Kemenkes Soroti Kesehatan Mental, 1 dari 7 Orang di Dunia Alami Gangguan Jiwa

Kemenkes Soroti Kesehatan Mental, 1 dari 7 Orang di Dunia Alami Gangguan Jiwa

Gaya Hidup | sindonews | Jum'at, 4 September 2026 - 20:25
share

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyoroti masih rendahnya perhatian terhadap kesehatan mental. Menurutnya, masalah kejiwaan kerap luput karena tidak selalu terlihat secara fisik.

Hal itu disampaikan Dante dalam Temu Media di RS Soeharto Heerdjan, Jakarta Barat, Jumat (4/9/2026). Ia mengatakan, kesehatan mental sebenarnya bukan isu baru. Hal tersebut tercermin dari keberadaan RS Soeharto Heerdjan yang telah lebih dari satu abad berfokus pada pelayanan kesehatan jiwa.

“Bagaimana pentingnya kesehatan mental itu kadang-kadang dinomorduakan dibandingkan dengan kesehatan fisik,” ujar Dante.

Menurut Dante, gangguan kesehatan mental bisa terjadi pada siapa saja dan sering kali tidak mudah dikenali. Seseorang dapat terlihat sehat secara fisik, tetapi sebenarnya tengah menghadapi persoalan kejiwaan.

Baca Juga : Mengapa Banyak Orang Pilih Menghilang dari Media Sosial? Ini Alasannya“Teman-teman lihat orang sebenarnya kelihatan sehat, tapi sebetulnya kalau kita evaluasi dia punya masalah. Nggak kelihatan secara fisik, tapi secara mental dia punya masalah,” katanya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut banyak ditemukan di lingkungan sekitar dan dapat dialami tanpa memandang usia, jenis kelamin, maupun status ekonomi.

Dante mengungkapkan, satu dari tujuh orang di dunia hidup dengan gangguan kejiwaan. Angka tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan prevalensi diabetes yang sekitar satu dari delapan orang.

Berdasarkan data nasional dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gangguan kesehatan jiwa sedikit lebih banyak dialami perempuan, yakni sekitar 14,8 persen. Sementara itu, prevalensi pada laki-laki berada di kisaran 13 persen.

Baca Juga : Waduh! Lebih dari 700 Ribu Anak Indonesia Terdeteksi Cemas dan DepresiMasalah kesehatan jiwa juga ditemukan di berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa muda, dewasa hingga lansia. Proporsinya berada di kisaran 10 persen hingga 17 persen dari populasi pada masing-masing kelompok usia.

“Di tempat kita, berdasarkan data yang sudah kita lihat dan di WHO, itu perempuan sedikit lebih banyak, 14,8. Laki-laki yang mengalami kelainan jiwa itu sekitar 13 koma sekian,” jelas Dante.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah mendorong deteksi dan penanganan gangguan kesehatan jiwa sejak dini. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah kondisi semakin berat, termasuk menekan risiko percobaan bunuh diri.

Selain deteksi dini, evaluasi dan penanganan kesehatan mental juga terus didorong agar dapat menjangkau masyarakat di berbagai kelompok usia dan sektor. Dengan begitu, persoalan kesehatan jiwa tidak lagi dipandang sebagai masalah yang bisa diabaikan hanya karena gejalanya tidak selalu terlihat secara kasatmata.

Topik Menarik