Mengurangi Konsumsi Kafein Bisa Turunkan Tekanan Darah? Ini Penjelasannya

Mengurangi Konsumsi Kafein Bisa Turunkan Tekanan Darah? Ini Penjelasannya

Gaya Hidup | sindonews | Senin, 2 November 2026 - 16:55
share

Mengurangi atau berhenti mengonsumsi kafein sering dikaitkan dengan penurunan tekanan darah. Meski begitu, efeknya tidak selalu sama pada setiap orang karena dipengaruhi oleh kebiasaan minum kafein, kondisi kesehatan, hingga jenis minuman yang dikonsumsi.

Dikutip dari Verywell Health, kafein diketahui dapat meningkatkan tekanan darah dalam waktu singkat karena sifatnya sebagai stimulan. Kenaikan tersebut umumnya bersifat ringan dan sementara, berlangsung sekitar 1,5 hingga 9,5 jam setelah dikonsumsi.

Baca juga: Bolehkah Mengonsumsi Suplemen Zat Besi dan Vitamin D Secara Bersamaan? Ini Penjelasannya

Namun, respons tubuh terhadap kafein dipengaruhi berbagai faktor, seperti frekuensi konsumsi, tekanan darah awal, berat badan, kebiasaan merokok, kehamilan, hingga penggunaan kontrasepsi hormonal. Karena itu, menghentikan konsumsi kafein tidak selalu memberikan efek yang sama pada setiap individu.

Orang yang rutin mengonsumsi kopi juga dapat membangun toleransi terhadap kafein. Akibatnya, tekanan darah mereka cenderung tidak lagi meningkat secara signifikan setelah minum kopi dibandingkan orang yang jarang mengonsumsinya. Hingga kini, para ahli masih memperdebatkan apakah kafein hanya memengaruhi tekanan darah dalam jangka pendek atau juga berdampak dalam jangka panjang.

Baca juga: Ribuan Warga Jakarta Alami Katarak, Ini Upaya Percepat Penanganannya

Meski demikian, membatasi konsumsi kafein dapat menjadi pertimbangan bagi orang yang memiliki hipertensi berat. Sebuah penelitian yang melibatkan lebih dari 18.000 orang selama hampir 19 tahun menunjukkan bahwa penderita hipertensi derajat 2 dan 3 yang mengonsumsi dua cangkir atau lebih kopi per hari memiliki risiko kematian akibat stroke, serangan jantung, atau penyakit kardiovaskular lebih tinggi dibandingkan mereka yang hanya minum satu cangkir atau kurang.

Menariknya, penelitian yang sama tidak menemukan peningkatan risiko serupa pada konsumsi teh hijau, meski minuman tersebut juga mengandung kafein. Hal ini menunjukkan bahwa jenis minuman berkafein juga dapat memengaruhi respons tubuh.

Di sisi lain, menghentikan konsumsi kafein secara mendadak dapat memicu gejala putus kafein. Kondisi ini biasanya muncul dalam 12 hingga 24 jam setelah konsumsi terakhir dan dapat berupa sakit kepala, kelelahan, sulit berkonsentrasi, mudah marah, mual, hingga nyeri otot.

Untuk mengurangi gejala tersebut, para ahli menyarankan mengurangi konsumsi kafein secara bertahap, bukan langsung berhenti. Istirahat yang cukup, menjaga asupan cairan, dan bila perlu menggunakan obat pereda nyeri sesuai anjuran juga dapat membantu tubuh beradaptasi.

Magang/Kirana Gina Anindita

Topik Menarik