Tubuh Makin Bungkuk dan Pendek saat Masuk Usia Tua, Benarkah Tanda Osteoporosis?

Tubuh Makin Bungkuk dan Pendek saat Masuk Usia Tua, Benarkah Tanda Osteoporosis?

Gaya Hidup | okezone | Senin, 2 November 2026 - 15:05
share

JAKARTA — Bertambahnya usia kerap kali diidentikkan dengan perubahan bentuk fisik, salah satunya tinggi badan yang tampak menyusut atau postur tubuh yang perlahan mulai membungkuk. 

Banyak masyarakat menganggap kondisi ini sebagai hal yang wajar akibat proses penuaan alami. Namun, penurunan tinggi badan yang signifikan dan disertai rasa pegal berkepanjangan justru bisa menjadi alarm bahaya adanya ancaman osteoporosis.

Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi, Subspesialis Orthopaedi Tulang Belakang, dr. Dohar A.L Tobing, Sp.OT, Subsp.OTB(K), menjelaskan bahwa perubahan struktur tulang belakang pada lansia memang terjadi secara alamiah karena penipisan bantalan antar-ruas tulang. Kendati demikian, masyarakat diimbau tidak mengabaikan gejala yang memburuk.

“Dalam pengertian bahwa orang kalau makin tua lebih pendek, iya. Oleh karena kalau kita ingat ruas tulang belakang itu kan ada tulang dan antara ruas tulang ada bantalan. Nah secara natural bantalan itu makin tipis, sehingga secara natural orang kalau udah lanjut usia tentu akan makin pendek tinggi badannya,” ujarnya, Jumat (30/10/2026).

Ia menegaskan, penurunan tinggi badan yang terjadi terus-menerus dan dibarengi perubahan postur menjadi semakin bungkuk patut dicurigai sebagai indikasi osteoporosis. 

“Cuman kalau misalnya itu disertai dengan makin pendek terus makin bungkuk, tentu perlu diperiksa ‘ada apa nih kok makin bungkuk?’ atau misalnya makin pendek makin pendek terus ngeluh pegal terus. Nah kalau pada lansia seringkali itu ternyata ada osteoporosis,” tambahnya.

Dokter Dohar menjelaskan, osteoporosis secara medis merupakan kondisi menurunnya kepadatan massa tulang secara drastis sehingga struktur tulang menjadi rapuh dan berpori. Ia memberikan analogi sederhana untuk menggambarkan kerapuhan tersebut dimana tulang nampak seperti sarang tawon yang berarti tulang tersebut telah keropos. 

“Osteoporosis adalah apa, kepadatan tulang yang berkurang. Jadi tulang yang begitu padat, pernah makan sup buntut kan? Nah tulang itu ya keras kayak gitu, tulang kita tuh sama kayak tulang sapi, keras banget. Tapi pada orang yang udah tua itu jadi kayak sarang tawon bolong-bolong tulangnya,” jelas dr. Dohar. 

Kondisi tulang yang rapuh bak sarang tawon membuat tulang kehilangan kekuatan untuk menopang beban tubuh. Akibatnya, fungsi gerak bisa menurun dan akhirnya kerap membuat lansia diperlakukan secara berlebihan oleh pihak keluarga, seperti dilarang beraktivitas. Padahal, kurangnya pergerakan justru memicu penurunan massa otot dan memperburuk kondisi kesehatan fisik secara keseluruhan.

Sementara itu, Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi dan Traumatologi Subspesialis Cedera Olahraga, dr. Henry Suhendra, Sp.OT, Subsp.CO(K) memaparkan bahwa osteoporosis primer secara umum terbagi menjadi dua kelompok besar, yakni post-menopause dan senilis.

“Dikatakan osteoporosis itu kan terjadi biasanya ada dua tipe. Ini kita bicara osteoporosis primer, yang bukan karena penyakit. Itu yang karena penyakit sekunder namanya. Kalau yang primer itu rata-rata dibagi dua, yaitu yang satu osteoporosis post-menopause, itu pada wanita,” papar dr. Henry.

Menurutnya, wanita berisiko mengalami penurunan kepadatan tulang lebih awal seiring memasukinya fase menopause akibat perubahan hormonal. Sementara jenis senilis menyerang kelompok usia lanjut tanpa memandang jenis kelamin.

“Jadi dekat-dekat menopause sudah mulai itu dong, osteoporosis. Kalau yang kedua tuh senilis, senilis tuh untuk orang tua. Nah, itu lebih tua 60-70. Nah, itu sama, laki-laki perempuan sama. Tapi kalau yang postmenopause, perempuan. Perempuan duluan kena karena menopause, kalau laki-laki kan nggak ada, ya andropause beda dah,” terangnya.

Maka dari itu, ia menyarankan olahraga sebagai aktivitas agar memperkuat tulang sejak awal khususnya di masa puncak tulang tengah kuat. Olahraga bisa membentuk ketebalan tulang saat masa tua jika dilakukan secara rutin sejak muda. Mengingat penebalan tulang tidak terjadi dalam waktu singkat melainkan belasan tahun.

“Jadi makin tebal, makin tebal, terus mencapai puncak 30-an, habis itu turun semua. Jadi kalau misalnya puncakmu, puncaknya tinggi, nanti turunnya sampai umur 50-60 masih bagus,” pungkas dr. Henry.

Kekhawatiran akan fenomena silent disease ini diperkuat oleh data International Osteoporosis Foundation (IOF). IOF mencatat bahwa satu dari tiga perempuan dan satu dari lima laki-laki berusia 50 tahun ke atas diprediksi akan mengalami patah tulang akibat osteoporosis sepanjang hidupnya. Risiko ini mengancam mobilitas, kemandirian, hingga kualitas hidup lansia.

Topik Menarik