PKS-MUI Bahas Lima Isu Strategis: Ekonomi Syariah, Keluarga, Palestina, hingga Lingkungan
Pimpinan Dewan Pengurus Pusat Partai Keadilan Sejahtera (DPP PKS) yang dipimpin langsung Presiden PKS Almuzzammil Yusuf (AMY) bersilaturahmi dengan Pimpinan ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) Selasa 6 Oktober 2026. Pertemuan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Silaturahmi Kebangsaan yang terus dijalin PKS dengan berbagai elemen bangsa untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam menjawab berbagai persoalan strategis umat dan bangsa.
“MUI adalah corong terkuat yang mewakili persatuan umat. PKS membutuhkan sinergi dengan MUI untuk bersama memperjuangkan aspirasi keumatan,” ujarnya, Rabu (7/10/2026).
Dalam pertemuan tersebut, PKS dan MUI membahas sejumlah isu strategis. Pertama, penguatan ekonomi dan keuangan syariah agar semakin besar kontribusinya terhadap perekonomian nasional. “Kami memandang pengarusutamaan ekonomi syariah diperlukan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru Indonesia,” ujar AMY.
Baca juga: Tanggapi Putusan MK, Gibran : Kalau Saya Nggak Lulus SMA, Saya Nggak Bisa Kuliah
“Potensinya sangat besar, khususnya melalui optimalisasi wakaf produktif dan pengembangan industri halal. Ini harus kita dorong agar memberikan kontribusi nyata dalam menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus menopang upaya pemerintah mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen,” sambungnya.Dia juga menyampaikan pertemuan membahas gagasan RUU Ekonomi Syariah untuk penguatan dari sisi regulasi. "Kita mendiskusikan perlunya omnibus law Rancangan Undang-Undang (RUU) Ekonomi Syariah sebagai payung hukum yang komprehensif untuk mengintegrasikan berbagai regulasi sektoral yang saat ini masih terfragmentasi," tambahnya.
PKS dan MUI juga memiliki perhatian besar terhadap penguatan ketahanan keluarga di tengah berbagai tantangan moral dan sosial yang berkembang, khususnya LGBTQ. "Keluarga harus menjadi benteng utama dalam menjaga generasi. Kita menghadapi berbagai permasalahan moral yang semakin serius, khususnya LGBTQ. PKS telah menerima naskah akademik dan draft RUU Pencegahan dan Penanggulangan LGBTQ dari MUI dan insya Allah siap memperjuangkannya di Baleg DPR," ujar AMY.
"Penyelesaian persoalan LGBTQ harus proporsional: mencegah dan menghentikan tindakan dan propaganda LGBTQ, sekaligus membuka ruang pembinaan, pendampingan, dan rehabilitasi bagi mereka yang membutuhkan,” katanya.
Isu Palestina juga menjadi salah satu pembahasan penting dalam pertemuan tersebut. AMY menegaskan bahwa solidaritas bangsa Indonesia terhadap Palestina tidak boleh pernah padam. “Solidaritas Indonesia untuk Palestina tidak boleh pernah padam. Ini bukan hanya persoalan agama, tetapi persoalan kemerdekaan, kemanusiaan, dan amanat konstitusi kita yang menegaskan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan,” ucap AMY.“Kami mengapresiasi langkah pemerintah bersama berbagai pihak yang memberikan beasiswa pendidikan tinggi bagi mahasiswa asal Palestina di Indonesia. Mendorong pemerintah, parlemen, dan semua komponen bangsa untuk tampil lebih proaktif dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina,” tambahnya.
Selain persoalan kemanusiaan global, PKS dan MUI juga membahas persoalan lingkungan dan perubahan iklim. Menurut AMY, penyelesaian masalah ekologis bagian dari wujud Islam rahamatan lil'alamin.
“Isu lingkungan, keadilan iklim, dan keadilan ekologis merupakan bagian dari nilai Islam rahmatan lil ‘alamin. Kami membahas perlunya regulasi perubahan iklim yang berkeadilan. Memastikan masyarakat yang paling terdampak (terutama kelompok rentan) mendapat perlindungan, penegakan hukum yang tegas terhadap pihak yang merusak lingkungan, sekaligus memastikan keberlangsungan ekosistem alam bagi generasi berikutnya,” tegas AMY.
Terakhir, PKS dan MUI juga menyoroti persoalan kesehatan mental generasi muda yang menurutnya perlu mendapatkan perhatian lebih serius dari keluarga, tokoh agama, masyarakat, dan negara. “Islam hadir untuk menjaga jiwa. Hifzh al-nafs adalah salah satu tujuan utama syariat atau Maqashid Syariah. Karena itu, menjaga kesehatan mental generasi muda juga merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan dan kebangsaan kita. Menjaga jiwa generasi muda hari ini berarti menjaga masa depan bangsa,” pungkasnya.










