Warga 17 Tahun Dapat Rekening Plus Saldo Rp50.000, Urgensinya Apa?

Warga 17 Tahun Dapat Rekening Plus Saldo Rp50.000, Urgensinya Apa?

Ekonomi | sindonews | Minggu, 13 September 2026 - 18:00
share

Rencana pembukaan rekening bank secara massal bagi masyarakat berusia 17 tahun ke atas yang disertai saldo awal Rp50.000 dinilai perlu dibarengi penguatan literasi keuangan agar kebijakan tersebut memberikan manfaat ekonomi nyata. Kepemilikan rekening semata tidak menjamin peningkatan kualitas inklusi keuangan, terutama jika generasi muda belum memahami pengelolaan uang dan risiko produk keuangan.

"PR mendesak pemerintah saat ini bukan sekadar menambah kepemilikan rekening, melainkan mempersempit jurang literasi keuangan yang masih sangat lebar pada masyarakat usia muda. Ketika anak muda memegang rekening tanpa dibekali pemahaman, mereka rentan tertipu, bahkan rekeningnya disalahgunakan untuk transaksi judi online hingga diperjualbelikan," ujar Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda kepada SindoNews, Minggu (13/9/2026).

Baca Juga:Warga Indonesia Usia 17 Tahun Bakal Otomatis Punya Rekening Bank dan Saldo Rp50.000

Nailul mengatakan tingkat kepemilikan rekening atau inklusi keuangan penduduk usia dewasa telah mencapai sekitar 93. Namun, capaian tersebut belum sepenuhnya mencerminkan tingkat literasi keuangan karena masih banyak generasi muda yang belum memahami pengelolaan tabungan, investasi, kredit, maupun mitigasi risiko utang.

Ia juga menilai target pembukaan hingga 200 juta rekening perlu dikaji berdasarkan kondisi demografi dan tingkat kepemilikan rekening masyarakat. Menurut dia, penambahan rekening dalam jumlah besar berisiko tidak memberikan dampak signifikan apabila rekening yang dibuka tidak digunakan untuk aktivitas ekonomi produktif.Nailul turut menyoroti skema saldo awal Rp50.000 yang disebut berstatus saldo minimal sehingga tidak dapat ditarik atau dimanfaatkan secara bebas oleh nasabah. “Saldo Rp50 ribu itu tidak bisa ditarik atau dimanfaatkan nasabah karena berstatus saldo minimal yang akhirnya mengendap cuma-cuma dan memperbesar likuiditas perbankan,” katanya.

Menurut dia, apabila rekening baru hanya menjadi rekening pasif, program tersebut berpotensi lebih banyak meningkatkan penghimpunan dana perbankan daripada memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Karena itu, kebijakan inklusi keuangan perlu diarahkan pada peningkatan pemanfaatan layanan keuangan untuk kegiatan produktif, bukan sekadar mengejar jumlah rekening.

Baca Juga:Warga RI Usia 17 Tahun Otomatis Punya Rekening Bank, Begini Skema Pemberiannya

Celios mendorong pemerintah mengutamakan edukasi keuangan secara terstruktur sejak usia dini. Pengenalan produk perbankan yang ramah anak, seperti rekening tabungan tanpa biaya, dinilai dapat membentuk kebiasaan menabung sekaligus memperkenalkan manfaat dan risiko produk keuangan kepada generasi muda.

"Pemerintah semestinya mengenalkan produk perbankan sejak usia dini lewat rekening tabungan anak tanpa biaya agar mereka belajar fungsi menabung serta risiko investasi. Pendekatan edukasi inilah yang dibutuhkan untuk membentuk kemandirian finansial, bukan memaksakan pembukaan rekening secara massal," ujar Nailul.

Topik Menarik