Seratus Tahun Frans Seda, Refleksi Kebijakan Ekonomi di Masa Sulit
Warisan pemikiran ekonom dan negarawan Frans Seda dinilai tetap relevan bagi Indonesia dalam menghadapi tekanan ekonomi, fragmentasi geopolitik, dan ketidakpastian global yang semakin kompleks. Memasuki satu abad kelahirannya, pemikiran Frans Seda kembali menjadi bahan refleksi mengenai pentingnya disiplin fiskal, kedaulatan kebijakan, keberanian mengambil keputusan, dan keberpihakan pada kepentingan publik.
"Seratus tahun Frans Seda merupakan momen penting bagi bangsa saat ini, di mana dalam situasi ketidakpastian saat ini kita membutuhkan teladan pemimpin bangsa. Makna 100 tahun Frans Seda sangat penting karena memberi kita refleksi atas pentingnya integritas dan keberanian mengambil keputusan sulit," ujar Ketua Frans Seda Foundation Steve Ginting dalam Memorial Lecture Edisi Khusus 100 Tahun Frans Seda bertajuk "Kebijakan Ekonomi di Masa Sulit: Pelajaran dari Krisis, Geopolitik, dan Tekanan Struktural" di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta, baru-baru ini.
Baca Juga:Kunjungi Rumah Masa Kecil Frans Seda di Lekebai, Mahfud MD Diapresiasi Tokoh Muda NTT
Forum yang diselenggarakan Frans Seda Foundation bersama Atma Jaya Institute of Public Policy (AJIPP) tersebut dihadiri sekitar 500 peserta, mulai dari pembuat kebijakan, akademisi, pelaku usaha, mahasiswa hingga masyarakat umum. Diskusi tidak hanya melihat Frans Seda sebagai tokoh yang berperan dalam penanganan krisis ekonomi pada masa lalu, tetapi juga menempatkan pengalaman tersebut dalam konteks tantangan ekonomi Indonesia saat ini.
Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka Pangestu mengatakan pengalaman Frans Seda ketika menangani perekonomian pada 1960-an memberikan pelajaran mengenai pentingnya menjaga ruang fiskal ketika negara menghadapi tekanan berat. Pada 1966, katanya, Indonesia menghadapi kondisi ekonomi yang sangat sulit dengan defisit mencapai 128 dari penerimaan dan inflasi pada tingkat yang sangat tinggi."Pada 1966, Indonesia menghadapi kondisi yang sangat berat. Defisit mencapai 128 persen dari penerimaan dan inflasi berada pada tingkat yang sangat tinggi," kata Mari.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyoroti keputusan Frans Seda membuka kembali investasi asing melalui Undang-Undang Penanaman Modal Asing 1967 ketika sentimen nasionalisme ekonomi masih kuat. Menurut dia, pengalaman tersebut relevan untuk melihat bagaimana nasionalisme ekonomi dapat diarahkan menjadi kebijakan yang produktif, terutama ketika Indonesia saat ini menjalankan hilirisasi sekaligus menghadapi meningkatnya proteksionisme global.
Suahasil mengatakan Frans Seda menghadapi tekanan ekonomi yang berat ketika menjabat Menteri Keuangan pada 1966, antara lain hiperinflasi lebih dari 650, cadangan devisa yang habis, ekspor yang tertahan, serta besarnya beban utang luar negeri. Melalui disiplin anggaran, penataan utang, dan kebijakan stabilisasi, inflasi yang pada 1966 berada di atas 650 kemudian turun menjadi 110 pada 1967 dan 85 pada 1968.
Dari perspektif geopolitik, ekonom politik dan praktisi diplomasi Dinna Prapto Raharja menekankan pentingnya kemampuan Indonesia mempertahankan ruang untuk merumuskan kebijakan sesuai kepentingan nasional di tengah rivalitas Amerika Serikat dan China serta kondisionalitas lembaga multilateral. Ketidakpastian global, menurut dia, tidak lagi sekadar bersifat sementara sehingga kebijakan ekonomi dan pembangunan perlu dirancang secara lebih strategis dan adaptif.Sementara itu, ekonom dan mantan Rektor Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya A. Prasetyantoko melihat tekanan akibat krisis sebagai momentum untuk memperkuat reformasi kebijakan dan kelembagaan. Ia menekankan pentingnya menjaga integritas teknokrasi serta menempatkan kebijakan ekonomi dalam kerangka kepentingan publik dan keadilan sosial.
Baca Juga:Meneladani Perjuangan Frans Seda Dalam Pembangunan Negara Indonesia
Direktur AJIPP Salvatore Simarmata mengatakan warisan Frans Seda perlu diterjemahkan menjadi rujukan nyata bagi pembuat kebijakan, terutama melalui perpaduan penguasaan teknis, keberanian mengambil risiko untuk kepentingan jangka panjang, dan keterbukaan dalam menjelaskan pilihan kebijakan kepada publik. Menurut dia, perguruan tinggi memiliki peran penting sebagai ruang yang mempertemukan pengetahuan, nilai, dan bukti dalam perumusan kebijakan publik.
Frans Seda menjabat Menteri Keuangan pada 1966–1968 dan berperan dalam upaya stabilisasi ekonomi pascahiperinflasi, restrukturisasi utang luar negeri melalui Paris Club, serta pembukaan investasi asing secara terukur pada masa transisi politik. Peringatan 100 tahun Frans Seda melalui Memorial Lecture tersebut pada akhirnya menjadi ruang untuk membaca kembali pengalaman masa lalu sebagai bahan pemikiran dalam merespons tekanan ekonomi, geopolitik, dan struktural yang dihadapi Indonesia saat ini.










