Mengenal Mindfulness dalam Islam, Apa Bedanya dengan Khusyuk dan Muraqabah?

Mengenal Mindfulness dalam Islam, Apa Bedanya dengan Khusyuk dan Muraqabah?

Gaya Hidup | sindonews | Rabu, 16 September 2026 - 05:15
share

Istilah mindfulness tengah viral, karena pernyataan seorang aktris dan selebritas papan atas Indonesia, Maudi Ayunda baru-baru ini. Apa sebenarnya mindfulness ini dan bagaimana pandangan Islam terhadap istilah tersebut?

Mindfulness atau kesadaran penuh, merupakan salah satu konsep yang banyak dibicarakan dalam psikologi modernuntuk menghadapi kondisi yang terjadi. Secara sederhana, mindfulness berarti kemampuan untuk benar-benar hadir dalam momen yang sedang dijalani, dengan menyadari apa yang terjadi saat ini tanpa terus-menerus terseret oleh masa lalu maupun kekhawatiran tentang masa depan.

Seperti diketahui, saat ini kehidupan masyarakat urban dan modern kerap menghadirkan tekanan yang tidak ringan. Rutinitas pekerjaan, tuntutan ekonomi hingga dorongan untuk mengikuti standar kehidupan tertentu membuat banyak orang merasa lelah, bukan hanya secara fisik tetapi juga secara mental dan spiritual.

Tidak sedikit orang yang tetap sulit merasa tenang meski sudah beristirahat. Pikiran tentang kegagalan, pekerjaan, masa depan, hingga kehidupan orang lain terus berputar di kepala. Berbagai buku pengembangan diri dan nasihat agama pun telah dibaca, tetapi kegelisahan terkadang tetap muncul.

Karena kondisi itulah, mindfulness hadir untuk menjawab permasalahan dan kondisi yang tengah terjadi. Konsep mindfulness ini sebenarnya dapat ditemukan kemiripannya dalam khazanah Islam, khususnya melalui pembahasan tentang khusyuk dan muraqabah.

Konsep Mindfulness dalam Islam

Jika ditelusuri lebih jauh, gagasan mengenai kesadaran penuh memiliki kemiripan dengan sejumlah konsep dalam tradisi Islam.Salah satunya adalah khusyuk. Istilah ini memang sangat erat kaitannya dengan ibadah, khususnya salat. Namun, dalam khazanah tasawuf, khusyuk juga berkaitan dengan keadaan hati seorang hamba ketika berhadapan dengan Allah.

Baca juga:Kisah Dahsyat! Surat Al-Mulk Membela Laki-laki Ini dari Siksa Kubur

Imam al-Qusyairi menukilkan penjelasan mengenai khusyuk:

وسئل بعضم عن الخشوع، فقال: الخشوع: قيام القلب بين يدي الحق، سبحانه، بهم مجموع. وقال: من علامات الخشوع للعبد: أنه إذا أغضب أو خولف، أو رد عليه أن يستقبل ذلك بالقبول. وقال بعضهم: خشوع القلب: قيد العيون عن النظر.

Artinya: "Seseorang pernah ditanya tentang khusyuk. Ia menjawab, 'Khusyuk adalah hadirnya hati di hadapan Allah Yang Maha Benar, dengan perhatian yang sepenuhnya tertuju kepada-Nya.' Ia juga berkata, 'Di antara tanda-tanda kekhusyukan seseorang adalah ketika ia dibuat marah, diselisihi atau dibantah, ia menyambutnya dengan sikap menerima.' Sebagian ulama lain mengatakan, 'Khusyuknya hati adalah kendali bagi mata agar tidak memandang sembarangan'." (Ar-Risalah al-Qusyairiyyah, Beirut: Darul Kutub al-'Ilmiyyah, 2018, hlm. 182).

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa khusyuk tidak semata-mata berkaitan dengan gerakan fisik dalam salat. Ada keadaan hati yang sadar, tunduk dan sepenuhnya menghadap Allah.Karena itu, seseorang yang memiliki kekhusyukan dalam kehidupan sehari-hari akan berusaha mengendalikan dirinya ketika menghadapi persoalan. Ia tidak mudah dikuasai amarah dan tidak terburu-buru memberikan reaksi terhadap setiap keadaan.

Khusyuk Juga Mengajarkan Pengendalian Pandangan

Imam al-Qusyairi juga menukilkan ungkapan bahwa "khusyuknya hati adalah kendali bagi mata agar tidak memandang sembarangan".

Menurut Amien Nurhakim, Dosen Fakultas Ushuluddin Universitas PTIQ Jakarta, makna khusuknya hati tersebut dapat dipahami secara literal maupun lebih luas. Secara literal, seorang Muslim diperintahkan menjaga pandangan dari sesuatu yang tidak semestinya dilihat. Namun, secara metaforis, menjaga pandangan juga dapat dimaknai sebagai menjaga cara seseorang melihat kehidupan.

