Peserta Pramuka PPSN VI 2026 Belajar Ekoteologi di Boon Pring Malang
Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI Tahun 2026 belajar ekoteologi melalui kunjungan edukatif ke kawasan Ekowisata Boon Pring, Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian pembelajaran lingkungan yang mengajak santri memahami hubungan antara nilai keagamaan, kelestarian alam, dan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta diperkenalkan dengan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat sekaligus pemanfaatan energi terbarukan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Santri diajak melihat secara langsung bagaimana potensi air dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi dengan tetap memperhatikan keberlanjutan ekosistem di sekitarnya dan dimanfaatkan untuk kebutuhan air bagi warga sekitar.
Kepala Desa Sanankerto Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Subur menjelaskan, bambu menjadi salah satu potensi alam yang memiliki banyak manfaat bagi masyarakat. Selain berfungsi menjaga keseimbangan lingkungan dan memperkuat struktur tanah, bambu juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, kerajinan, perlengkapan rumah tangga, hingga berbagai produk bernilai ekonomi.
Baca juga: 4.500 Santri Ikuti PPSN VI 2026 di Malang, Menag Dorong Pesantren Akrab dengan Pramuka
“Bambu ini manfaatnya sangat banyak. Selain untuk menjaga lingkungan, bambu juga bisa dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kebutuhan, mulai dari bahan bangunan, kerajinan, sampai produk yang memiliki nilai ekonomi. Karena itu, bambu perlu dijaga dan dikembangkan secara berkelanjutan,” ujarnya, Minggu (4/10/2026).Selain itu, keberadaan bambu di kawasan Boon Pring juga memiliki nilai ekologis yang penting. Tanaman bambu membantu menjaga ketersediaan air dan mendukung keberlangsungan ekosistem di kawasan tersebut. Pengelolaan bambu yang dilakukan secara baik juga dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga lingkungan.
Kunjungan peserta PPSN VI 2026 diharapkan memberikan pengalaman kepada para santri mengenai pentingnya menjaga potensi alam yang ada di sekitar masyarakat. Pembelajaran seperti ini penting agar generasi muda tidak hanya mengetahui manfaat lingkungan secara teori, tetapi juga memahami bagaimana sumber daya alam dapat dirawat dan dimanfaatkan secara bijak.
Lihat video: Ribuan Pramuka Gelar Salat Istisqa Massal, Hadapi Darurat Karhutla di Indonesia
“Harapannya, para santri bisa melihat bahwa menjaga lingkungan itu memberikan banyak manfaat. Bambu yang kita rawat hari ini bisa menjadi sumber kehidupan, sumber ekonomi, sekaligus menjaga lingkungan untuk generasi berikutnya dan tak lupa juga disampaikan dan dilihat potensi serupa ini yang bisa dikembangkan di daerah asal masing-masing,” katanya.Pembelajaran di Boon Pring tidak hanya diarahkan pada aspek teknis pemanfaatan energi, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi peserta mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian alam. Santri dapat melihat bahwa sumber daya alam yang dikelola secara bijak mampu memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa mengabaikan keberlangsungan lingkungan.Konsep tersebut sejalan dengan tema ekoteologi yang menjadi salah satu perhatian dalam rangkaian PPSN VI 2026. Dalam perspektif Islam, manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan memakmurkan bumi. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi perlu diwujudkan melalui perilaku dan tindakan nyata.
Melalui pembelajaran di Boon Pring, peserta PPSN memperoleh pengalaman bahwa pelestarian lingkungan dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari menjaga sumber air, mempertahankan kawasan hijau, mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan, hingga memanfaatkan teknologi energi terbarukan.
Kegiatan ini juga memperluas pengalaman belajar santri di luar lingkungan pesantren. Pramuka menjadi ruang pendidikan yang memungkinkan santri belajar melalui pengalaman langsung, bekerja sama, mengamati lingkungan, sekaligus memahami persoalan ekologis yang dihadapi masyarakat.
Para peserta tampak antusias mengikuti penjelasan mengenai pengelolaan sumber daya air dan PLTMH. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi santri untuk membawa semangat kepedulian lingkungan ke lingkungan pesantren dan masyarakat masing-masing.
Pembelajaran ekoteologi di Boon Pring sekaligus menegaskan bahwa pendidikan santri tidak hanya berkaitan dengan penguatan pengetahuan keagamaan, tetapi juga pembentukan karakter yang peduli terhadap lingkungan. Santri diharapkan mampu menjadi bagian dari generasi yang memahami bahwa menjaga alam merupakan tanggung jawab bersama dan bagian dari pengamalan nilai keagamaan.
Pengalaman belajar langsung seperti di Boon Pring menjadi salah satu cara untuk menanamkan kesadaran bahwa keberlanjutan lingkungan membutuhkan pengetahuan, kepedulian, dan aksi nyata.









