Pramono Pamer 'Negara Blok M', Teuku Riefky Bicara Masa Depan Ekraf
Ada alasan mengapa anak muda Jakarta semakin sering menjadikan Blok M sebagai tujuan akhir pekan. Dari berburu kuliner viral hingga menikmati musik dan berkumpul bersama teman, kawasan di Jakarta Selatan itu tumbuh menjadi ruang pertemuan bagi berbagai selera dan komunitas kreatif.
Popularitasnya bahkan membuat Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bergurau menyebutnya sebagai Republic of Blok M atau “Negara Blok M.”
Baca juga: JSD Blok M Festival 2026 Bakal Ramaikan Jakarta dengan Fashion, Musik, dan Komunitas Kreatif
“Blok M menjadi salah satu contoh sukses kawasan kreatif anak muda yang terintegrasi dengan jaringan transportasi umum MRT dan Transjakarta,” ujar Pramono dalam sesi “Jakarta, Home for The Creatives” pada The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Hotel Kempinski Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Dia ingin semangat serupa berkembang di kawasan lain sehingga Jakarta tidak hanya dikenal sebagai pusat pemerintahan dan bisnis, tetapi juga sebagai rumah bagi insan kreatif serta destinasi acara berskala internasional.Ambisi ini ditopang kontribusi ekonomi kreatif yang signifikan. Pramono mengungkapkan sektor tersebut menyumbang lebih dari Rp410 triliun atau sekitar 11 persen dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jakarta.
Dampak ekonomi itu terlihat dari penyelenggaraan berbagai acara di Ibu Kota. Pramono menyebut Pestapora di JIExpo Kemayoran dan konser The Weeknd di Jakarta International Stadium (JIS) pada September lalu menghasilkan perputaran ekonomi hampir Rp250 miliar hanya dalam satu akhir pekan.
Sementara itu, Jakarta Fair Kemayoran tahun ini mencatat nilai transaksi Rp8,2 triliun dengan 6,1 juta pengunjung. Jakarta Great Sale yang berlangsung dari Desember 2025 hingga Maret 2026 juga menghasilkan transaksi Rp26,8 triliun.
Selain mendatangkan penonton, acara berskala besar juga membuka peluang bagi sektor perhotelan, restoran, perdagangan, transportasi, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Karena itu, Pemprov DKI Jakarta mendorong ibu kota menjadi epicenter of events atau pusat penyelenggaraan acara yang mampu memberikan manfaat ekonomi secara lebih luas.
“Saya menyebutnya, Epicenter of Events. Ketika mereka membawa orang ke Jakarta, kami ingin mengambil manfaat ekonomi untuk menjangkau sebanyak mungkin orang,” kata Pramono.Untuk memperluas kesempatan tersebut, Pemprov DKI menyediakan Jakarta Creative Hub sebagai ruang bagi wirausaha muda dan kreator untuk mengakses fasilitas kerja bersama (co-working space), peralatan, pelatihan, serta peluang kolaborasi. Melalui inisiatif Creative Future Labs, pemerintah juga mempertemukan kreator muda dengan pelaku usaha kecil.
Dukungan terhadap industri kreatif turut diwujudkan melalui kebijakan. Pramono menyebut pemberian potongan pajak sebesar 50 persen untuk penayangan film Indonesia berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 591 Tahun 2026. Sekitar 80 persen rumah produksi Indonesia berbasis di Jakarta.
Ke depan, Pemprov DKI berencana mengembangkan tiga kawasan sebagai pusat aktivitas kreatif baru, yakni Pasar Baru, Glodok, dan Kota Tua. Pengembangan ini akan berjalan seiring dengan pembangunan MRT secara bertahap pada 2027–2029 dan penataan kawasan terpadu berbasis transit-oriented development (TOD).
Pasar Baru direncanakan menjadi pusat kuliner 24 jam dengan sajian dari berbagai daerah. Di Glodok, penataan akan menonjolkan sejarah dan warisan budaya masyarakat Tionghoa, sementara Kota Tua akan dikembangkan agar lebih semarak dan menarik bagi pengunjung.
Dalam pidatonya, Pramono turut menyinggung kehadiran produksi film internasional Extraction: Tygo di Jakarta yang melibatkan Lisa BLACKPINK. Dia mengaku sempat ingin mengajak bintang tersebut makan malam sebelum mengurungkan niatnya setelah mendapat peringatan dari orang-orang di sekitarnya.“Banyak orang memperingatkan saya. Jangan lakukan itu, agak berbahaya bagi istri saya,” kata Pramono disambut gelak tawa para delegasi WCCE.
Menurut dia, Jakarta terbuka terhadap berbagai aktivitas kreatif internasional. Dengan sekitar 11 juta penduduk di wilayah Jakarta dan 42 juta jiwa di kawasan megapolitan Jabodetabek, dia melihat keberagaman masyarakat dan besarnya pasar sebagai modal untuk memperkuat posisi ibu kota dalam industri kreatif global.
Dalam kesempatan sama, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat industri ekonomi kreatif nasional. Kementerian Ekonomi Kreatif menyiapkan tiga program unggulan yakni Aktivasi Desa Kreatif, Aktivasi Creative Hub, dan Creative by Indonesia.
Ketiga program dimanfaatkan untuk memperkuat talenta, mendorong lahirnya pegiat usaha kreatif baru, serta mengakselerasi produk kreatif lokal atau dari daerah-daerah di Indonesia sehingga mampu bersaing di pasar nasional maupun global.
Harapannya, ekosistem ekonomi kreatif bisa diperkuat dari hulu hingga hilir sekaligus mendorong lebih banyak kota di Indonesia mengikuti langkah Jakarta.
“Jakarta bisa menjadi model bagi pembangunan industri ekonomi kreatif. Semoga semakin banyak kota lain di Indonesia yang tumbuh sebagai kota ekonomi kreatif,” ujar Teuku Riefky.









