5 Fakta Kanal Pinglu, Gerbang Baru China Menuju Asia Tenggara

5 Fakta Kanal Pinglu, Gerbang Baru China Menuju Asia Tenggara

Global | sindonews | Kamis, 17 September 2026 - 04:40
share

China membuka kanal modern pertama yang menghubungkan sungai ke laut untuk jalur pelayaran pada hari Rabu; sebuah proyek yang bertujuan memangkas jarak pelayaran secara drastis antara wilayah pedalaman selatan negara itu dan Asia Tenggara, kawasan yang menjadi mitra dagang penting.

Kanal Pinglu terletak sepenuhnya di Guangxi, wilayah di ujung selatan China yang berbatasan dengan Vietnam dan menghadap ke Laut China Selatan.

5 Fakta Kanal Pinglu, Gerbang Baru China Menuju Asia Tenggara

1. Akses Lebih Pendek ke Pasar Asia

Melansir Al Jazeera, jalur air sepanjang 134 km (83 mil) ini menghubungkan Sungai Xijiang dengan Teluk Beibu, yaitu lengan barat laut Teluk Tonkin yang membentang di antara China selatan dan Vietnam utara. Jalur ini memberikan akses rute yang lebih pendek menuju laut dan pasar Asia bagi wilayah luas di China barat daya, termasuk provinsi-provinsi seperti Yunnan dan Guizhou.

Sebagai kanal pertama semacam itu yang dibangun oleh Tiongkok komunis, Pinglu merupakan bagian dari Koridor Perdagangan Darat-Laut Internasional Baru: sebuah proyek yang melibatkan provinsi-provinsi di Tiongkok selatan dengan tujuan menghubungkan wilayah di Tiongkok barat dan barat daya dengan negara-negara Asia Tenggara serta pasar global. Koridor perdagangan darat-laut ini sendiri merupakan bagian dari Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative) milik Presiden Tiongkok Xi Jinping, sebuah jaringan jalan raya, pelabuhan, dan jalur kereta api yang berupaya menghubungkan Tiongkok dengan Eropa dan Afrika.

2. Menghemat Biaya

Menurut otoritas setempat di Guangxi, kanal ini akan memangkas jarak pelayaran antara wilayah pedalaman Tiongkok barat daya dan negara-negara Asia Tenggara sekitar 560 km (350 mil) serta mengurangi biaya logistik sebesar 18 hingga 30 persen. Iklan

Estimasi dari Zhang Zhiwen, wakil sekretaris jenderal pemerintah Guangxi, menunjukkan bahwa biaya transportasi saja akan berkurang lebih dari 5 miliar yuan per tahun, atau sekitar 700 juta dolar AS.

3. Memperluas Perdagangan Domestik dan Luar Negeri China

Wakil ketua wilayah tersebut, Lu Xinning, menggambarkan manfaat ini sebagai "keuntungan nyata" yang dapat menekan biaya operasional serta mendorong perdagangan domestik maupun luar negeri.Kanal ini akan memungkinkan pelayaran kapal dengan kapasitas 5.000 ton. Perkiraan biayanya mencapai sekitar 72,7 miliar yuan, atau setara dengan sekitar 10,8 miliar dolar AS.

Hal ini berarti kota-kota dan kawasan industri yang jauh dari pesisir di Tiongkok barat daya akan memiliki akses lebih dekat ke jalur perdagangan maritim. Koridor perdagangan baru ini tidak hanya melayani Guangxi; koridor ini terhubung dengan jaringan lebih luas yang menjangkau Chongqing di Tiongkok barat daya, Chengdu di Provinsi Sichuan, serta Guizhou dan Yunnan, sebelum barang-barang tiba di pelabuhan Teluk Beibu dan kemudian dikirim ke pasar luar negeri.

Perubahan ini terjadi di tengah pesatnya pertumbuhan perdagangan antara Tiongkok dan Asia Tenggara. Menurut Administrasi Umum Kepabeanan Tiongkok, nilai perdagangan bilateral pada paruh pertama tahun 2026 mencapai sekitar 4,34 triliun yuan—atau sekitar 640 miliar dolar AS—yang mencerminkan peningkatan sebesar 18,2 persen secara tahunan.

Di ujung selatan kanal, kapasitas penanganan peti kemas di Pelabuhan Teluk Beibu meningkat dari 2,28 juta TEU pada tahun 2017 menjadi 10,06 juta TEU pada tahun 2025, dengan jaringan pelayaran yang mencakup pelabuhan-pelabuhan utama di Asia Tenggara.

