TV Iran Tayangkan Cara Bunuh Anak Presiden Trump, Kepalanya Dihargai Rp177 Miliar
Stasiun televisi pemerintahIran, Channel 3, menyiarkan sayembara berhadiah besar yang menargetkan Barron Trump, anak termuda Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Televisi itu menawarkan hadiah USD10 juta atau lebih dari Rp177 miliar untuk siapa pun yang berhasil membunuh Barron.
"Where and how should we kill Barron Trump? [Di mana dan bagaimana membunuh Barron Trump?]," demikian judul tayangan televisi yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) tersebut, sebagaimana dikutip Euronews, Selasa (25/8/2026).
Baca Juga: Iran Isyaratkan Ubah Doktrin Nuklir setelah Diserang AS
Video tersebut mengeklaim menunjukkan lokasi universitas tempat Barron Trump belajar, kendaraan pengawalnya, serta posisi personel Secret Service yang ditugaskan melindunginya. Video itu juga mengeklaim bahwa pergerakan Barron Trump telah “dipantau sepenuhnya”.
Video itu selanjutnya mengeklaim bahwa “seorang perempuan” telah menemukan cara untuk melewati pengamanan Secret Service, duduk bersama Barron Trump dalam sebuah pertemuan pribadi, dan menyerahkan informasi kepada pembuat program tersebut.Lebih lanjut, video itu mengklaim bahwa Barron Trump berkomunikasi secara pribadi melalui pesan suara dan teks di Xbox, tanpa diketahui atau dijangkau oleh personel pengawalnya. Siaran sayembara itu muncul setelah video serupa dirilis oleh kantor berita Tasnim yang juga berafiliasi dengan IRGC pada Juli lalu. Video yang dirilis Tasnim berjudul: "Where and how is Melania Trump accessible? [Di mana dan bagaimana Melania Trump dapat diakses?”, dan memerinci pergerakan Melania di New York serta dugaan kerentanan dalam sistem pengamanannya.
Pada akhir Mei, The New York Post juga melaporkan dugaan rencana serangan yang menargetkan Ivanka Trump, salah satu putri Trump.
Trump dalam Bidikan Iran
Pada Juli lalu, sebuah papan reklame di Lapangan Revolusi Islam di Teheran menampilkan gambar Trump yang tampak telah meninggal di dalam peti mati, dengan tulisan berbahasa Inggris: “We will kill Trump [Kami akan membunuh Trump].”Trump Ungkap Iran Sedang Bernegosiasi dengan AS, Peringatkan Teheran Tak Boleh Punya Senjata Nuklir
Video lain yang dirilis sebelumnya oleh media Iran memetakan rute iring-iringan kendaraan Trump antara bandara dan rumahnya di Florida serta New York. Secret Service AS mengonfirmasi bahwa mereka sedang meninjau rekaman tersebut.
Pada Januari 2020, serangan pesawat nirawak AS menewaskan komandan Pasukan Quds IRGC, Qassem Soleimani, di Bandara Internasional Baghdad. Operasi tersebut diperintahkan Trump saat menjalani masa jabatan pertamanya sebagai presiden.Pejabat Iran saat itu bersumpah akan membalas kematian Soleimani dan sejak itu berulang kali memperbarui ancaman tersebut.
Pemicu kedua sekaligus yang lebih baru adalah kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan AS-Israel pada 28 Februari, yang menjadi salvo pembuka dalam perang yang masih berlangsung.
Sejumlah tokoh media pemerintah Iran secara terbuka mengaitkan ancaman pribadi terhadap Trump dengan konsep hukum Islam; “qisas”, atau keadilan retributif. Mereka berpendapat bahwa terbunuhnya pemimpin Republik Islam menciptakan kewajiban untuk membunuh orang yang dianggap bertanggung jawab atas kematiannya.
Jaksa ICC Karim Khan Dicopot dari Jabatannya atas Tuduhan Pelecehan Seksual Bermotif Politik
Mohammad-Javad Larijani, seorang komentator di televisi pemerintah Iran, mengatakan bahwa qisas merupakan “hak yang tidak dapat dicabut” bagi Republik Islam. Berbicara mengenai pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kematian Khamenei, dia mengatakan, “Kami akan melakukan apa pun yang berada dalam kekuasaan kami, dan tidak ada hambatan hukum internasional yang dapat menghentikan kami.”
“Jika kami tidak melaksanakan qisas terhadap Trump, jika kami tidak menghukum pembunuh pemimpin kami, pemimpin saat ini dan para pemimpin Republik Islam akan selalu harus hidup dalam persembunyian,” kata Mohsen Ghanbarian, komentator lain yang rutin tampil di televisi pemerintah Iran.
Trump telah memperingatkan bahwa setiap upaya untuk membunuh dirinya akan memicu respons keras dari Amerika Serikat. Pada 20 Januari, dia mengatakan bahwa jika ada upaya untuk membunuhnya, “seluruh negara Iran akan meledak”, dan bahwa dia telah mengeluarkan perintah yang memastikan AS akan “menghapus Republik Islam dari muka Bumi” jika ancaman tersebut diwujudkan.






