Rupiah Melemah, IHSG Turun 1,13 ke 6.461 Sore Ini
Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak melemah pada perdagangan Selasa (15/9/2026) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan penantian keputusan suku bunga The Fed. Rupiah ditutup turun 25 poin atau 0,14 menjadi Rp17.694 per dolar AS, sedangkan IHSG merosot 73,54 poin atau 1,13 ke level 6.461.
"Posisi-posisi tersebut juga memungkinkan kelompok itu melancarkan lebih banyak serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Bab al-Mandab, sehingga mengancam pasokan minyak di kawasan tersebut," kata Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi dalam risetnya.
Baca Juga:IHSG Hari Ini Dibuka Menguat ke 6.544, Semenit Jalan Langsung Balik Arah
Ibrahim mengatakan sentimen eksternal datang dari kelompok Houthi di Yaman yang beraliansi dengan Iran dan kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Arab Saudi. Perkembangan tersebut dinilai meningkatkan risiko terhadap ekspor minyak Saudi setelah serangan sebelumnya mengganggu operasional pipa minyak timur-barat milik negara tersebut dan berpotensi memengaruhi tambahan 4-5 pasokan minyak global.
Ketidakpastian juga meningkat setelah pembahasan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz ditunda. Oman pada Minggu menunda pertemuan yang semula dijadwalkan Senin antara Iran dan negara-negara Teluk untuk membahas jalur pelayaran tersebut, sementara Teheran menyatakan tidak akan berdialog dengan Amerika Serikat hingga tuntutan yang diajukannya dipenuhi.Di Amerika Serikat, pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dalam pertemuan pekan ini setelah data inflasi Agustus menunjukkan tekanan harga meningkat. Inflasi konsumen umum naik 0,4 secara bulanan, dari 0,1 pada Juli, sedangkan inflasi inti naik 0,3 dari 0,2 pada bulan sebelumnya.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed kini mencapai sekitar 89, meningkat dari 59,4 pada pekan sebelumnya. Ekspektasi tersebut turut memengaruhi pergerakan mata uang dan aset berisiko, termasuk rupiah dan saham di pasar domestik.
Dari dalam negeri, sentimen pasar juga mencermati perubahan di jajaran pemerintah, termasuk penunjukan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan baru. Pemerintah diharapkan memiliki kebijakan fiskal yang mampu menjaga kredibilitas pengelolaan anggaran sekaligus memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu, pada penutupan perdagangan saham, sebanyak 330 saham menguat, 332 saham melemah, dan 301 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp12,6 triliun dari volume perdagangan sebanyak 25,5 miliar saham.Baca Juga:IHSG Terjun Bebas 1,70 di Sesi Siang Sentuh Level 6.429, Transaksi Rp7,9 Triliun
Sejumlah indeks utama ikut terkoreksi, yakni LQ45 turun 1,25 menjadi 650, JII melemah 0,41 ke 395, IDX30 turun 1,32 ke 361, dan MNC36 terkoreksi 1,20 menjadi 283. Mayoritas sektor berada di zona merah, antara lain energi, konsumer non-siklikal, keuangan, properti, bahan baku, transportasi, industri, dan teknologi, sedangkan konsumer siklikal, infrastruktur, dan kesehatan masih menguat.
Saham dengan kenaikan terbesar antara lain PT Danasupra Erapacific Tbk (DEFI) sebesar 34,95 menjadi Rp139, PT Communication Cable Systems Indonesia Tbk (CCSI) naik 24,86 ke Rp442, dan PT Voksel Electric Tbk (VOKS) menguat 24,62 menjadi Rp324. Sementara saham yang mengalami penurunan terbesar meliputi Reksa Dana Pinnacle Core High Dividend ETF turun 14,94 menjadi Rp655, PT Satria Antaran Prima Tbk (SAPX) melemah 14,85 ke Rp430, dan Reksa Dana Indeks Batavia SRI-KEHATI ETF turun 14,84 menjadi Rp482.










