Harga CPO Catat Penurunan Mingguan Kedua, Terendah dalam 12 Pekan
IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) mencatat penurunan mingguan kedua berturut-turut.
Harga juga melemah untuk sesi keenam beruntun pada Jumat (2/10/2026), sekaligus mencapai level penutupan terendah dalam 12 pekan, tertekan lemahnya ekspor dan ekspektasi kenaikan persediaan.
Kontrak CPO acuan untuk pengiriman Desember di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 0,46 persen menjadi 4.533 ringgit Malaysia per metrik ton pada Jumat.
Harga tersebut merupakan level penutupan terendah sejak 10 Juli 2026. Dalam sepekan, kontrak tersebut turun 2,98 persen.
“Futures CPO Bursa Malaysia berada di bawah tekanan akibat ekspor yang lemah, produksi yang meningkat, serta kenaikan stok akhir hingga lebih dari 3 juta ton,” ujar seorang trader berbasis di Kuala Lumpur, seperti dikutip Reuters.
Ia menambahkan bahwa produksi meningkat tajam pada September.
Berdasarkan data surveyor kargo Intertek Testing Services dan AmSpec Agri Malaysia, ekspor produk minyak sawit Malaysia pada September turun antara 17,1 persen hingga 28,8 persen dibandingkan Agustus.
Pergerakan harga minyak nabati lainnya juga relatif terbatas.
Harga minyak kedelai (soyoil) di Chicago Board of Trade naik tipis 0,01 persen, sementara Bursa Komoditas Dalian ditutup karena libur nasional.
Harga CPO turut mengikuti pergerakan minyak nabati pesaing karena keduanya bersaing untuk memperoleh pangsa pasar minyak nabati global.
Analis industri Thomas Mielke mengatakan harga minyak nabati global berpotensi meningkat dalam beberapa bulan mendatang hingga 2027 akibat pasokan yang semakin ketat.
Kondisi tersebut dipengaruhi gangguan pengiriman minyak bunga matahari dari kawasan Laut Hitam yang berbarengan dengan penurunan ekspor minyak kedelai dari Amerika Selatan.
Sementara itu, analis industri Dorab Mistry memperkirakan harga CPO Malaysia bergerak dalam kisaran 4.500-5.000 ringgit per ton hingga Desember.
Menurut dia, kenaikan persediaan masih menjadi beban bagi harga, meski produksi tahun depan diperkirakan menurun akibat fenomena El Niño.
Di Indonesia, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor minyak sawit mentah dan olahan mencapai 16,13 juta ton sepanjang Januari-Agustus, turun 0,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. (Aldo Fernando)









