Singapura Dihantam Badai PHK, Ini Penyebabnya
Pemutusan hubungan kerja (PHK) di Singapura meningkat pada Kuartal III 2026 seiring berlanjutnya restrukturisasi perusahaan di tengah ketidakpastian ekonomi global dan perubahan teknologi. Berdasarkan data Kementerian Tenaga Kerja Singapura (MOM) yang dirilis pada 30 Oktober 2026, jumlah pekerja yang terkena PHK mencapai 4.800 orang meningkat 3,9 dibandingkan Kuartal II 2026 sebanyak 4.620 orang.
"Kenaikan ini, bersamaan dengan meningkatnya jumlah aktual PHK, menunjukkan munculnya kelemahan di sejumlah bagian pasar tenaga kerja yang perlu dipantau secara ketat, meskipun secara keseluruhan pasar tenaga kerja masih terus berkembang," kata MOM dikutip dari The Straits Times, Sabtu (31/10/2026).
Baca Juga:Korban PHK di Singapura Cetak Rekor Tembus 4.800 Orang, Tertinggi sejak Pandemi Covid-19
Jumlah PHK tersebut merupakan yang tertinggi sejak akhir 2020. Meski demikian, tingkat PHK tercatat stabil sebesar 2 orang untuk setiap 1.000 pekerja. Sektor jasa menyumbang lebih dari 80 dari total pengurangan tenaga kerja, terutama pada sektor yang berorientasi ke pasar eksternal, seperti informasi dan komunikasi, jasa keuangan, serta manufaktur. MOM menyebut restrukturisasi bisnis menjadi faktor utama di balik peningkatan PHK tersebut.
Di sisi lain, pasar tenaga kerja Singapura masih mencatat pertumbuhan. Total lapangan kerja bertambah 27.700 posisi pada Kuartal III 2026, lebih tinggi dibandingkan Kuartal II 2026 sebanyak 11.400 posisi dan periode yang sama pada 2025 sebanyak 25.100 posisi. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh peningkatan tenaga kerja nonpenduduk di sektor konstruksi dan manufaktur, sementara penyerapan tenaga kerja penduduk Singapura terkonsentrasi pada sektor jasa esensial dan pelayanan publik.Tingkat pengangguran penduduk Singapura meningkat menjadi 3 pada September 2026, dari 2,9 pada Agustus. Sementara itu, tingkat pengangguran warga negara naik menjadi 3,1 dari 3, sedangkan tingkat pengangguran secara keseluruhan tidak berubah pada 2.
Survei MOM menunjukkan ekspektasi perekrutan perusahaan membaik. Sebanyak 42,3 perusahaan memperkirakan akan merekrut pekerja dalam tiga bulan ke depan pada September, meningkat dari 30,5 pada Agustus. Persentase perusahaan yang berencana menaikkan upah juga bertambah menjadi 19,9 dari 16,9. Namun, angka tersebut masih berada di bawah capaian Juli, yang mengindikasikan perusahaan tetap berhati-hati menghadapi ketidakpastian ekonomi. Pada saat yang sama, proporsi perusahaan yang memperkirakan akan melakukan PHK naik menjadi 3,1 dari 2,8.
Ekonom Maybank Chua Hak Bin menilai pasar tenaga kerja Singapura berada dalam kondisi minim perekrutan dan minim pengunduran diri atau low hire, low quit. Kondisi tersebut diperkirakan berlanjut seiring semakin luasnya penggunaan kecerdasan buatan (AI), yang berpotensi mengurangi kebutuhan tenaga kerja, khususnya pada sektor jasa profesional.
Baca Juga:Sosok dan Kontroversi Calvin Cheng, Politisi Singapura yang Ancam Potong Kabel Internet IndonesiaMeski demikian, platform rekrutmen Jobstreet by SEEK mencatat jumlah lowongan kerja di Singapura meningkat 8 pada Kuartal III 2026 dibandingkan kuartal sebelumnya, terutama pada sektor teknologi informasi dan komunikasi, elektronik, jasa keuangan, serta konstruksi.
Respons Spekulasi Pasar, Investor Diminta Cermati Kualitas Aset dan Profitabilitas Perusahaan
MOM mendorong perusahaan beradaptasi dan berinvestasi dalam peningkatan keterampilan tenaga kerja. Pemerintah menyediakan sejumlah program, antara lain Career Conversion Programme, Mid-Career Pathways Programme, dan SkillsFuture Workforce Development Grant untuk mendukung pelatihan ulang serta peningkatan kompetensi pekerja.
MOM dijadwalkan merilis data lengkap pasar tenaga kerja Kuartal III 2026 pada pertengahan Desember 2026. Laporan tersebut akan mencakup informasi lebih terperinci, termasuk kecepatan pekerja yang terkena PHK dalam memperoleh pekerjaan kembali.









