Cerita Dito Darmawan Rela Turun ke Jalan demi Jadi Cosplayer Pocong di Film Conjurig

Cerita Dito Darmawan Rela Turun ke Jalan demi Jadi Cosplayer Pocong di Film Conjurig

Gaya Hidup | sindonews | Selasa, 29 September 2026 - 16:33
share

Harga di brosur itu belum harga mobil yang sebenarnya. Itu baru ongkos membawa mobil pulang. Biaya memiliki mobil justru baru berjalan setelahnya. Servis berkala. Suku cadang. Bensin. Pajak. Asuransi. Lalu yang paling mengerikan: penyusutan nilai.

Ini biasa disebut sebagai Total Cost of Ownership. TCO. Total biaya selama memiliki kendaraan. Mari berhitung. Anda membeli mobil Rp300 juta. Dipakai lima tahun. Sekitar 75.000 km, rata-rata 15.000 km setahun.

Selama lima tahun itu, biaya servis, suku cadang, BBM, pajak dan asuransi habis Rp100 juta. Lalu mobil dijual. Laku Rp180 juta. Berarti nilainya susut Rp120 juta.

Total biaya memiliki mobil itu: Rp220 juta. Bukan Rp300 juta. Bukan pula hanya Rp120 juta.

Kalau dibagi lagi: Rp44 juta setahun. Atau sekitar Rp2.933 untuk setiap kilometer.

Angka itu tentu berbeda di tiap model. Beda pula pola pakainya. Tapi logikanya sama: harga beli hanyalah satu bagian. Di sinilah layanan purnajual ikut masuk hitungan.Contoh lain. Ada dua mobil. Satu Rp300 juta, satunya Rp320 juta. Selisihnya Rp20 juta.

Bengkel dan layanan aftersales sangat penting bagi konsumen sebelum membeli mobil. Foto: SIS

Mobil pertama butuh biaya perawatan dan suku cadang Rp25 juta selama lima tahun. Mobil kedua cukup Rp15 juta. Hasilnya: Rp325 juta lawan Rp335 juta. Selisih Rp20 juta di awal tinggal Rp10 juta. Separuhnya hilang di bengkel.

Itu pun belum memasukkan BBM, pajak, asuransi, ban, depresiasi dan biaya tak terduga. Jadi ini bukan perbandingan TCO resmi. Hanya ilustrasi: after sales bisa menggeser hitungan.

Maka pabrikan kini berlomba memberi kepastian biaya servis.

Suzuki, misalnya. Di situs resminya ada fitur estimasi biaya servis. Konsumen tinggal memilih model, transmisi dan jarak tempuh atau periode perawatan. Angkanya keluar.Suzuki Fronx bahkan diberi servis gratis--jasa dan komponen tertentu--hingga 50.000 km atau 30 bulan.

Menurut hitungan Suzuki, program itu bisa menghemat hingga Rp5 juta. Pengecualiannya di servis 40.000 km untuk varian SGX dan GX: ada komponen tertentu yang harus diganti.

Setelah masa gratis habis, Suzuki membuka estimasi biaya servis 60.000–100.000 km. GL MT Rp5,84 juta. GL AT Rp6,26 juta. SGX/GX MT Rp8,94 juta. SGX/GX AT Rp9,58 juta. Sudah termasuk jasa, suku cadang fast moving dan oli. Sistem hybrid SHVS-nya bergaransi 8 tahun atau 160.000 km.

Saat peluncuran, Dony Saputra, Deputy 4W Sales & Marketing Managing Director PT Suzuki Indomobil Sales, menyebut servis gratis itu satu paket nilai tambah bersama garansi, jaringan bengkel resmi dan jaminan suku cadang.

Suzuki Fronx yang sangat diminati oleh konsumen Indonesia. Foto: SIS"Selain produk berkualitas, pelanggan butuh ketenangan pikiran saat memakainya," ujar Hariadi, Asst. to Aftersales Department Head of Service PT SIS, Agustus tahun lalu.

Tapi baca dulu detailnya. Cakupan servis gratis berbeda di tiap tipe. Acuannya buku servis masing-masing. Lalu soal jaringan. Ini yang baru terasa ketika mobil bermasalah di luar kota.

Suzuki punya diler dan bengkel resmi yang bisa dicari per kota. Ada Halo Suzuki 24 jam: info produk, after sales, lokasi diler, booking servis, sampai bantuan darurat. Booking servis bisa online. Ada pula Suzuki Home Service untuk sejumlah perawatan.

Untuk darurat di jalan ada SERA: Suzuki Emergency Roadside Assistance. Panduan teknisi lewat telepon. Kalau perlu, teknisi datang ke lokasi. Gratis untuk mobil yang masih bergaransi, sesuai ketentuan.

Saat mudik Lebaran lalu, Suzuki menyiagakan 71 titik Bengkel Siaga 2026. Periodenya 18–25 Maret. Tersebar dari Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan hingga Sulawesi. Sebanyak 33 outlet buka 24 jam. 28 outlet buka 12 jam. Sisanya 10 outlet khusus roda dua. Tahun sebelumnya program serupa mencatat lebih dari 4.000 service intake.Mengapa jaringan penting? Mobil yang menganggur di bengkel karena menunggu suku cadang itu juga biaya. Tidak tercatat di kuitansi. Tapi terasa.Terakhir: nilai jual kembali. Inilah pengurang terbesar dalam rumus TCO.

Menurut Suzuki, servis sesuai jadwal bukan sekadar menjaga performa. Ia mencegah kerusakan yang ongkosnya lebih mahal. Juga menjaga harga jual.

Kembali ke ilustrasi awal. Jika mobil Rp300 juta tadi laku Rp190 juta--bukan Rp180 juta--biaya kepemilikan langsung turun Rp10 juta. Mobil dengan riwayat servis jelas biasanya lebih mudah dilirik di pasar mobil bekas.

Maka sebelum tanda tangan SPK, mintalah hitungan lima tahun. Jangan hanya harga on the road. Minta estimasi servis sampai 75.000 km. Harga suku cadang fast moving. Konsumsi BBM. Pajak. Asuransi. Perkiraan harga jual kembali.

Lalu bandingkan dengan merek lain. Dengan parameter yang sama. Mobil yang paling murah di brosur belum tentu paling murah di dompet.

Topik Menarik