Binance Ungkap Rp114 Triliun Dicuri dalam Peretasan Kripto Terbesar dalam Sejarah

Binance Ungkap Rp114 Triliun Dicuri dalam Peretasan Kripto Terbesar dalam Sejarah

Global | sindonews | Jum'at, 30 Oktober 2026 - 20:18
share

Bursa mata uang kripto Binance mengungkapkan dana senilai sekitar USD6,3 miliar (Rp114 triliun) telah dicuri dalam "insiden keamanan" yang tampaknya menjadi peretasan kripto terbesar dalam sejarah. Bursa kripto terbesar di dunia tersebut menyatakan pada hari Kamis (29/10/2026) bahwa mereka telah menangguhkan seluruh aktivitas penyetoran dan penarikan.

Binance telah membekukan dana sekitar USD3 miliar menyusul peretasan yang terjadi.

Binance menyebutkan penyelidikan awal menunjukkan seorang peretas berhasil melakukan transaksi tidak sah setelah mendapatkan akses ke laptop seorang insinyur yang telah disusupi.

Perusahaan tersebut menyatakan akan menanggung seluruh kerugian dan menegaskan dana pengguna tetap "aman".

"Tim kami bekerja sepanjang waktu untuk menyelesaikan masalah ini dengan aman dan menyeluruh," ujar Binance dalam pernyataan kepada Al Jazeera."Kami bekerja sama secara erat dengan mitra penegak hukum untuk mengidentifikasi para pelaku dan membawa mereka ke pengadilan."

Perusahaan menambahkan mereka akan membagikan analisis teknis yang "terperinci" setelah penyelidikan selesai.

Changpeng Zhao, pendiri sekaligus pemegang saham terbesar Binance, sebelumnya menyatakan bursa tersebut tampaknya telah diretas.

Dalam laporan, firma intelijen blockchain TRM menyatakan dengan "tingkat keyakinan tinggi" bahwa serangan tersebut dilakukan unit peretas Korea Utara, TraderTraitor, yang menurut para penyelidik memiliki keterkaitan dengan Lazarus Group.

Ari Redbord, kepala kebijakan global di TRM, menggambarkan serangan ini sebagai peristiwa yang "belum pernah terjadi sebelumnya" dan menjadi "titik balik" yang signifikan."Ketika Korea Utara mencuri dalam skala sebesar ini, dana tersebut digunakan untuk membiayai proliferasi senjata dan berbagai aktivitas lain yang menciptakan ketidakstabilan. Hal ini menjadikannya masalah keamanan global, bukan sekadar pencurian kripto," ungkap Redbord kepada Al Jazeera.

Harga Bitcoin, mata uang kripto paling populer di dunia, turun sekitar 5 persen setelah insiden tersebut, jatuh ke bawah angka USD77.000.

"Binance merupakan salah satu bursa terpusat terbesar. Oleh karena itu, pukulan terhadap kepercayaan terhadap platform ini berisiko mengguncang keyakinan banyak investor ritel, yang pada gilirannya dapat menekan harga aset kripto," ujar Sean Foley, pakar pasar kripto di Macquarie University, Sydney, kepada Al Jazeera.

Foley mengatakan serangan tersebut menyoroti risiko bursa terpusat dan dapat mendorong lebih banyak pedagang untuk beralih ke alternatif yang terdesentralisasi.

“Aset apa pun yang disimpan di bursa terpusat keamanannya bergantung sepenuhnya pada bursa tersebut; semakin besar aset yang dikelola oleh satu bursa, semakin besar pula kemungkinan bursa itu menjadi sasaran,” ujar Foley.Peretasan terhadap Binance ini melampaui rekor pencurian kripto sebelumnya, yang terjadi pada tahun 2025 ketika Lazarus Group—kelompok yang didukung oleh negara Korea Utara—melakukan pencurian senilai USD1,5 miliar dari Bybit.

Menurut Crypto Crime Report tahun 2026 yang disusun oleh TRM, penjahat siber mencuri aset kripto senilai USD2,87 miliar melalui hampir 150 insiden peretasan sepanjang tahun 2025.

Berdasarkan data CoinMarketCap, Binance—yang didirikan di China oleh Zhao pada tahun 2017—mengelola aset senilai sekitar USD155 miliar, jumlah yang lebih besar dibandingkan bursa kripto lainnya.

Baca juga: Arab Saudi Disebut Tawarkan Rp18 Triliun kepada Houthi untuk Gencatan Senjata

Topik Menarik