini jarang berolahraga bisa langsung melakukan aktivitas fisik dengan intensitas tinggi. Tubuh tetap membutuhkan proses adaptasi agar tidak mengalami cedera.

Simon mengingatkan, olahraga dengan intensitas tinggi secara tiba-tiba justru bisa menjadi masalah bagi tubuh yang belum terbiasa.

“Jangan juga tiba-tiba main padel seminggu lima kali. Kaget, kan. Itu juga bikin cedera,” kata Simon.

Karena itu, ia menyarankan masyarakat membangun kebiasaan bergerak secara bertahap. Jalan kaki dapat menjadi pilihan utama karena mudah dilakukan, tidak membutuhkan biaya, serta bisa disisipkan dalam rutinitas sehari-hari.Jika memiliki waktu lebih, aktivitas jalan kaki juga dapat dikombinasikan dengan olahraga lain. Misalnya, olahraga high impact seperti padel atau bulu tangkis dilakukan sekitar satu kali dalam sepekan, kemudian dilengkapi dengan pilates atau latihan di gym pada hari lainnya.

“Kalau bisa jalannya cukup, ada olahraga high impact seminggu sekali, let say apa, padel, badminton, oke. Dua hari sisanya kalian pilates dan gym,” tutur Simon.

Kurang Gerak Bisa Picu Nyeri Pinggang dan LeherDampak kurang bergerak juga dapat muncul dari kebiasaan duduk terlalu lama dengan posisi tubuh yang kurang baik. Dua bagian tubuh yang paling sering mengalami keluhan adalah pinggang dan leher.

“Pinggang dan leher. Jadi yang pertama dia akan lower back pain,” ungkap Simon.

Kebiasaan duduk membungkuk atau slouching dapat memberikan tekanan berlebih pada tubuh. Begitu pula dengan posisi kepala yang terlalu maju atau forward head posture yang kerap terjadi ketika seseorang terlalu lama menatap layar komputer maupun ponsel.Jika dilakukan terus-menerus, posisi tubuh yang buruk ditambah minimnya aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai keluhan muskuloskeletal.

Karena itu, menjaga tubuh tetap aktif tidak harus selalu dilakukan melalui olahraga berat. Membiasakan diri berjalan kaki, berdiri dan melakukan peregangan di sela pekerjaan, serta menghindari duduk dalam posisi yang sama selama berjam-jam dapat menjadi langkah sederhana untuk menjaga kondisi tubuh.

Pada akhirnya, tubuh tetap membutuhkan gerakan. Sesibuk apa pun aktivitas sehari-hari, menyempatkan diri untuk berjalan dan bergerak secara rutin dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk mengurangi risiko keluhan akibat gaya hidup sedentari.

Topik Menarik