OJK Beberkan Kinerja dan Risiko Sektor Perbankan di Kuartal III Tahun 2026

OJK Beberkan Kinerja dan Risiko Sektor Perbankan di Kuartal III Tahun 2026

Ekonomi | sindonews | Kamis, 10 September 2026 - 20:09
share

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan kinerja dan profil risiko industri perbankan nasional tetap berada dalam kondisi aman serta terkendali pada triwulan III-2026. Ketahanan fundamental ini berlangsung di tengah eskalasi ketidakpastian perekonomian global dan domestik yang dipicu oleh dinamika pasar keuangan internasional.

"Hasil survei membuktikan optimisme perbankan tetap kuat terhadap prospek usaha, di mana perbankan memiliki keyakinan penuh untuk menjaga risiko operasional maupun pasar tetap terkendali," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026).

Dian memaparkan, soal keyakinan tersebut tercermin dari hasil Survei Orientasi Bisnis Perbankan (SBPO) OJK triwulan III-2026 yang dilaksanakan pada Juli 2026 dengan melibatkan 99 bank responden. Partisipasi bank-bank tersebut mewakili 97,91 persen dari total aset bank umum di Indonesia berdasarkan data posisi Juni 2026.

Baca Juga: BRI Cetak Laba Bersih Rp31,2 Triliun di Semester I 2026, Melonjak 17,5

Survei tersebut mencatat Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP) berada pada zona optimis di level 56. Capaian ini disokong oleh ekspektasi kinerja yang kuat di tengah kecermatan industri terhadap dinamika makroekonomi kuartal berjalan dibandingkan kuartal sebelumnya, terutama menyangkut potensi kenaikan inflasi dan arah suku bunga acuan global.

Persepsi industri terhadap manajemen risiko konsisten berada pada jalur positif berkat terjaganya kualitas pembiayaan serta kehati-hatian dalam mengelola eksposur valuta asing. Kondisi tersebut diperkuat oleh ketersediaan alat likuid serta penghimpunan dana simpanan yang diproyeksikan melaju lebih kencang daripada penyaluran pinjaman.

"Mayoritas perbankan meyakini kualitas portofolio kredit tetap aman dan posisi devisa neto berada di level rendah berstatus long position, sementara pertumbuhan dana pihak ketiga yang solid turut mempertebal arus kas bersih," tutur Dian.

Baca Juga: Kredit Perbankan Juni 2026 Tumbuh 12,67, BI Optimistis Capai Target Tahun Ini

Kondisi tersebut tercermin dari Indeks Persepsi Risiko (IPR) yang bertengger dibzona optimis pada level 57. Mayoritas bank memastikan risiko likuiditas tetap termitigasi dengan baik, ditopang oleh Posisi Devisa Netto (PDN) yang terjaga rendah dengan nilai aset dan tagihan valas yang melampaui kewajiban valuta asing. Di samping itu, akselerasi pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang diproyeksikan melampaui laju kredit kian memperkuat ketersediaan alat likuid serta arus kas bersih perbankan.

Di sisi pencapaian usaha, prospek intermediasi diproyeksikan tetap melesatbdidorong oleh tingginya permintaan pembiayaan baru yang sudah masuk ke dalambdaftar rencana kredit. Penyaluran dana perbankan pun tercatat mengalir deras kebsektor riil yang menjadi motor utama perekonomian domestik.

"Indeks ekspektasi kinerja menembus level 83 seiring terbukanya ruang ekspansi kredit, khususnya di sektor industri pengolahan yang mendominasi pembiayaan dan tumbuh 16,85 persen secara tahunan," jelas Dian.

Optimisme ekspansi ini tergambar dari Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK) yang mencapai angka 83 di zona optimistis. Peningkatan pembiayaan didorong oleh realisasi portofolio pada cadangan komitmen yang telah disiapkanbbank, terutama pada sektor Industri Pengolahan yang menjadi kontributor kredit terbesar nasional dengan pertumbuhan tahunan 16,85 (year-on-year/yoy) per Juli 2026.

Untuk menopang ekspansi sekaligus menjaga bantalan likuiditas, perbankan terus mengoptimalkan penghimpunan DPK melalui berbagai saluran pendanaan.Meskipun seluruh indikator permodalan dan likuiditas berada dalam kondisi prima, perbankan tetap menaruh kewaspadaan ekstra terhadap gejolak global yang berisiko berlangsung berkepanjangan. Keberlanjutan kontribusi intermediasi perbankan kini menuntut dukungan ekosistem makroekonomi yang sehat, produktif, dan berdaya saing.

"Fundamental perbankan saat ini sangat kokoh untuk memitigasi rambatan risiko eksternal, asalkan momentum stabilitas ekonomi nasional terus terjaga demi mendukung pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan," urai Dian.

OJK mencatat seluruh responden bank umum menyadari dinamika pemburukan ekonomi global berimplikasi langsung terhadap prospek ekonomi domestik. Kendati demikian, ketahanan industri perbankan nasional hingga saat ini dibuktikan oleh permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, serta laju kredit yang terus positif.

Topik Menarik