Muraqabah, Kesadaran Merasa Diawasi Allah yang Bisa Mencegah Korupsi dan Maksiat
Berbagai perilakumenyimpang masih kerap terjadi di tengah kehidupan masyarakat, mulai dari penyalahgunaan kekuasaan dan jabatan, kolusi, manipulasi, korupsi hingga berbagai bentuk kemaksiatan. Dalam perspektif Islam, perilaku tersebut tidak hanya berkaitan dengan lemahnya pengawasan dari manusia atau institusi.
Ada satu bentuk pengawasan yang melekat dalam diri seorang Muslim, yakni muraqabah atau kesadaran bahwa setiap perbuatan selalu berada dalam pengawasan Allah SWT.
Secara bahasa, muraqabah berarti menjaga, mengawal, menanti, mengamati atau mengawasi. Sedangkan secara istilah, muraqabah merupakan kesadaran seseorang bahwa dirinya senantiasa berada dalam pengawasan Allah SWT. Kesadaran tersebut akan mendorong seorang Muslim untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, baik ketika berada di tengah masyarakat maupun saat tidak ada seorang pun yang melihat.
Keimanan terhadap sifat Allah SWT yang Maha Mengetahui, Maha Melihat dan Maha Mendengar menjadi landasan utama sikap tersebut. Seorang hamba meyakini bahwa tidak ada satu pun perbuatan, ucapan maupun sesuatu yang tersembunyi dalam dirinya yang luput dari pengetahuan Allah.
Baca juga:Mengenal Mindfulness dalam Islam, Apa Bedanya dengan Khusyuk dan Muraqabah?Konsep muraqabah juga berkaitan erat dengan makna ihsan. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ihsan adalah beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya. Jika tidak mampu melihat-Nya, maka seorang hamba harus menyadari bahwa Allah senantiasa melihat dirinya.
Kesadaran merasa diawasi Allah SWT inilah yang dapat menjadi pengendali perilaku manusia. Seseorang akan lebih berhati-hati dalam bertindak karena menyadari bahwa setiap perbuatannya akan dipertanggungjawabkan.
Muraqabah Mendorong Muhasabah
Menurut Drs. H. Amat Sulaiman, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Pekalongan, kuatnya kesadaran terhadap pengawasan Allah dapat melahirkan sikap mawas diri dalam kehidupan sehari-hari.Muraqabah membuat seseorang senantiasa berhati-hati agar perbuatannya sesuai dengan aturan syariat. Jika kesadaran tersebut terus dipelihara, akan tumbuh pribadi yang memiliki kecenderungan kepada kebaikan.
Kesadaran itu kemudian mendorong seseorang melakukan muhasabah, yakni mengevaluasi amal perbuatan, perilaku dan kondisi hatinya sendiri.
Mengutip Raid Abdul Hadi dalam bukunya Mamarat al-Haq, muhasabah dapat dilakukan sebelum maupun setelah seseorang mengerjakan suatu amal.
Muhasabah memiliki sejumlah manfaat. Salah satunya membantu seseorang mengetahui kelemahan dirinya sehingga dapat segera memperbaikinya. Selain itu, muhasabah menjadi sarana untuk menyadari hak-hak Allah SWT serta mempersiapkan diri menghadapi perhitungan amal di akhirat.Dengan demikian, muraqabah dan muhasabah memiliki hubungan yang erat. Kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi akan mendorong seorang Muslim untuk terus mengevaluasi dirinya.
Pengawasan Allah dalam Al-Qur'an
Konsep muraqabah juga tergambar dalam firman Allah SWT:الَّذِيْ يَرٰىكَ حِيْنَ تَقُوْمُ ۙ وَتَقَلُّبَكَ فِى السّٰجِدِيْنَ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
"Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan melihat pula perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS Asy-Syu'ara: 218-220)
Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah SWT senantiasa mengetahui dan melihat aktivitas manusia. Tidak hanya perbuatan yang dilakukan di hadapan orang lain, tetapi juga segala sesuatu yang dikerjakan dalam keadaan tersembunyi. Karena itu, manusia semestinya tetap menjaga kejujuran meskipun tidak ada orang yang mengawasinya.
Dalam kehidupan modern, sikap tersebut dinilai semakin penting. Berbagai godaan materialistis dan kepentingan pribadi dapat mendorong seseorang mengabaikan nilai kejujuran, keadilan dan amanah. Muraqabah dapat menjadi pengendali dari dalam diri karena pengawasan tersebut tidak bergantung pada kehadiran manusia.
Menjaga Kejujuran dalam Setiap Keadaan
Syaikh Ahmad bin Muhammad Ibnu Al Husain Al Jurairy menjelaskan bahwa jalan kesuksesan dibangun di atas dua hal. Pertama, melatih jiwa agar senantiasa merasa diawasi Allah SWT. Kedua, menjadikan ilmu yang dimiliki tercermin dalam perilaku sehari-hari.Dalam setiap keadaan, seorang hamba akan menghadapi ujian yang membutuhkan kesabaran serta nikmat yang harus disyukuri.Muraqabah berarti tidak melepaskan kewajiban yang telah difardukan Allah SWT dan menjauhi berbagai larangan-Nya.Kesadaran tersebut pada akhirnya dapat membentuk mental dan kepribadian yang lebih baik. Salah satu buahnya adalah kejujuran.Kejujuran tidak hanya dituntut dalam perkara besar, tetapi juga dalam hal-hal kecil dan di mana pun seseorang berada. Begitu pula keikhlasan yang perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Allah SWT berfirman:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَىٰ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الْمُنْتَهَىٰ
"Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna, dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu)." (QS An-Najm: 39-42)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa setiap usaha manusia tidak akan sia-sia. Apa yang dikerjakan akan diperlihatkan dan mendapatkan balasan dari Allah SWT.
Merasa Diawasi Allah di Mana Pun Berada
Kesadaran muraqabah pada akhirnya mengajarkan manusia untuk selalu merasa dekat dengan Allah SWT. Seorang Muslim tidak semestinya hanya berbuat baik ketika mendapatkan pengawasan manusia. Ia juga harus menjaga perilakunya ketika berada dalam kesendirian karena meyakini bahwa Allah SWT tidak pernah luput mengawasinya.Karena itu, hawa nafsu dan bisikan setan harus dikendalikan. Sikap riya dan nifak juga harus dihindari karena bertentangan dengan keikhlasan dalam beribadah.Allah SWT mengetahui apa yang tampak maupun yang tersembunyi. Tidak ada perbedaan bagi-Nya antara perbuatan yang dilakukan secara terang-terangan maupun sesuatu yang disembunyikan manusia.
Kesadaran inilah yang menjadi inti muraqabah: merasa selalu berada dalam pengawasan Allah SWT, kemudian menjadikannya sebagai dorongan untuk memperbaiki diri, menjalankan seluruh perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta senantiasa bertaubat dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Dengan muraqabah, pengawasan terhadap diri tidak berhenti pada aturan dan sanksi manusia, tetapi tumbuh dari kesadaran iman yang melekat dalam hati setiap Muslim.
Baca juga:Kisah Dahsyat! Surat Al-Mulk Membela Laki-laki Ini dari Siksa Kubur









