100 Tahun Gontor, Ibas: Momentum Menyiapkan Arah Pendidikan dan Peradaban

100 Tahun Gontor, Ibas: Momentum Menyiapkan Arah Pendidikan dan Peradaban

Nasional | sindonews | Sabtu, 19 September 2026 - 20:05
share

Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) memasuki usia satu abad pada 2026. Momentum tersebut menjadi refleksi atas perjalanan panjang pendidikan Islam sekaligus penegasan tantangan baru dalam membentuk generasi yang mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan iman, akhlak, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua MPR, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) saat hadir pada Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor 1926-2026 di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2016).

Dia mengajak seluruh keluarga besar Gontor untuk tidak sekadar memaknai 100 tahun sebagai perjalanan sejarah. Akan tetapi juga menjadi momentum menyiapkan arah pendidikan dan peradaban untuk satu abad berikutnya.

Baca juga: Pemimpin Gontor Persilakan Santri Protes jika Gaya Hidupnya Melebihi Mereka

“Kita tidak sekadar merayakan 100 tahun berdirinya Gontor. Kita merayakan 100 tahun perjalanan menghadirkan nilai-nilai Islam dan membangun manusia,” ujarnya.Ibas menyampaikan penghormatan kepada para pendiri Gontor, Trimurti, yakni KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fannanie, dan KH Imam Zarkasyi, yang telah meletakkan fondasi pendidikan Gontor sejak 20 September 1926.

Menurutnya, dunia telah mengalami perubahan yang sangat cepat. Teknologi berkembang dari era radio dan televisi hingga internet dan kini memasuki era artificial intelligence (AI).

Namun, di tengah perubahan tersebut, terdapat nilai-nilai yang tetap relevan, yakni iman, ilmu, akhlak, kemandirian, dan keikhlasan.

Lihat video: FULL Pidato Presiden Prabowo di Acara Syukuran 1 Abad Ponpes Gontor

“Semakin canggih teknologi, semakin kita membutuhkan adab. Semakin cepat informasi, semakin kita membutuhkan hikmah. Dan semakin pintar artificial intelligence, semakin kita membutuhkan manusia yang berkarakter,” tegas Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR ini.Karena itu, dia berpesan kepada para santri agar tidak memandang kehidupan pesantren sebagai sesuatu yang tertinggal dari perkembangan zaman. Santri justru harus menjadi bagian dari masa depan dengan menguasai ilmu pengetahuan, bahasa, teknologi, serta memahami perkembangan dunia.

Namun, penguasaan tersebut harus tetap disertai fondasi iman dan akhlak. "Indonesia tidak hanya membutuhkan orang pintar. Indonesia membutuhkan orang pintar yang bisa dipercaya,” katanya.

Perkembangan teknologi digital dan AI juga menjadi perhatian khusus dalam pesannya kepada generasi muda, khususnya Generasi Z dan Generasi Alpha.

Ibas mengajak para santri untuk tidak takut terhadap perubahan teknologi, tetapi mampu menempatkan teknologi sebagai alat untuk menciptakan manfaat.

“Kuasi teknologi, jangan diperbudak teknologi. Gunakan media sosial untuk menyebarkan kebaikan, bukan sekadar mengejar perhatian,” pesannya.Dia juga mengingatkan generasi muda agar tetap memiliki kendali atas identitas dan arah kehidupannya di tengah kuatnya pengaruh algoritma digital.

“Algoritma boleh menentukan apa yang kita lihat, tetapi jangan biarkan algoritma menentukan siapa diri kita. Karakter, nilai, dan imanlah yang harus menentukan arah hidup kita,” ujarnya.

Menurutnya, tantangan pendidikan di era teknologi bukan semata-mata menghasilkan manusia yang memiliki kecerdasan tinggi, tetapi membentuk manusia yang mampu menggunakan kecerdasannya untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kepada para alumni Gontor, Ibas berpesan agar nilai-nilai yang diperoleh selama berada di pondok tetap menjadi bagian dari kehidupan setelah kembali ke tengah masyarakat.

Ia menggambarkan bahwa keberadaan Gontor tidak berhenti ketika seorang santri meninggalkan lingkungan pondok.“Ketika alumni menjadi guru yang ikhlas, Gontor hadir. Ketika alumni menjadi pengusaha yang jujur, Gontor hadir. Ketika alumni menjadi pemimpin yang amanah, Gontor hadir,” tuturnya.

Menurutnya, pondok bukan hanya tempat yang pernah ditinggali, melainkan nilai yang dibawa sepanjang kehidupan.

Edhie Baskoro menilai tema tersebut menegaskan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan kesalehan pribadi, tetapi juga mendorong umat untuk membangun kehidupan yang berilmu, berkeadilan, berakhlak, menghargai perbedaan, serta memberikan manfaat bagi sesama.

“Peradaban utama bukan sekadar bangunan yang tinggi dan bukan sekadar teknologi yang canggih. Tetapi manusia yang tinggi ilmunya, mulia akhlaknya, dan besar manfaatnya,” ujarnya.

Topik Menarik