Pentagon Pangkas Jumlah Jenderal AS, Mungkinkan Terjadi Pemberontakan?

Pentagon Pangkas Jumlah Jenderal AS, Mungkinkan Terjadi Pemberontakan?

Global | sindonews | Kamis, 1 Oktober 2026 - 04:40
share

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth akan memangkas jumlah posisi yang diperuntukkan bagi jenderal dan laksamana sebesar 20 persen. Demikian disampaikan seorang pejabat Pentagon kepada Al Jazeera.

Itu menjadi sebuah perubahan yang akan berdampak pada kepemimpinan di Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara. Kebijakan tersebut diperkirakan menimbulkan dampak perlawanan dari para jenderal. Namun, apakah itu bisa memicu pemberontakan para jenderal?

Hegseth diperkirakan akan mengumumkan keputusan tersebut saat mengunjungi Pangkalan Korps Marinir Quantico di Virginia, tempat ia akan menyampaikan pidato "State of the Force" di hadapan para perwira muda dan personel tamtama, ujar pejabat tersebut.

Berbagai media di AS juga telah memberitakan langkah tersebut. Kantor berita Associated Press, mengutip pejabat Pentagon, melaporkan bahwa Hegseth akan menginstruksikan seluruh matra militer untuk melipatgandakan pengurangan—yang sebelumnya ditetapkan sebesar 10 persen tahun lalu—terhadap sekitar 800 posisi perwira tinggi (jenderal dan laksamana). Langkah ini akan menghasilkan total pengurangan sebesar 20 persen dan harus diselesaikan paling lambat 1 Januari 2027.Fox News melaporkan bahwa pengurangan baru ini dapat mencakup jenderal bintang satu ke atas atau perwira dengan pangkat setara di Angkatan Laut.

The Washington Post melaporkan bahwa pemangkasan tersebut dapat berdampak pada karier "ratusan pemimpin militer saat ini maupun yang sedang meniti karier, menyusul serangkaian pemecatan dan penolakan promosi".

Presiden AS Donald Trump atau Hegseth telah memecat atau mendorong pensiun lebih dari dua lusin pemimpin militer sejak menjabat pada Januari 2025, termasuk perwira berseragam tertinggi Angkatan Darat, Jenderal Randy George, pada bulan April.

Pemerintahan tersebut juga memecat dua-satunya perempuan yang menjabat sebagai perwira bintang empat, serta beberapa perwira perempuan senior lainnya. Pejabat tinggi lainnya telah meninggalkan jabatan melalui pensiun dan pengunduran diri, termasuk Menteri Angkatan Darat Dan Driscoll, yang mengundurkan diri bulan ini setelah berulang kali berselisih dengan Hegseth.

Saat Menteri Pertahanan pertama kali mengumumkan upaya untuk memangkas jajaran tertinggi militer, ia berargumen bahwa langkah tersebut bertujuan menghapus "struktur kekuatan yang tumpang tindih demi mengoptimalkan dan merampingkan kepemimpinan". Dalam sebuah memo yang dirilis pada Mei 2025, ia menambahkan bahwa tujuannya adalah membebaskan militer dari "lapisan birokrasi yang tidak perlu".Pada periode yang sama tahun lalu, Hegseth juga menyatakan berakhirnya budaya "woke" dan mengumumkan arahan baru bagi pasukan yang mencakup standar kebugaran fisik yang "netral gender" atau "setara standar pria".

Senator Jack Reed, anggota Partai Demokrat dari Rhode Island sekaligus anggota senior Komite Angkatan Bersenjata Senat, menyatakan kekhawatirannya atas langkah terbaru Hegseth tersebut. Ia mengatakan bahwa penghapusan posisi pimpinan senior harus dilakukan melalui konsultasi dengan Kongres dan memperingatkan bahwa rencana pemangkasan tersebut "seharusnya membuat setiap orang Amerika waspada".

"Kongres telah menegaskan kepada Menteri bahwa ia harus berkonsultasi dengan lembaga ini dan menjelaskan alasannya terkait pencopotan perwira senior serta penundaan promosi. Hingga saat ini, kami belum menerima jawaban yang memuaskan," ujar Reed.

"Militer kita sedang menjalankan operasi besar di seluruh dunia, dan kekuatan militer kita sendiri sudah berada dalam kondisi tertekan," tambahnya.

Jumlah posisi perwira tinggi ditetapkan berdasarkan undang-undang, namun posisi tersebut dapat dibiarkan kosong jika pemerintah tidak mengajukan nama calon kepada Kongres.

Topik Menarik