Orang yang memiliki kesadaran spiritual tidak mudah menghakimi orang lain hanya berdasarkan apa yang tampak di hadapannya. Ia tidak tergesa-gesa merendahkan, mencela atau membuat kesimpulan buruk terhadap seseorang hanya dari satu keadaan.

Dengan demikian, kesadaran penuh bukan hanya membuat seseorang lebih fokus, tetapi juga membantu mengendalikan respons terhadap lingkungan di sekitarnya.

Muraqabah, Kesadaran Bahwa Allah Selalu Mengawasi

Amien Nurhakim menjelaskan, selain khusyuk, konsep dalam Islam yang memiliki kemiripan dengan mindfulness adalah muraqabah. Muraqabah merupakan kesadaran seorang hamba bahwa dirinya senantiasa berada dalam pengawasan Allah. Konsep ini berhubungan erat dengan sabda Nabi Muhammad dalam hadis Jibril tentang ihsan:

"Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."

Kesadaran tersebut membuat seorang Muslim memahami bahwa Allah mengetahui gerak-gerik dirinya, mendengar ucapannya, mengetahui isi hatinya dan menyaksikan amal perbuatannya.Dalam Kitab Ar-Risalah al-Qusyairiyyah (hlm. 225), muraqabah digambarkan sebagai salah satu fondasi kebaikan. Seorang hamba semestinya senantiasa peka terhadap apa yang diridai dan tidak diridai Tuhannya, sebagaimana seorang pelayan yang memperhatikan isyarat tuannya ketika mengetahui bahwa dirinya sedang diawasi.

Di sinilah terdapat titik temu antara mindfulness dengan khusyuk dan muraqabah, yakni sama-sama menuntut adanya perhatian dan kesadaran terhadap apa yang sedang dilakukan. Namun, ketiganya tidak dapat disamakan begitu saja.

Mindfulness dalam psikologi modern pada umumnya bersifat netral secara spiritual. Fokusnya adalah mengembalikan perhatian seseorang kepada momen saat ini serta menyadari pikiran, emosi dan sensasi yang muncul.

Sementara khusyuk dan muraqabah memiliki dimensi ketuhanan yang sangat kuat. Kesadaran tersebut berpusat pada hubungan seorang hamba dengan Allah. Tujuannya bukan sekadar mendapatkan ketenangan psikologis, tetapi juga membangun ketundukan, rasa diawasi dan kedekatan spiritual kepada Allah.

Bagaimana Melatih Kesadaran Penuh?

Amien Nurhakim menambahkan, kesadaran penuh tidak muncul begitu saja. Ia membutuhkan latihan yang dilakukan secara konsisten. Langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah memperlambat diri. Berikan ruang untuk berhenti sejenak dan menyadari apa yang sedang terjadi, baik pada tubuh maupun pikiran.

Ketika muncul rasa takut, marah atau cemas, seseorang tidak harus langsung menolaknya. Perasaan tersebut dapat diamati dan dikenali terlebih dahulu. Dengan cara itu, seseorang belajar membedakan antara apa yang sedang dirasakan, apa yang dipikirkan dan apa yang benar-benar terjadi.

Kesadaran penuh juga dapat dilatih melalui aktivitas sederhana. Ketika berbicara dengan orang lain, misalnya, cobalah benar-benar mendengarkan tanpa sibuk menyiapkan jawaban. Saat makan, nikmati makanan tanpa terus-menerus terdistraksi oleh gawai.Begitu pula ketika beribadah. Jangan hanya memperhatikan gerakan lahiriah, tetapi berusaha menghadirkan hati dan memahami makna doa serta bacaan yang dilafalkan.

Latihan-latihan kecil tersebut pada akhirnya dapat membentuk kebiasaan untuk lebih hadir dalam setiap aktivitas. Kesibukan hidup mungkin tidak akan berkurang. Masalah juga tidak serta-merta menghilang. Namun, cara seseorang dalam menghadapi semuanya dapat berubah.

Dengan kesadaran yang lebih baik, seseorang dapat belajar merespons persoalan secara lebih tenang, tidak mudah dikuasai kecemasan dan lebih mampu mengendalikan dirinya.

Dalam perspektif Islam, kesadaran tersebut tidak berhenti pada upaya menghadirkan diri di "sini" dan "sekarang". Lebih dari itu, seorang Muslim diarahkan untuk senantiasa menghadirkan kesadaran bahwa di mana pun ia berada, Allah selalu mengetahui dan mengawasinya. Wallahu a'lam.

Baca juga:Gambaran Siksa Kubur Menurut Syaikh Nawawi Al-Bantani dan Amalan Penyelamat

Topik Menarik