Kadin Dorong Industri Tambang Percepat Adopsi AI dan Elektrifikasi

Kadin Dorong Industri Tambang Percepat Adopsi AI dan Elektrifikasi

Ekonomi | sindonews | Kamis, 10 September 2026 - 20:23
share

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong pelaku industri pertambangan meningkatkan efisiensi modal dan mempercepat adopsi teknologi untuk menghadapi tekanan geopolitik, volatilitas biaya, serta tuntutan transformasi industri. Investasi teknologi perlu diarahkan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing, bukan sekadar mengikuti tren.

“Banyak perusahaan pertambangan di ekosistem Kadin bertahan karena mereka sudah mengantisipasi masa depan. Apa yang sebelumnya hanya menjadi proyek percontohan, kini menjadi kebutuhan operasional,” ujar Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aryo Djojohadikusumo dalam Energy Insights Forum dikutip pada Kamis (10/9/2026).

Baca Juga:Restitusi Pajak Tertahan Bebani Likuiditas Usaha, Kadin Soroti Masalah Arus Kas Perusahaan

Forum bertajuk “The Next Chapter of Indonesian Mining: Growth, AI, Capital, and Electrification” tersebut membahas strategi industri pertambangan menghadapi dinamika geopolitik, perubahan harga komoditas dan bahan bakar, serta kebutuhan penguatan ketahanan bisnis.

Aryo mengatakan inovasi merupakan salah satu kunci untuk membangun ketahanan jangka panjang industri pertambangan. Menurut dia, volatilitas harga bahan bakar dan komoditas membuat perusahaan semakin selektif dalam menentukan belanja modal (capital expenditure/capex), sehingga setiap investasi harus memberikan dampak nyata terhadap kegiatan operasional.

Wakil Direktur Utama MIND ID Dany Amrul Ichdan mengatakan transformasi pertambangan membutuhkan rencana eksekusi yang jelas, terutama dalam penerapan kecerdasan buatan (AI) dan elektrifikasi. “Indonesia tidak bisa lagi hanya mengandalkan keunggulan sumber daya. Kita harus bergeser dari resource advantage menuju intelligence advantage,” ujarnya.

Dany menuturkan AI dapat digunakan untuk meningkatkan skala ekonomi, produktivitas, dan daya saing industri. MIND ID, kata dia, mulai mengembangkan pemanfaatan AI untuk meningkatkan keselamatan kerja, memantau kondisi peralatan, serta mengoptimalkan proses produksi.

Baca Juga:Sumbang Devisa Lebih Rp356 Triliun, Indonesia Perlu Perkuat Aliansi dengan Negara Produsen Sawit

Partner McKinsey & Company Yanto mengatakan sumber pertumbuhan sektor pertambangan mulai bergeser dari peningkatan volume menuju penciptaan nilai melalui mineral kritis, teknologi, dan efisiensi operasional. Mineral fundamental seperti batu bara, tembaga, dan bijih besi tetap penting, tetapi peluang pertumbuhan baru akan semakin banyak berasal dari mineral kritis yang dibutuhkan untuk transisi energi, AI, pusat data, dan teknologi masa depan.

Associate Partner McKinsey & Company Narendra Adoe menambahkan Indonesia memiliki keunggulan sumber daya mineral serta basis industri hulu dan midstream yang kuat. Namun, Indonesia masih perlu memperluas nilai tambah di sepanjang rantai industri, termasuk pada mineral kritis yang kapasitas pengolahan hilirnya masih banyak dikuasai negara lain.

Topik Menarik