Hilirisasi Mineral Tak Cukup, Indonesia Harus Kuasai Teknologi
Di tengah momentum Hari Kebangkitan Teknologi Nasional dan menjelang HUT ke-81 Republik Indonesia, agenda hilirisasi mineral kembali menemukan relevansinya. Kekayaan mineral yang dimiliki Indonesia tidak lagi cukup hanya diolah menjadi bahan baku. Nilainya baru akan terasa lebih besar ketika mineral tersebut mampu dikembangkan menjadi material maju dan produk teknologi bernilai tinggi, sehingga bisa meningkatkan kapabilitas industri, lapangan kerja berkualitas, serta kemandirian teknologi.
Hal ini ditegaskan oleh Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Andalas (Unand), Is Prima Nanda. Menurutnya, tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan lagi ketersediaan sumber daya mineral, melainkan kemampuan membangun rantai nilai terintegrasi dari pemurnian, rekayasa material, hingga manufaktur.
“Untuk naik ke produk teknologi bernilai tinggi, Indonesia perlu menguasai teknologi pemurnian, rekayasa material, desain produk, hingga proses manufakturnya. Tantangannya adalah membangun kapabilitas teknologi nasional secara utuh, bukan hanya meningkatkan kapasitas produksi,” kata Prima, Senin (10/8).
Baca Juga : Seskab Teddy Bertemu Haji Isam, Bahas Investasi hingga Hilirisasi
Prima Nanda menyebut material merupakan fondasi dari hampir seluruh teknologi. Mineral seperti nikel, tembaga, bauksit, timah hingga mineral kritis lainnya, kata dia, baru akan memberikan nilai tambah lebih besar apabila dapat direkayasa menjadi material dengan karakteristik dan performa tertentu.Dekan Fakultas Teknik Unand ini melanjutkan, material maju tersebut dapat menjadi fondasi berbagai teknologi strategis, mulai dari baterai, kendaraan listrik, elektronik, energi bersih, industri pertahanan hingga sektor dirgantara.
“Kalau kita hanya menguasai sumber dayanya, kita tetap bergantung pada pihak lain untuk teknologi dan produk akhirnya. Sebaliknya, jika kita menguasai material sekaligus teknologinya, kita memiliki peluang menjadi technology maker, bukan hanya resource provider,” kata Prima.
Pandangan tersebut sejalan dengan arah pengembangan industri material maju yang didorong Danantara Indonesia. Sebelumnya pada bulan Juli, CEO Danantara Indonesia, Rosan P. Roeslani, mengatakan Indonesia perlu naik kelas dalam rantai nilai material maju dengan memanfaatkan kekayaan mineral sebagai fondasi pengembangan teknologi masa depan.
"Indonesia diberkahi dengan kekayaan mineral yang luar biasa, mulai dari nikel, bauksit, tembaga, timah, hingga rare earth. Bahan-bahan ini menjadi fondasi teknologi masa depan, seperti baterai kendaraan listrik, semikonduktor, pertahanan, dan energi bersih. Namun, selama puluhan tahun kita terlalu sering berhenti di titik ekstraksi dengan mengekspor bahan mentah, lalu membeli kembali produk jadinya dengan harga yang berkali-kali lipat,” ujarnya.
Menurut Rosan, investasi jangka panjang perlu diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperoleh dan mengembangkan teknologi, memperkuat SDM, serta membangun ekosistem industri nasional.Dalam upaya tersebut, Danantara mendorong kolaborasi antara pemerintah, BUMN, industri, perguruan tinggi dan lembaga riset. Pendekatan ini mencakup transfer teknologi, licensing, joint research, hingga co-development, sehingga investasi dapat menghasilkan kapabilitas teknologi yang tertanam di dalam negeri.
Di sisi lain, Chief Technology Officer BPI Danantara, Sigit P Santosa, menjelaskan Indonesia memiliki kekuatan di sisi hulu berupa mineral strategis yang melimpah, seperti nikel, tembaga, timah, bauksit, logam tanah jarang dan baja.
Indonesia pun memiliki kekuatan di sisi hilir melalui kebutuhan industri nasional, khususnya dari BUMN di sektor energi, transportasi, pertahanan, dirgantara, maritim, elektronik, dan manufaktur lainnya. Namun, tantangan utama saat ini berada pada bagian tengah rantai nilai.
“Kita belum sepenuhnya menguasai kapabilitas untuk mengubah sumber daya tersebut menjadi advanced materials yang siap digunakan oleh industri. Inilah yang disebut sebagai hollow middle. Indonesia sudah resource-rich, tetapi pekerjaan besar kita adalah menjadi capability-rich. Dari perspektif teknologi, transformasi tersebut hanya dapat dicapai apabila kita membangun technology mastery secara nasional,” kata Sigit.
Kebangkitan teknologi Indonesia berakar pada kemampuan menguasai inovasi yang diterjemahkan menjadi kekuatan industri serta kebermanfaatan nyata bagi masyarakat. Momentum Hari Kebangkitan Teknologi Nasional dan HUT ke-81 Republik Indonesia menegaskan pentingnya investasi jangka panjang dan kemandirian industri untuk membangun Indonesia yang semakin berdaulat, adil, dan makmur.










