Wanita Akhir Zaman Makin Diuji, UAH Ungkap 2 Amalan Penjaga Kemuliaan
Menjadi wanita Muslimahdi tengah kehidupan modern bukan perkara mudah. Tuntutan karier, keluarga, aktivitas sosial hingga derasnya arus media sosial kerap membuat perempuan harus membagi perhatian dalam banyak hal. Dalam kondisi tersebut, tak sedikit wanita yang merasa lelah secara mental karena berusaha memenuhi berbagai tuntutan kehidupan.
Persoalan ini turut menjadi perhatian Ustaz Adi Hidayat (UAH)dalam salah satu kajiannya, baru-baru ini. UAH menjelaskan bahwa Islam tidak melarang wanita untuk beraktivitas, bekerja maupun berniaga. Namun, seorang Muslimah tetap memiliki tuntunan agama yang perlu dijaga agar aktivitas tersebut tidak membuatnya meninggalkan kewajiban dan kehormatan dirinya.
Menurut UAH, salah satu kunci kemuliaan wanitaadalah mampu menjaga keseimbangan antara aktivitas kehidupan dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.
Dua Ciri Wanita Salihah dalam Al-Qur'an
Ustaz Adi Hidayat mengaitkan pembahasan mengenai wanita salihah dengan firman Allah dalam Al-Qur'an Surat An-Nisa ayat 34.Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُ
"Perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada karena Allah telah menjaga mereka."
Baca juga:Wanita Akhir Zaman, Sibuk Mempercantik diri dan Mencari Jodoh?UAH menjelaskan terdapat dua sifat penting yang tergambar dalam ayat tersebut, yakni qonitat dan hafidzatun lil ghaib.
Pertama, qonitat, yakni wanita yang memiliki ketaatan kepada Allah. Ketaatan tersebut bukan hanya diwujudkan melalui perilaku lahiriah, tetapi juga dilandasi kecintaan dan ketundukan kepada Allah.
Dalam kehidupan rumah tangga, ketaatan kepada suami juga menjadi bagian dari pembahasan tersebut, selama perintah suami tidak bertentangan dengan ketentuan agama.UAH juga mengingatkan bahwa ketika seorang istri tidak sepakat dengan permintaan suami yang dinilai kurang baik, penolakan dapat disampaikan dengan cara yang lembut dan bijaksana, bukan melalui kemarahan atau pertengkaran.
Kedua, hafidzatun lil ghaib, yakni kemampuan menjaga diri dan kehormatan ketika suami tidak berada di sisinya. Hal ini juga dapat dimaknai sebagai menjaga amanah serta rahasia rumah tangga.
Di era media sosial, pesan tersebut menjadi semakin relevan. Persoalan rumah tangga yang dahulu hanya diketahui oleh lingkaran keluarga kini dapat tersebar luas hanya melalui unggahan status atau media sosial.
UAH mengingatkan agar persoalan pribadi, termasuk aib keluarga, tidak dengan mudah diumbar kepada publik. Menjaga rahasia rumah tangga, menurut penjelasan UAH, merupakan bagian dari upaya menjaga kehormatan keluarga dan menjalankan amanah.
Bukan Curhat di Media Sosial
Bagi wanita yang tengah menghadapi tekanan hidup, UAH juga memberikan pengingat agar tidak menjadikan media sosial sebagai tempat utama untuk melampiaskan kegelisahan.Alih-alih terus mengumbar kegalauan, seorang Muslimah dianjurkan kembali mendekat kepada Allah melalui ibadah. Salah satunya dengan menghamparkan sajadah, memperbanyak doa dan memperbanyak istigfar.UAH juga menyampaikan anjuran memperbanyak istigfar menjelang Subuh atau pada waktu sahur. Amalan tersebut memiliki landasan dalam Al-Qur'an, salah satunya Surat Nuh yang menjelaskan keutamaan memohon ampun kepada Allah.
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ أَنْهَارًا
"Maka aku berkata (kepada mereka), 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.'" (QS Nuh: 10-12).
Pesan tersebut menunjukkan bahwa istigfar bukan sekadar ucapan lisan. Bagi seorang Muslim, istigfar merupakan bentuk pengakuan atas kelemahan diri sekaligus upaya mendekatkan diri kepada Allah.Bagi seorang ibu, doa yang dipanjatkan dalam kesunyian malam juga dapat menjadi ikhtiar spiritual dalam memohon kebaikan bagi keluarga dan anak-anaknya.
Pada akhirnya, menjadi wanita salihah di tengah kehidupan modern bukan berarti harus meninggalkan aktivitas duniawi. Islam memberikan ruang bagi perempuan untuk beraktivitas selama tetap memperhatikan batas-batas yang ditetapkan agama.
Pesan UAH tersebut menekankan pentingnya menjaga ketaatan kepada Allah, kehormatan diri, amanah dalam rumah tangga serta memperkuat hubungan spiritual melalui doa dan istigfar. Dengan demikian, ketika tekanan hidup datang, seorang Muslimah tidak hanya mencari ketenangan melalui dunia luar, tetapi juga memiliki tempat untuk kembali: Allah dan sajadahnya.
Baca juga:5 Tanda Wanita Akhir Zaman Menurut Hadis, Muslimah Perlu Waspada










