Harga Minyak Diramal Turun ke USD30 per Barel, Meski Pasar Bergerak Naik

Harga Minyak Diramal Turun ke USD30 per Barel, Meski Pasar Bergerak Naik

Ekonomi | sindonews | Sabtu, 31 Oktober 2026 - 09:00
share

Pendiri ARK Invest Cathie Wood memprediksi harga minyak mentah dunia dapat turun ke kisaran USD30-35 per barel seiring meningkatnya penggunaan kendaraan listrik yang mengurangi permintaan bahan bakar fosil. Proyeksi tersebut muncul ketika harga minyak justru bergerak naik dan mendekati level tertinggi dalam enam bulan terakhir akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

"Kami memang percaya harga minyak bisa turun ke kisaran USD30 hingga USD35," kata Wood dalam episode Oktober program "In The Know" milik ARK Invest, sebagaimana dikutip Benzinga, Sabtu (31/10/2026).

Baca Juga:Selat Hormuz Kembali Memanas, Harga Minyak Dunia Tembus USD117 per Barel

Dalam cuplikan wawancara yang diunggah ARK Invest melalui platform X pada Selasa (27/10), Wood menyebut sekitar 57 konsumsi minyak digunakan untuk sektor transportasi. Menurut dia, permintaan tersebut mulai beralih ke energi listrik, diawali di China dan Eropa, kemudian diperkirakan meluas ke Amerika Serikat.

Wood menilai penurunan harga minyak kali ini berpotensi terjadi bukan karena krisis ekonomi atau gangguan pasar, melainkan pergeseran teknologi akibat elektrifikasi transportasi. Ia mengatakan perubahan tersebut dapat menekan permintaan minyak dalam jangka panjang sekaligus membantu menurunkan ekspektasi inflasi.

Prediksi itu berlawanan dengan perkembangan pasar dalam jangka pendek. Harga minyak naik pada Rabu setelah kelompok Houthi Yaman mengklaim menyerang kilang minyak di Arab Saudi, sehingga memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi di kawasan Timur Tengah. Kenaikan tersebut terjadi sehari setelah harga minyak melemah karena pelaku pasar mencermati pembicaraan perdamaian terkait perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Baca Juga:Senator AS Kecam Perusahaan Minyak Raup Untung Rp2.357 Triliun dari Perang Iran

Wood sebelumnya juga menyampaikan perkiraan serupa pada September, dengan menyebut Abu Dhabi dan kemungkinan Arab Saudi akan berupaya meningkatkan produksi sebelum harga minyak turun. Ia bahkan menyatakan tidak akan terkejut apabila harga minyak kembali menyentuh USD30 per barel.

Meski demikian, Wood pernah meleset dalam memperkirakan pergerakan harga minyak. Pada Juli 2020, ia memproyeksikan harga minyak dapat kembali mendekati USD12 per barel. Ketika harga melonjak dua tahun kemudian, ia mengakui keliru membaca guncangan pasokan, tetapi tetap meyakini bahwa dalam jangka panjang permintaan yang lebih rendah akibat perubahan teknologi akan menekan harga minyak.

Topik Menarik