Pejabat Israel Bikin Pengakuan Mengejutkan: 'Saya Membuat Berita Palsu'
Pejabat senior komunikasi pemerintah Israel, Eli Hazan, membuat pengakuan mengejutkan. Yakni, dia terang-terangan menyatakan telah membuat hoaks atau berita palsu untuk kepentingan propaganda perang.
Pengakuan Hazan terekam dalam sebuah video yang sekarang viral di media sosial. Klip tersebut telah ditonton lebih dari satu juta kali di X, disertai ribuan unggahan ulang dan komentar.
Baca Juga: Abaikan Kemarahan AS, Israel Kembali Serang Suriah
Dalam rekaman itu, Hazan mengatakan: “Kebenaran tidak lagi penting. Fakta tidak lagi penting.”
Dia kemudian mengakui, “Saya membuat berita palsu sebagai respons terhadap mereka,” sebelum berpendapat bahwa Israel perlu menerapkan strategi komunikasi yang meniru model Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Model Trump yang disebut Hazan sangat erat kaitannya dengan penggunaan berulang klaim palsu atau menyesatkan serta penolakan terhadap pemberitaan yang tidak menguntungkan dengan menyebutnya sebagai “fake news (berita palsu)”. Trump turut memopulerkan istilah tersebut sebagai serangan politik terhadap para pengkritiknya. Istilah yang awalnya terutama digunakan untuk menggambarkan berita yang sengaja direkayasa itu kemudian menjadi bagian penting dari serangan Trump terhadap media selama perjalanan politiknya menuju kekuasaan.Pengabaian Trump terhadap akurasi faktual telah didokumentasikan secara luas oleh lembaga pemeriksa fakta independen. The Washington Post mencatat 30.573 klaim palsu atau menyesatkan selama masa jabatan pertamanya sebagai presiden, atau rata-rata sekitar 21 klaim per hari.
Sementara itu, PolitiFact, setelah memeriksa 1.000 pernyataan Trump hingga Februari 2024, menemukan sekitar 76 persen dari klaim yang mereka pilih untuk diperiksa dinilai “Mostly False [Sebagian Besar Salah], “False [Salah]”, atau “Pants on Fire [Sangat Menyesatkan]", dengan “False” menjadi penilaian median.
Seperti Trump, Hazan juga menggambarkan media sosial sebagai medan pertempuran tempat Israel harus melancarkan “perang” daring melawan pihak-pihak yang menjadi lawannya. Dia menyatakan bahwa dalam perang informasi tersebut, akurasi faktual merupakan hal sekunder.
Hazan merupakan tokoh komunikasi Partai Likud yang telah lama berkecimpung dalam politik Israel. Dia pernah menjabat sebagai direktur urusan luar negeri partai tersebut dan menjadi juru bicara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dia juga pernah menjabat sebagai duta besar Israel untuk Singapura. Media Israel melaporkan tahun ini bahwa Netanyahu berupaya menunjuknya sebagai direktur Government Press Office (GPO), lembaga yang bertanggung jawab atas hubungan antara pemerintah Israel dengan wartawan domestik maupun asing.
GPO sendiri menyebut salah satu tugasnya adalah menjaga hubungan dengan wartawan asing serta menjalankan kegiatan diplomasi publik yang bertujuan meningkatkan citra Israel di media internasional.
Pernyataan Hazan menjadi viral ketika Israel menggelontorkan dana dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk hasbara, yakni perangkat diplomasi publik dan propaganda negara, dalam upaya membalikkan merosotnya dukungan internasional setelah genosida di Gaza.
Jaksa ICC Karim Khan Dicopot dari Jabatannya atas Tuduhan Pelecehan Seksual Bermotif Politik
Anggaran diplomasi publik Israel melonjak menjadi sekitar USD730 juta, lebih dari empat kali lipat dibandingkan USD150 juta yang dialokasikan pada tahun sebelumnya. Anggaran sebelumnya itu sendiri sekitar 20 kali lebih besar dibandingkan pengeluaran Israel untuk operasi semacam itu sebelum 2023. Dana tersebut diarahkan untuk kampanye digital, influencer, delegasi ke luar negeri, organisasi advokasi, serta berbagai inisiatif lain yang bertujuan membentuk kembali opini internasional.
Israel juga dilaporkan membayar influencer media sosial hingga USD7.000 per unggahan untuk mempublikasikan materi pro-Israel. Kontrak lainnya mewajibkan pembuatan ribuan konten media sosial dan menghasilkan puluhan juta tayangan setiap bulan, sementara sejumlah kampanye berupaya memengaruhi hasil pencarian serta lingkungan informasi yang digunakan oleh platform kecerdasan buatan.






