Apa Itu Jalur Pipa Timur-Barat Arab Saudi yang Dihancurkan Houthi?
Penutupan ini tidak berarti pasar global kehilangan pasokan 7 juta barel per hari, karena angka tersebut mewakili kapasitas maksimum pipa, bukan jumlah ekspor aktual yang disalurkan melalui Yanbu.
Keputusan Arab Saudi untuk menutup jalur pipa minyak vital Timur-Barat menyusul serangan pesawat nirawak (drone) telah kembali menyoroti peran penting jalur tersebut dalam mengalirkan minyak mentah dari wilayah penghasil minyak di bagian timur kerajaan menuju Laut Merah, tanpa harus melewati Selat Hormuz.
Kementerian Energi Saudi menyatakan pada hari Jumat bahwa jalur pipa tersebut menjadi sasaran serangan beberapa pesawat nirawak pada Kamis pagi di wilayah Riyadh dan Madinah, sehingga pihak berwenang menghentikan operasinya sebagai langkah pencegahan.
Seorang pejabat kementerian, sebagaimana dikutip oleh Saudi Press Agency (SPA), mengatakan bahwa tim darurat dan teknis telah mulai mengamankan jalur pipa serta memeriksa aspek keselamatannya, seraya menambahkan bahwa perkembangan lebih lanjut akan diumumkan begitu informasi tersedia.
Kementerian Luar Negeri Saudi menyatakan bahwa serangan tersebut dilakukan menggunakan beberapa pesawat nirawak yang diluncurkan dari Irak dan mengakibatkan korban luka serta kerusakan material.
Kementerian tidak merinci jumlah korban, tingkat kerusakan pada jalur pipa maupun stasiun pompanya, ataupun perkiraan durasi penutupan tersebut.
Namun, mengingat peran sentral jalur pipa Timur-Barat dalam sistem ekspor minyak Arab Saudi—terutama di tengah menurunnya pelayaran melalui Selat Hormuz akibat konflik AS-Iran saat ini—penghentian operasionalnya membawa implikasi yang melampaui sekadar kerusakan fasilitas energi domestik.
Apa Itu Jalur Pipa Timur-Barat Arab Saudi yang Dihancurkan Houthi?
1. Dijuluki sebagai Petroline
Melansir Anadolu, jalur pipa Timur-Barat, yang juga dikenal sebagai Petroline, merupakan salah satu sistem transportasi minyak mentah terpenting di Arab Saudi.Dioperasikan oleh perusahaan energi negara Aramco, jalur ini membentang sepanjang kurang lebih 1.200 kilometer (745 mil) dari Abqaiq di Provinsi Timur kerajaan tersebut hingga Yanbu di pesisir Laut Merah. Pipa tersebut sepenuhnya berada di wilayah Arab Saudi dan tidak melintasi perbatasan negara lain.
Namun, fungsi strategisnya melampaui sekadar transportasi domestik. Pipa ini mengalirkan minyak mentah dari wilayah produksi dan pengolahan utama kerajaan di bagian timur menuju kilang, fasilitas penyimpanan, dan terminal ekspor di pesisir baratnya.
Hal ini memungkinkan Arab Saudi untuk memindahkan minyak mentah dalam jumlah besar ke Laut Merah tanpa harus melintasi Selat Hormuz di tengah konflik militer yang sedang berlangsung antara AS dan Iran.
2. Menyalurkan Minyak 7 Juta Barel per Hari
Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan pada tanggal 12 April bahwa kapasitas pemompaan penuh pipa Timur-Barat (East-West pipeline) mencapai sekitar 7 juta barel per hari.Pengumuman tersebut menyusul serangan sebelumnya terhadap salah satu stasiun pemompaannya, yang oleh pihak berwenang Saudi dikaitkan dengan Iran. Serangan itu sempat mengurangi kapasitas pipa sebesar sekitar 700.000 barel per hari, sebelum kementerian mengumumkan beberapa hari kemudian bahwa kapasitas penuhnya telah dipulihkan.
Nasib Pria Kosovo: Jadi Mata-mata CIA hingga Menyusup ke al-Qaeda, tapi Kini Bakal Diusir AS
Dalam laporan hasil kinerja kuartal pertama tahun 2026, Aramco menyatakan bahwa operasi pipa telah ditingkatkan hingga kapasitas maksimumnya sebesar 7 juta barel per hari guna mendukung pasokan dan ekspor melalui pesisir barat Arab Saudi.
Menurut presentasi perusahaan, sekitar 2 juta barel per hari dari kapasitas pipa tersebut dialokasikan untuk kilang-kilang di pesisir barat.Ini berarti, secara matematis, kapasitas sebesar 5 juta barel per hari dapat tersedia untuk tujuan lain, termasuk ekspor. Namun, hal ini tidak berarti bahwa Arab Saudi serta-merta mengekspor 5 juta barel per hari melalui Yanbu sebelum penutupan operasional tersebut.
3. Memiliki Fasilitas Penyimpanan
Data pelacakan kapal tanker menunjukkan bahwa volume minyak mentah dan kondensat yang dimuat di Yanbu tetap berada di bawah kapasitas maksimum teoretis pipa tersebut.Menurut Vortexa, perusahaan Inggris yang berspesialisasi dalam analisis pasar energi global dan pelacakan kargo maritim, volume pemuatan di Yanbu meningkat menjadi sekitar 3,7 juta barel per hari pada awal September, naik dari 3,2 juta barel per hari pada bulan Agustus.
