TKA SMA 2026 Resmi Dimulai, Mendikdasmen Tekankan Pesan Jujur dan Gembira kepada Murid
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengajak seluruh murid SMA, SMK, MA, MAK, dan sederajat mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 dengan menjunjung tinggi kejujuran dan semangat positif.
Pelaksanaan TKA jenjang SMA 2026 dimulai hari ini, Senin (26/10/2026) hingga 29 November 2026 untuk gelombang pertama.
Baca juga: Kemendikdasmen Sebut TKA 2026 di Daerah Bencana Utamakan Keselamatan dan Kesehatan
Melalui pesan kepada para murid, Abdul Mu'ti menekankan pentingnya menerapkan tagline TKA 2026, yakni "Jujur Gembira". Menurutnya, TKA tidak hanya berkaitan dengan hasil yang diperoleh, tetapi juga proses yang dijalani setiap murid dengan sungguh-sungguh dan penuh kejujuran.
Sinopsis Ternyata Ini Cinta Eps 48: Dewa Incar Luna untuk Tekan Saga, Flashdisk Ryan Jadi Target!
"Untuk anak-anakku para murid SMA, SMK, MA, MAK, dan yang sederajat tahun 2026, sesuai dengan tagline 'Jujur Gembira', saya mengajak kalian untuk menyiapkan diri mengikuti TKA dengan sebaik-baiknya," ujar Abdul Mu'ti yang disampaikan melalui akun Instagram resmi Kemendikdasmen, dikutip Senin (26/10/2026).Dia menjelaskan, kejujuran dalam pelaksanaan TKA berarti mengerjakan setiap soal berdasarkan kemampuan diri sendiri tanpa bantuan pihak lain yang mengarah pada kecurangan.
Baca juga: 91,72 Persen Siswa Daftar TKA SMA/SMK 2026, Simak Jadwal Reguler dan Ujian Susulan
Menurut Abdul Mu'ti, nilai yang diperoleh bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan asesmen tersebut. Kesungguhan dan integritas murid selama mengerjakan soal juga menjadi bagian penting dari proses pembelajaran.
"Yang terpenting dari TKA bukan sekadar hasil yang diperoleh, melainkan proses yang dijalani dengan kesungguhan dan kejujuran," katanya.
Selain menjunjung kejujuran, Abdul Mu'ti mengingatkan murid agar mengikuti TKA 2026 dengan semangat, keikhlasan, dan sukacita.Dia meminta para murid menghargai usaha yang telah dilakukan selama mempersiapkan diri menghadapi asesmen. Murid juga didorong untuk menunjukkan kemampuan terbaik tanpa menjadikan hasil TKA sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan.
"Gembira berarti jalani TKA ini dengan semangat ikhlas dan penuh sukacita. Banggalah atas usaha yang telah kalian lakukan. Tunjukkan kemampuan terbaik, dan jadikan hasilnya sebagai kendaraan, sebagai input yang akan mengantarkan kalian ke prestasi yang lebih tinggi," ujarnya.
Abdul Mu'ti juga mengingatkan orang tua, guru, dan masyarakat agar memahami hasil TKA secara utuh dan bijaksana.
Dia menegaskan bahwa hasil asesmen tidak seharusnya dijadikan label untuk menentukan masa depan seseorang. Sebaliknya, hasil TKA dapat dimanfaatkan sebagai bahan refleksi dan dasar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran murid.
"Kepada para orang tua, guru, dan masyarakat, kami ingin menyampaikan bahwa hasil TKA perlu dipahami secara utuh. Mari kita pahami hasil TKA secara bijak," kata Abdul Mu'ti.
Dia menambahkan, hasil asesmen merupakan informasi yang dapat membantu berbagai pihak memahami kebutuhan pembelajaran murid. Dengan pemanfaatan yang tepat, informasi tersebut diharapkan dapat mendukung upaya perbaikan proses pembelajaran di satuan pendidikan.
Karena itu, orang tua dan guru diharapkan tidak semata-mata berfokus pada angka atau capaian hasil TKA, tetapi juga menggunakannya untuk mengenali kemampuan murid dan menentukan langkah peningkatan pembelajaran.










