Tentara Israel Jadi Mata-mata Iran, Bocorkan Koordinat Pangkalan Zionis demi Kripto
Seorang tentara Israel telah ditangkap dan didakwa menjalankan serangkaian tugas spionase untuk kepentingan Iran dengan imbalan mata uang kripto. Kasus pengkhianatan tentara tersebut diumumkan otoritas keamanan Zionis Israel pada hari Kamis.
Tentara tersebut ditangkap pada September setelah penyelidikan gabungan yang dilakukan badan keamanan dalam negeri Israel; Shin Bet, Kepolisian Israel, dan Polisi Militer.
Baca Juga: Iran Masih Bisa Impor Bahan Rudal Rp41,7 Triliun, Sanksi dan Blokade AS Tak Mempan
"Dia dicurigai melakukan pelanggaran keamanan serius, termasuk menjalin komunikasi dengan agen intelijen Iran dan menjalankan tugas-tugas atas arahan mereka," bunyi pernyataan bersama ketiga lembaga tersebut, yang dilansir Times of Israel, Jumat (30/10/2026).
Pada hari Kamis, jaksa militer mengajukan dakwaan terhadap tentara tersebut atas tuduhan menyampaikan informasi kepada musuh dengan maksud membahayakan keamanan negara dan menguntungkan pihak musuh, serta menjalin kontak dengan agen asing.Shin Bet, Kepolisian Israel, dan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan bahwa selama pemeriksaan, terungkap bahwa tentara yang identitasnya tidak diungkap tersebut telah menjalin komunikasi dengan agen-agen Iran selama sekitar satu tahun.Selama periode tersebut, dia memberikan informasi sensitif mengenai aktivitas militer unitnya, kesiapan IDF, serta mobilisasi pasukan. Informasi yang dibagikan bahkan mencakup detail mengenai pemanggilan dirinya untuk bertugas ketika perang dengan Iran pecah pada awal tahun ini.
"Penyelidikan juga menemukan bahwa tentara tersebut mengetahui identitas perekrutnya yang berasal dari Iran. Sebagai imbalan atas informasi yang dikirimkan, dia menerima pembayaran dalam bentuk mata uang kripto," lanjut pernyataan bersama ketiga lembaga keamanan tersebut.
Pihak jaksa mengatakan tentara itu mengirimkan informasi mengenai pangkalan-pangkalan militer beserta koordinat lokasinya. Dia juga memotret sistem pencegat rudal, kendaraan militer, serta pesawat pengisian bahan bakar milik Amerika Serikat (AS) yang diparkir di sebuah bandara di Israel.
Di Depan Musuh Bebuyutan Rusia, Pemimpin Kazakhstan Sebut Putin sebagai Negarawan Luar Biasa
Menurut pernyataan tersebut, tentara itu bertindak dengan cara yang sangat serius dan membahayakan orang-orang di sekitarnya dengan mengirimkan informasi mengenai rekan-rekan serta komandannya kepada perekrut Iran.
Dia mengetahui bahwa perekrut tersebut akan berusaha merekrut rekan-rekan dan komandannya untuk melakukan kegiatan spionase, imbuh pernyataan bersama Shin Bet, Kepolisian Israel, dan Polisi Militer. Hasil penyelidikan menemukan bahwa tentara itu mengirimkan tautan grup Telegram kepada perekrut Iran. Grup bernama "Kal Bakrav (Mudah dalam Pertempuran)" tersebut diperuntukkan bagi warga muda Israel yang sedang mempersiapkan diri untuk bergabung dengan militer.
Menurut dokumen dakwaan, perekrut Iran kemudian bergabung dengan grup tersebut.
Ditawari Pistol dan Ponsel Khusus untuk Komunikasi Rahasia
Pada suatu kesempatan, perekrut Iran memerintahkan tentara Israel tersebut memasang aplikasi komunikasi berbahaya untuk melakukan percakapan terenkripsi. Perekrut juga menawarkan untuk membelikannya ponsel sederhana tanpa fitur pintar (dumb phone) dan sebuah pistol.Si tentara Israel dan perekrut Iran juga sepakat menggunakan kode-kode tertentu dalam percakapan mereka. "Keduanya bahkan menyusun cerita samaran jika tentara tersebut diketahui oleh aparat keamanan," menurut pernyataan bersama tiga lembaga keamanan Israel.
Jaksa mengatakan bahwa tentara itu pernah ditawari uang sebesar USD200.000 untuk melakukan perjalanan ke Iran.Pengadilan militer menyatakan masa penahanan tentara tersebut diperpanjang hingga 12 November. Namun, dia diperkirakan akan tetap ditahan sampai seluruh proses persidangan selesai.
Selama dua tahun terakhir, puluhan warga Israel, termasuk sejumlah tentara aktif dan personel cadangan, telah didakwa melakukan spionase untuk kepentingan Iran.
Dalam banyak kasus, agen-agen Iran merekrut warga Israel melalui media sosial, khususnya Telegram.
Para perekrut Iran biasanya pada awalnya memberikan tugas-tugas yang relatif sederhana kepada orang-orang yang mereka rekrut, seperti melakukan vandalisme atau merekam lokasi-lokasi publik. Tugas tersebut kemudian meningkat menjadi pelanggaran yang lebih serius, bahkan terkadang melibatkan kekerasan.
Meningkatnya jumlah agen Iran bahkan mendorong Israel membuka sayap baru di Penjara Damon, Haifa, untuk menampung para terdakwa kasus spionase tersebut. Sebagian besar kasus masih menjalani proses hukum.
Pada Juli, seorang tentara Israel yang sedang menjalani wajib militer dijatuhi hukuman lima tahun penjara karena melakukan tugas-tugas spionase untuk kepentingan Iran.