Kpler, yang melacak pergerakan kapal serta menganalisis arus komoditas, energi, dan perdagangan global, memperkirakan volume pemuatan bulan September berada di kisaran 2,9 juta barel per hari, naik dari sekitar 1,5 juta barel per hari pada bulan Agustus.
Perbedaan angka tersebut mencerminkan metodologi pelacakan dan perhitungan yang berbeda dari masing-masing perusahaan. Namun, kedua estimasi tersebut menunjukkan bahwa arus aktual yang melewati pantai barat tetap berada di bawah kapasitas maksimum pipa East-West.
Yanbu juga memiliki sejumlah fasilitas penyimpanan dan pemuatan. Oleh karena itu, kapasitas transportasi pipa tersebut tidak boleh disamakan dengan kapasitas terminal ekspor maritim ataupun volume minyak mentah yang benar-benar dimuat ke dalam kapal tanker.
4. Jalur Utama Ekspor Minyak Mentah Saudi
Pentingnya posisi strategis pipa tersebut meningkat secara signifikan tahun ini karena pelayaran melalui Selat Hormuz—yang sebelumnya merupakan jalur utama ekspor minyak mentah Arab Saudi—menurun tajam akibat perang AS-Iran.Akibatnya, Arab Saudi menjadi lebih bergantung pada pengangkutan minyak mentah melalui jalur darat ke Yanbu sebelum memuatnya ke kapal tanker di Laut Merah.
Kapal Induk Nuklir George Washington AS Sudah Tiba di Timur Tengah untuk Perang Melawan Iran
Badan Informasi Energi AS (EIA) telah mengidentifikasi jalur pipa Timur-Barat sebagai salah satu rute utama yang mampu menghindari Selat Hormuz saat terjadi gangguan pasokan.Peralihan ke jalur pipa ini membantu meningkatkan aliran minyak melalui rute Laut Merah pada kuartal kedua tahun tersebut, sementara volume minyak mentah dan cairan minyak bumi lainnya yang melewati Hormuz turun drastis dibandingkan dengan akhir tahun 2025.
Oleh karena itu, jalur pipa ini telah menjadi salah satu sarana terpenting bagi Arab Saudi untuk membatasi dampak gangguan di Hormuz dan menjaga agar sebagian ekspor minyak mentahnya tetap mengalir ke pasar internasional.
Namun, rute ini juga menghadapi risiko yang meningkat di tengah memanasnya ketegangan di Laut Merah dan di sekitar Selat Bab el-Mandeb.
5. Tak Mempengaruhi Pasokan Energi di Saudi
Deskripsi Kementerian Energi Saudi yang menyebut penghentian tersebut sebagai langkah "pencegahan" berarti bahwa pemompaan dihentikan agar lokasi-lokasi yang menjadi sasaran dapat diamankan, serta agar jalur pipa, stasiun pompa, dan sistem operasi dapat menjalani pemeriksaan keselamatan.Istilah tersebut dengan sendirinya tidak berarti bahwa jalur pipa mengalami kerusakan parah atau akan tetap tidak beroperasi dalam jangka waktu yang lama.
Durasi penghentian operasional akan bergantung pada sifat dan lokasi kerusakan, serta apakah serangan tersebut berdampak pada jalur pipa itu sendiri, stasiun pompa, pasokan listrik, sistem kendali, atau peralatan keselamatan.
Akan tetapi, selama penghentian operasional berlangsung, minyak mentah tidak dapat diangkut secara normal melalui rute ini dari wilayah timur Arab Saudi ke pantai barat.Dampaknya terhadap ekspor tidak dapat dinilai hanya dengan mengasumsikan hilangnya pasokan sebesar 7 juta barel per hari, karena angka tersebut mewakili kapasitas maksimum, bukan jumlah yang sedang diangkut atau diekspor saat operasi dihentikan.
Dampak langsung terhadap pasokan bahan bakar di kota-kota Saudi, termasuk Riyadh, juga tidak terlalu berkaitan erat dengan jalur pipa tersebut.
Sistem Timur-Barat bukanlah jaringan distribusi yang menyalurkan bensin atau solar kepada konsumen. Sistem ini merupakan jalur pipa berkapasitas tinggi yang dirancang terutama untuk mengangkut minyak mentah.
Oleh karena itu, dampak potensial yang paling signifikan berkaitan dengan kemampuan Arab Saudi untuk mengirimkan minyak mentah ke kilang-kilang di pantai barat dan terminal ekspor Laut Merah, serta kapasitasnya untuk menggunakan Yanbu sebagai alternatif selain Selat Hormuz. Dampak keseluruhannya belum dapat diukur hingga Jumat malam karena Kementerian Energi belum mengungkapkan besaran kerusakan, besarnya kapasitas pemompaan yang terdampak, ataupun kapan operasi dapat kembali berjalan.
Menyusul serangan sebelumnya pada bulan April, kementerian secara eksplisit menyebutkan angka kehilangan kapasitas sementara sekitar 700.000 barel per hari sebelum mengumumkan pemulihan operasi secara penuh.
Sejauh ini, kementerian belum memberikan perkiraan serupa untuk serangan tanggal 10 September tersebut.





