Rusia Nyatakan Inggris Ikut Perang karena Beri Ukraina Akses untuk Rakit Rudal Storm Shadow

Rusia Nyatakan Inggris Ikut Perang karena Beri Ukraina Akses untuk Rakit Rudal Storm Shadow

Global | sindonews | Selasa, 25 Agustus 2026 - 07:20
share

Rusia telah menyampaikan kemarahannya setelah Inggris mengumumkan akan memmberikan akses informasi teknis rahasia kepada Ukraina untuk merakit rudal jelajah jarak jauh Storm Shadow. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan tindakan itu artinya mengonfirmasi partisipasi London dalam konflik dan secara aktif berupaya memperpanjangnya.

Pemerintah Inggris telah mengizinkan produsen pertahanan Eropa, MBDA, untuk memberikan informasi rahasia mengenai komponen buatan Inggris yang digunakan dalam SCALP, versi produksi Prancis dari rudal Storm Shadow milik Inggris.

Baca Juga: Rusia Diduga Sabotase Pabrik Senjata Negara-negara NATO untuk Uji Nyali Sekutu

Rudal yang diluncurkan dari udara tersebut menggunakan teknologi gabungan Prancis dan Inggris serta memiliki jangkauan lebih dari 250 kilometer.

Langkah tersebut dikonfirmasi Downing Street pada Senin dan oleh Perdana Menteri (PM) Andy Burnham secara langsung dalam kunjungannya ke ibu kota Ukraina, Kyiv, pada hari yang sama.

“Inggris merupakan negara pertama yang memberikan senjata jarak jauh kepada Ukraina pada 2023,” katanya, merujuk pada pengiriman rudal Storm Shadow/SCALP. “Saya dengan senang hati mengonfirmasi hari ini bahwa saya telah menyetujui permintaan Kyiv untuk berbagi teknologi produksi rudal tersebut," imbuh Burnham.

Menanggapi pengumuman itu, Peskov mengatakan Inggris telah berpartisipasi dalam perang ini di pihak rezim Kyiv. "Dan secara metodis dan rutin menambah bahan bakar ke dalam api serta berupaya mencegah perkembangan apa pun dalam proses penyelesaian damai," katanya, seperti dikutip dari Russia Today, Selasa (25/8/2026).

“Angkatan bersenjata kami sedang melakukan pekerjaan yang diperlukan dan memperoleh data yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi lokasi produksi rudal-rudal tersebut serta peralatan militer lainnya, dan mengambil langkah-langkah untuk menghancurkan lokasi-lokasi tersebut,” imbuh Peskov.

London mengatakan keputusan untuk memberikan informasi tersebut akan memungkinkan Prancis dan Ukraina melanjutkan proses perakitan rudal di Ukraina.

“Rakyat Ukraina tidak boleh memiliki keraguan: Inggris berada di belakang Anda hari ini dan selama apa pun yang diperlukan,” kata Burnham menjelang kunjungannya ke ibu kota Ukraina. Di Kyiv, Burnham bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan memimpin pertemuan pertamanya dengan "koalisi negara-negara yang bersedia”, yang dibentuk Inggris dan Prancis di bawah pendahulunya, Keir Starmer.

Moskow selama ini menyatakan bahwa Inggris dan negara-negara pemasok senjata lainnya kepada Kyiv bertanggung jawab langsung atas kampanye serangan jarak jauh Ukraina, yang menurut Rusia kerap menghantam warga sipil.

Menurut laporan Sunday Times, drone yang diproduksi BAE Systems dan perusahaan Inggris lain yang tidak disebutkan namanya telah digunakan untuk menyerang target di Rusia selama enam bulan terakhir, termasuk dua kilang minyak. UAV tersebut dilaporkan mencakup Nyan, drone bertenaga jet yang diproduksi oleh anak perusahaan BAE Systems.

Dalam sebuah pernyataan pekan lalu, Kedutaan Besar Rusia di London menyebut Inggris sebagai “kaki tangan dan pelaku bersama kejahatan berdarah serta serangan teroris” yang dilakukan Ukraina. Kedutaan memperingatkan, “Semakin dalam keterlibatannya dalam konflik dan semakin besar dukungannya terhadap mesin teror Kyiv, semakin tinggi harga yang harus dibayarnya.”

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov memperingatkan bahwa London akan menghadapi konsekuensi jika terus memasok drone yang digunakan Ukraina untuk melakukan serangan jauh ke dalam wilayah Rusia.

“Kami sepenuhnya berhak menganggap keterlibatan langsung pasukan rudal Inggris yang dengan bangga mereka nyatakan dalam serangan terhadap Rusia sebagai partisipasi dalam perang, dengan segala konsekuensi yang ditimbulkannya,” kata Lavrov.

Topik Menarik