Bupati Serang: Tingkatkan Kemajuan Daerah dari Jejak Sejarah Anyer-Panarukan
Bupati Serang, Ratu Rachmatuzakiyah siap menjadikan jalur sejarah Anyer-Panarukan sebagai koridor kemajuan daerah dan ekonomi masyarakat. Rencana tersebut disampaikan dalam peluncuran Festival Anyer-Panarukan 3R: Road, Route, Roots di Gedung T Tower Bank BJB, Jakarta Selatan, Minggu (11/10).
Festival ini digagas Pemkab Serang bersama Pemkab Situbondo, Jawa Timur untuk menggali dan membangkitkan potensi wisata alam, edukasi, dan bahari yang dapat menjadi sumber pendapatan daerah.
Zakiyah, sapaan akrab Bupati Serang, Ratu Rachmatuzakiyah, mengatakan daerahnya memiliki banyak destinasi yang dapat dikembangkan. Kolaborasi ini merupakan upaya menghidupkan kembali Jalan Raya Pos atau Jalan Daendels sepanjang 1.000 kilometer, peninggalan kolonial Belanda, sebagai potensi ekonomi dan wisata.
Festival melibatkan pemerintah daerah dan pusat serta komunitas masyarakat. "Di Kabupaten Serang ini banyak sekali wisata alam, edu wisata, wisata bahari yang saya yakin jika diintegrasikan itu bisa menjadi pendapatan asli daerah yang luar biasa," ujarnya.
Setelah peluncuran, Pemkab Situbondo akan memulai ekspedisi di sepanjang jalur Anyer-Panarukan. Hasilnya dipakai untuk memetakan potensi kerja sama dengan pemerintah daerah yang dilalui. "Nanti kita akan visit ke berbagai kota dan di situ kita akan gali literasi sejarahnya, budayanya, potensi desanya," kata Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo.Ia menyebut, pada 2027, Kabupaten Serang akan menjadi lokasi festival. Pada tahun yang sama, Situbondo setidaknya menggelar Hari Raya Tembakau yang akan menampilkan 5.000 penari.
Dukungan penuh disampaikan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto. Ia berharap festival ini menjadi terobosan besar. Menurut Yandri, jalur sepanjang 1.000 kilometer itu melintasi ribuan desa dengan karakter beragam, mulai kawasan pertanian dan pesisir hingga desa nelayan. “Saya berharap ini bukan hanya seremonial," ujarnya
Jalur Anyer-Panarukan menyimpan sejarah panjang sejak masa kolonial Belanda. Dikenal sebagai Jalan Raya Pos atau De Grote Postweg, jalan ini membentang dari ujung barat di Banten hingga ujung timur Pulau Jawa di Jawa Timur.
Pembangunan jalur tersebut diprakarsai Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels, pada awal abad ke-19, dengan sejumlah alasan. Saat ini, Jalur Anyer-Panarukan menjadi bagian penting dari perkembangan infrastruktur dan wilayah di Pulau Jawa, bahkan dikembangkan sebagai koridor wisata berbasis sejarah dan budaya.
Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) sekaligus penulis disertasi tentang sentralisasi kekuasaan Daendels, Djoko Marihandono menjelaskan awal mula pembangunan Jalur Anyer-Panarukan. Menurutnya, pembangunan jalan tersebut juga dilatarbelakangi kondisi ekonomi masyarakat yang terbebani mahalnya ongkos transportasi.
Djoko menyebut setidak-tidaknya terdapat 22 kota/kabupaten di sepanjang Jalur Anyer-Panarukan. Di antaranya Serang, Tangerang, Bogor, Cianjur, Bandung, Sumedang, Tegal, Semarang, Demak, Rembang, Tuban, Pekalongan, Gresik, Surabaya, Pasuruan, Probolinggo, dan Panarukan. “Jalur Anyer-Panarukan membuka peluang bagi wisatawan yang ingin menjelajahi Pulau Jawa melalui perjalanan darat,” ujarnya.