3. Menyulap Jalur Air Jadi Pusat Industri

Guangxi juga sedang berupaya membangun apa yang disebut sebagai "Sabuk Ekonomi Kanal Pinglu", dengan tujuan menarik industri dan menyebarkannya di sepanjang koridor baru tersebut, sembari menghubungkannya dengan pelabuhan, jaringan transportasi, dan rantai pasok.

Sektor-sektor yang disasar mencakup logam non-ferro dan mineral kritis, bahan kimia hijau modern, serta kecerdasan buatan dan teknologi informasi. Kawasan industri juga sedang dikembangkan di dekat pelabuhan, sehingga memperpendek jarak antara lokasi produksi dan pusat pengiriman.Proses pengaturan dan pengarahan arus pengiriman telah mulai memicu aktivitas komersial baru. Sebuah kereta yang mengangkut natrium bisulfat baru-baru ini tiba dari Chongqing—pusat industri dan transportasi utama di Tiongkok barat daya—di pelabuhan Nanning, ibu kota Provinsi Guangxi. Setelah kanal dibuka, pelayaran komersial langsung dijadwalkan akan dimulai menuju pelabuhan Can Tho di Vietnam selatan.

Dari sisi operasional, Guangxi telah menerapkan sistem biaya transit bertingkat yang memberikan masa tenggang bagi operator sebelum mengenakan biaya resmi.

Hingga 31 Desember 2026, kapal komersial dapat melewati ketiga pintu air di sepanjang kanal tanpa dipungut biaya sama sekali. Mulai 1 Januari 2027, biaya sebesar satu yuan (sekitar USD0,14) akan dikenakan untuk setiap ton kapasitas kapal setiap kali melewati pintu-pintu air tersebut. Tarif uji coba ini akan berlaku hingga September 2031.

4. Menggusur Ribuan Orang

Pembangunan kanal berskala besar seperti ini tidak mungkin terlaksana tanpa menangani aspek kemanusiaan yang sensitif: merelokasi ribuan keluarga dari tanah mereka. Menurut sumber resmi, proses relokasi ini melibatkan 2.764 rumah tangga yang terdiri dari 11.228 jiwa yang tersebar di empat wilayah setingkat kabupaten dan kota di Guangxi. Di Hengzhou saja, kesepakatan pemindahan ditandatangani untuk 368 rumah yang kemudian dibongkar total di lahan seluas 84.200 meter persegi (906.321 kaki persegi), dengan 1.221 orang direlokasi sementara.

Proses ini tidak hanya diselesaikan melalui kompensasi finansial. Sebaliknya, 21 model hunian berbeda dirancang agar sesuai dengan adat istiadat warga, termasuk pengaturan arah ruang tamu, area pengeringan hasil panen, kandang unggas, dan ruang penyimpanan bahan kimia pertanian. Di Shaping, kota terbesar dalam proyek relokasi ini, warga mendapatkan rumah empat lantai seluas 420 meter persegi (4.520 kaki persegi), yang beberapa di antaranya dilengkapi dengan ruang usaha yang menghadap ke jalan.

Meski demikian, banyak warga yang masih merasakan kehilangan, walaupun perasaan itu diimbangi oleh harapan akan masa depan yang lebih baik.Di Xinfu, lokasi tempat desa Fenghuangping pernah berdiri, seorang warga yang terpaksa pindah berkata: "Tidak ada lagi desa bernama Fenghuangping, namun dengan adanya Kanal Pinglu, hari esok akan menjadi lebih baik."

Beberapa keluarga memindahkan pohon-pohon berusia tujuh abad ke lokasi hunian baru mereka, termasuk sebuah pohon kamper yang berusia 217 tahun.

5. Masih Menyimpan Kerentanan

Selat dan koridor maritim telah lama menjadi urat nadi kekuatan dalam ekonomi global, namun sekaligus merupakan titik-titik kerentanan yang paling sensitif.

Krisis Hormuz mencerminkan paradoks ini: jalur perairan yang menjadi lintasan bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia ini dapat berubah menjadi titik kerentanan yang fatal jika terancam.

Menghadapi situasi tersebut, berbagai negara di seluruh dunia berupaya mengembangkan rute dan rantai pasok alternatif—seperti jalur pipa, fasilitas penyimpanan, dan koridor transportasi—guna mengurangi ketergantungan pada satu atau dua rute saja.

Terusan Pinglu merupakan langkah terbaru China untuk mewujudkan hal tersebut: membangun rute alternatif yang lebih pendek dan lebih cepat menuju pasar yang krusial.

Topik Menarik