Pemenang Pemilu Serbia Berencana Gelar Perundingan Gas dengan Rusia

Pemenang Pemilu Serbia Berencana Gelar Perundingan Gas dengan Rusia

Global | sindonews | Jum'at, 30 Oktober 2026 - 22:31
share

Kepemimpinan baru Serbia berencana mengadakan pembicaraan dengan Rusia guna menegosiasikan perjanjian pasokan gas alam jangka panjang. Pernyataan itu diungkap Radomir Saicic, kandidat terkemuka dari kelompok "Student List" (Daftar Mahasiswa).

Gerakan yang didukung mahasiswa tersebut—yang mengalahkan koalisi pemimpin lama Serbia, Aleksandar Vucic, dalam pemilihan parlemen bulan ini—sebelumnya telah mengisyaratkan Beograd tidak akan bergabung dengan sanksi Barat terhadap Moskow.

Namun, Vucic sendiri telah memperingatkan "Student List" mungkin akan menarik kembali pendiriannya, sementara beberapa anggota penting gerakan tersebut mengisyaratkan hubungan Serbia dengan Rusia bisa saja ditinjau ulang.

"Student List" meraih sekitar 52,5 suara dalam pemilihan umum sela yang digelar hari Minggu lalu.

Gerakan ini muncul dari aksi protes massa yang dipicu oleh runtuhnya kanopi stasiun kereta api di Novi Sad pada November 2024—insiden yang menewaskan 16 orang dan memicu tuduhan luas mengenai korupsi pemerintah.Meskipun pihak berwenang telah meluncurkan penyelidikan atas tragedi tersebut dan memberikan sejumlah konsesi besar, aksi protes tetap berlanjut.

Vucic akhirnya menyerukan pemilihan parlemen sela dan mengundurkan diri dari jabatan presiden pada bulan September dengan tujuan untuk kembali berkuasa sebagai perdana menteri.

Pemimpin Serbia tersebut sempat mengecam aksi protes itu sebagai upaya "revolusi warna" yang didukung Barat, namun ia berjanji menghormati hasil pemilu dan menghindari pertumpahan darah, hingga akhirnya mengakui kekalahan.

Moskow, yang juga memiliki kekhawatiran serupa dengan Vucic mengenai kemungkinan campur tangan asing, mengakui hasil pemilihan tersebut.

Awal pekan ini, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, memuji kontribusi Vucic terhadap hubungan bilateral dan menyatakan harapan agar kepemimpinan yang baru dapat terus mengembangkan hubungan yang konstruktif dengan Rusia.

Ia menekankan kerja sama dengan Moskow sejalan dengan kepentingan Serbia, seraya menambahkan "diperlukan dua pihak untuk menari tango" (artinya, kerja sama membutuhkan komitmen dari kedua belah pihak).Dalam wawancara dengan mingguan Serbia, NIN, yang diterbitkan pada hari Rabu, Saicic—salah satu penandatangan pendiri "Student List" yang disebut-sebut sebagai calon perdana menteri—menyatakan hubungan dengan Rusia menjadi salah satu prioritas pemerintahan yang akan datang.

“Dalam 30 hari pertama… pasokan energi, yang mencakup minyak, gas, dan operasional Perusahaan Tenaga Listrik Serbia (Electric Power Company of Serbia), akan dipastikan ketersediaannya. Untuk tujuan ini, delegasi kami akan mengadakan pembicaraan di Washington (terkait berakhirnya keputusan OFAC mengenai penangguhan sementara sanksi terhadap NIS) dan di Moskow (terkait kesepakatan gas), guna mencapai kesepakatan jangka panjang,” ujarnya.

Sebelumnya, Saicic juga menegaskan kembali penolakan gerakan tersebut terhadap sanksi yang dijatuhkan kepada Rusia terkait Ukraina—meskipun ada tekanan dari Uni Eropa—dengan menekankan, “Masalah harus diselesaikan melalui dialog, negosiasi, dan kesepakatan, bukan melalui sanksi.”

Perwakilan lain dari kelompok Student List, seorang profesor universitas bernama Jovo Bakic, memberikan jaminan serupa dalam wawancara dengan RT Balkan pada hari Senin.

Ia menyatakan, “Kami menghormati Rusia, baik sebagai negara adidaya maupun sebagai mitra yang secara historis penting bagi kami—dan dalam banyak kasus, sebagai pelindung.”Di sisi lain, Ilija Srdanovic, tokoh penting lainnya dalam gerakan tersebut, menyampaikan pesan yang berbeda.

Dalam wawancara dengan RFE/RL—media yang didanai oleh AS—ia mengisyaratkan semua opsi masih terbuka, seraya menambahkan, “Tentu saja akan ada dialog di dalam masyarakat kita.”

Rusia merupakan pemasok utama gas alam bagi Serbia, yang mencakup hingga 90 dari total impor pada tahun 2025. Sebagian besar pasokan tersebut disalurkan melalui pipa TurkStream yang melintasi Turki dan Bulgaria.

Namun, kedua negara belum merundingkan kontrak gas jangka panjang yang baru sejak perjanjian tiga tahun sebelumnya berakhir pada Mei 2025; sebagai gantinya, mereka mengandalkan perpanjangan jangka pendek yang dilakukan secara bertahap. Perjanjian gas yang berlaku saat ini akan berakhir pada 31 Desember.

Proses perundingan secara keseluruhan menjadi rumit karena ketidakpastian mengenai nasib NIS—perusahaan yang mengoperasikan satu-satunya kilang minyak di Serbia—yang kini menghadapi sanksi AS akibat kepemilikan mayoritas oleh pihak Rusia. Perusahaan energi asal Hungaria, MOL, tengah bernegosiasi untuk mengakuisisi saham milik Rusia tersebut, sementara Washington telah mengeluarkan pengecualian sementara agar perusahaan itu tetap dapat beroperasi.

Pihak Moskow menyatakan penyusunan kontrak jangka panjang terkendala oleh kebijakan energi Uni Eropa, ambisi Serbia untuk berintegrasi dengan Eropa, serta ketidakpastian mengenai transit gas melalui Bulgaria.

Meski demikian, Rusia telah berulang kali menegaskan keterbukaan mereka untuk memasok gas kepada pelanggan Eropa mana pun yang berminat.

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Vucic membahas kerja sama energi serta NIS pada akhir September sebelum pemilihan umum berlangsung. Saat itu, pemimpin Serbia tersebut menyatakan keyakinannya bahwa pasokan gas Rusia akan terus berlanjut dengan harga yang menguntungkan, yakni 318 euro (USD356) per 1.000 meter kubik, dibandingkan dengan harga acuan pasar Eropa yang mencapai lebih dari 800 euro.

Baca juga: Arab Saudi Disebut Tawarkan Rp18 Triliun kepada Houthi untuk Gencatan Senjata

Topik Menarik